<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita seks &#124; Cerita Panas</title>
	<atom:link href="http://ceritaseks.ngocok.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritaseks.ngocok.info</link>
	<description>Kumpulan cerita panas, cerita dewasa, cerita 17 tahun keatas, cerita seks terlengkap</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Feb 2010 02:43:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Birahi Seorang Gadis</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/birahi-seorang-gadis/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/birahi-seorang-gadis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 02:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[gadis belia]]></category>
		<category><![CDATA[gadis telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[seks abg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Cerita seks. Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita seks. Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.</p>
<p>Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.</p>
<p>Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya. &#8220;Jangan menjerit!&#8221;, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. &#8220;Jangan takut, nanti kuberi uang&#8221;, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">gadis</a> itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.</p>
<p>Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. &#8220;Pak, Pak jangan&#8230;!&#8221;, Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.</p>
<p>Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. &#8220;Pak, mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh&#8230;, sshh..&#8221;.</p>
<p>Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.</p>
<p>&#8220;Pak, Saya.., takuut&#8221;, Suara Marina mendesah lembut.<br />
&#8220;Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..&#8221;, dengan napas memburu.<br />
&#8220;Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..&#8221;.<br />
&#8220;aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur&#8221;.</p>
<p>Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu. &#8220;Kue apemmu hebat sekali&#8221;, bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu. Marina yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.</p>
<p>Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu. &#8220;Sssssh&#8230;, mmh&#8230;, sssh&#8230;, aakh..&#8221;, Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata, &#8220;Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!&#8221;. Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.<br />
&#8220;Bagaimana Mar?&#8221;, tanya Daud.<br />
&#8220;Enaakh&#8230;, Paak!&#8221;, Jawab Marina.</p>
<p>Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.<br />
&#8220;Kenapa Marina? Sakit?&#8221;, tanya Daud di sela kesibukannya.<br />
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.</p>
<p>&#8220;aakh&#8230;, uuggh&#8230;, Paakk..&#8221;, Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.<br />
&#8220;Sungguh nikmat air manimu Mar&#8221;, bisik Daud mesra di telinga Marina. Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.</p>
<p>&#8220;Paak, oukh.., akh&#8230;, aakh&#8230;, ooough&#8230;, sakit Pak..&#8221;, Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.<br />
&#8220;Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!&#8221;, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.<br />
&#8220;Eeegh&#8230;, yaa&#8230;, aakkhh&#8230;, oough..&#8221;, jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.<br />
&#8220;Teee&#8230;, russ&#8230;, Paak&#8230;, eeggh&#8230;, nikmat&#8230;, ooough..!&#8221;, erang Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, &#8220;Ouuuughh&#8230;, sa.., saya&#8230;, mmaau&#8230;, keluar.., Paak..&#8221;.<br />
&#8220;Tahan&#8230;, sebentar&#8230;, sayang&#8230;, ooouggh..&#8221;.</p>
<p>Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. &#8220;aaGhh&#8230;&#8221;, jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, &#8220;Eeegghh&#8230;, Ooouugh..&#8221;. &#8220;Creeeet&#8230;, creeet&#8230;, creeeeeeeet..&#8221;. Mengalirlah air mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Marina.<br />
Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayah tiri Marina.</p>
<p>Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.</p>
<p>&#8220;Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?&#8221;, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.<br />
&#8220;Belum Om&#8221;, jawab Ria dengan malu-malu.<br />
&#8220;Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?&#8221;, tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.<br />
&#8220;Merasakan apa, Om?&#8221;, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.<br />
&#8220;Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu&#8221;, jawab Om Jalil dengan terus terang.<br />
&#8220;Saya, saya baru merasakannya sekali Om&#8221;, jawab Ria sambil menunduk.<br />
&#8220;Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?&#8221;, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.</p>
<p>&#8220;Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?&#8221;, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.<br />
&#8220;Dua kali, Om&#8221;, jawabnya singkat.<br />
&#8220;Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman&#8221;. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.<br />
&#8220;Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian&#8221;, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.<br />
&#8220;Bagaimana caranya Om?&#8221;.<br />
&#8220;Dengan mencobanya langsung&#8221;, jawabnya tegas.<br />
&#8220;Mencoba langsung, di mana Om?&#8221;.<br />
&#8220;Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur&#8221;.<br />
&#8220;Tetapi..&#8221;.<br />
&#8220;Tenang saja biar Om yang mengaturnya&#8221;, potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">telanjang</a> menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.</p>
<p>Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Marina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marina mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya. &#8220;mmhh&#8230;&#8221;, desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.</p>
<p>Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. Sementara Marina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. &#8220;Pindahlah kamu ke bangku itu!&#8221; perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.</p>
<p>Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria. &#8220;Ssssshh&#8230;, aahh..&#8221;, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.</p>
<p>Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga, &#8220;Blueess&#8230;&#8221;. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria. Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.<br />
&#8220;Ouuugh&#8230;, eeeghh&#8230;, te..ruuus.., ooom&#8230;, jaa..ngan&#8230;, berhenti.&#8221;, desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., &#8220;Aah&#8230;, ahh&#8230;, essst&#8230;, esssst..&#8221;, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.<br />
&#8220;Ouuugh&#8230;, eessstt&#8230;, eeengh&#8230;, aakh&#8230;, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi&#8230;, om..&#8221;, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.<br />
&#8220;Tung..guu.., sayang&#8230;, aakku&#8230;, juuggaa&#8230;, mmau.., ngecret..!&#8221;, ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.<br />
&#8220;aakuuu&#8230;, kee..keeluar.., Ooom..&#8221;.<br />
&#8220;Akuuu&#8230;, juuggaa&#8230;, aaghh..&#8221;, dan, &#8220;Creeet.., creeet.., crettt.&#8221;, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Ria yang seperti <a href="http://cerita.modelperawan.com">perawan</a>.</p>
<p>Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marina merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.</p>
<p>Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.<br />
&#8220;Kau menginginkannya?&#8221;.<br />
&#8220;I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu&#8221;, jawab Marina dikuasai oleh nafsunya. Lalu Om Jalil memegang bahu Marina lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.</p>
<p>Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak. Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.<br />
&#8220;Ooouugh&#8230;, Ooomm&#8230;, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku&#8230;, dah ti..daak.., taahhan&#8230;, lagi..!&#8221;.</p>
<p>Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, &#8220;Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku&#8221;, suruh Om Jalil pada Marina. Marina mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, &#8220;Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!&#8221;, ajar Om Jalil pada Marina. Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, &#8220;Kini genggamlah burungku!&#8221;. Marina menggenggam penis Om Jalil. &#8220;Arahkan ke lubang memekmu!&#8221;, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun. &#8220;Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!&#8221;.</p>
<p>Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga&#8230;, &#8220;Sleeep&#8230;.&#8221;, Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Marina mendesah kenikmatan, &#8220;Oough&#8230;&#8221;. Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, &#8220;Yaakh&#8230;, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!&#8221;, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marina yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p>Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.</p>
<p>Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.<br />
&#8220;Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!&#8221;.<br />
&#8220;Eest.., baikh.., Om..&#8221;, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina dengan menaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.</p>
<p>&#8220;Eeeghh&#8230;, niikhmat&#8230;, sekhali&#8230;, Om..&#8221;<br />
&#8220;Yaakh&#8230;, memang.., nikhmat memekmu ini Mar&#8230;, oouggh..&#8221;.<br />
&#8220;Ooomm&#8230;, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..&#8221; pinta Marina, sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu. Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.</p>
<p>&#8220;Oooooogh&#8230;, oough&#8230;, akhh&#8230;, ahh&#8230;&#8221;, desahan Marina menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, &#8220;Eeeeest&#8230;, Ooough&#8230;, lebihh&#8230;, ceepat lagi&#8230;, Sayaang.., aku maau keeeluaar..!&#8221;.<br />
&#8220;Yaakhh&#8230;, aku&#8230;, juga..,. sudahh&#8230;, tidak.., taahaan.., laagi&#8230;, Ooooomm&#8221;.<br />
Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga, &#8220;Ooough&#8230;, Akuu&#8230;, keluaar&#8230;, sayang..&#8221;<br />
&#8220;Akhuu.., aakhh&#8230;&#8221;.<br />
&#8220;Creeet.., creet.., creettt..&#8221;, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/birahi-seorang-gadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Gadis SMU</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/seks-gadis-smu/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/seks-gadis-smu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 02:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[cewek smu]]></category>
		<category><![CDATA[gadis smu]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan cewek smu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya cerita seks update lagi, berikut adalah cerita seks gadis SMU, Rere sedang terduduk di kursi malas sambil membaca-baca tabloid gossip seputar selebritis. Nana Mirdad sekarang sedang hamil tua. Kok secepat itu ya? Apakah memang dia betul-betul MBA (married by accident) seperti yang orang-orang gosipin?. Rere terus membalik-balikkan lembaran demi lembaran tabloid ketika seseorang membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya <strong>cerita seks</strong> update lagi, berikut adalah cerita seks gadis SMU, Rere sedang terduduk di kursi malas sambil membaca-baca tabloid gossip seputar selebritis. Nana Mirdad sekarang sedang hamil tua. Kok secepat itu ya? Apakah memang dia betul-betul MBA (married by accident) seperti yang orang-orang gosipin?. Rere terus membalik-balikkan lembaran demi lembaran tabloid ketika seseorang membuka pintu, dilihatnya Ben menghambur masuk ke kamarnya. Sosok laki-laki tampan, tinggi dan putih tetapi sangat di Benci Rere, kenapa ada disini? Kenapa dia bisa masuk ke kamarnya sementara mama-papanya saja harus mengetuk dahulu dan meminta ijinnya sebelum masuk ke kamarnya.</p>
<p>“Hallo sayang&#8230;” Ben menyapanya sambil mengecup keningnya. “Kamu dah makan belum?” Seolah tanpa salah, Rere mengelak kecupan di keningnya itu.</p>
<p>“Ngapain Lo ke sini?!&#8230; Ngapain Lo ke kamar gue!!&#8230; PERGI LO!!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!!&#8230; PERGIIIIIIIII!!!” Teriak Rere kasar. Dia masih ingat ketika Ben dan ketiga kawannya memperkosanya beramai-ramai di sekolah.<br />
“Kamu ngomong apa sih sayang???? Ini kan kamar kita berdua, jadi ini kamar aku juga” Jawab Ben kelihatan khawatir dengan sikap Rere.<br />
“JANGAN MIMPI LO!!!! PERGI LO SANA!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!” teriak Rere histeris.<br />
“Kamu kenapa sih Re?? Ini aku Ben&#8230; Suami kamu&#8230; Kamu kenapa? Kamu demam ya?“ Ben berusaha meraba kening Rere, tetapi Rere dengan cepat mengelak.<br />
“APA?! SUAMI?! CUIH! MANA BISA LO JADI SUAMI GUE!!! SAMPE MATI GUE GAK MAU JADI ISTRI LO!! JANGAN MIMPI LO!!” masih dengan nada tinggi, Rere seakan mendengar suaranya melengking saking marahnya.<br />
“Re, kamu ngomong apa? Jangan gitu!! Ingat kamu lagi hamil tua&#8230; itu anak kita&#8230; anak aku, suami kamu&#8230;“ Ben berusaha menjelaskan dan menenangkan Rere. Tetapi setelah mendengar perkataan Ben, Rere bukannya tenang melainkan bingung. Suami? Hamil? Anak?? Spontan dia melihat ke bawah. Dilihatnya gelembung besar di daerah perutnya. Rere meraba perutnya. Memang dia sedang hamil. Hamil besar. Apakah ini hasil dari pemerkosaan waktu itu? Dia tidak mau anak ini. Lalu dengan keras dia memukul perutnya, mencoba membunuh mahluk hidup yang ada di dalamnya. Rere kesakitan. Sakit tepat ketika dia memukul perutnya. Sekejap kemudian dia terbangun dari kursi malasnya.</p>
<p>Alih-alih kursi malas, ternyata Rere masih tergeletak di suatu ruangan. Rupanya dia tadi bermimpi. Dilihat sekelilingnya gelap gulita, didapati dirinya masih telanjang bulat. Perutnya sakit akibat pukulan tanpa sadar di mimpinya sendiri. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Rere berusaha memfokuskan pandangannya yang buram. Dia meraba sesuatu di sebelahnya. Dilihatnya samar-samar, itu Albie. Rere terkejut ketika melihat Albie pun tertidur telanjang bulat seperti dirinya. Rere melihat sekelilingnya. Sepertinya dia kenal ruangan ini. Rere bangkit berdiri. Tetapi tiba-tiba kakinya sakit luar biasa. Sekujur tubuhnya sakit. Selangkangannya terasa perih dan panas.</p>
<p>Akhirnya Rere ingat. Dia masih diruangan BP sekolahnya. Kembali dia tersadar atas apa yang baru saja menimpanya. Tertatih-tatih Rere berjalan sambil mencoba meraba ke tembok-tembok berusaha meraih electricity outlet untuk menghidupkan lampu atau mencari penerangan. Ditemukan electricity outlet dan dihidupkan lampu. Ketika ruangan sudah terang, dilihatnya ruangan itu, masih segar dalam ingatannya ketika Albie merenggut keperawanannya di sofa sana , juga ketika Ben, Dave, Sam dan Zack yang menyetubuhinya beramai-ramai. Dan Rere juga teringat karena merekalah dia jatuh pingsan. Dilihatnya jam yang ada di tangannya. “Jam 9 malam&#8230;” katanya dalam hati. Pasti mama sudah mencari-carinya. Mungkin sudah menelepon ke HPnya untuk menyuruh pulang.</p>
<p>Rere tidak ingat dimana tasnya, dimana semua barang-barang bawaannya. “dingin&#8230;” Rere berseru pelan kepada dirinya sendiri. Rere berusaha mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Tetapi setelah dia sadar bahwa tidak ada sehelai Benang pun untuk menutupi keterlanjangannya, Rere pun merosot terduduk. Jongkok sambil memeluk kakinya. Membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang masih sakit, terisak-isak menangis.</p>
<p>Rere tak tahu sudah berapa lama dia tersedu-sedu ketika didengarnya disudut ruangan Albie mengerang pelan. Rupanya Albie sudah sadarkan diri. Rere melihat Albie memegangi kepalanya yang beberapa jam lalu dihantam keras oleh Sam sampai dia jatuh pingsan. Beberapa saat kemudian Albie pun menyadari sesenggukan Rere di tempat Rere membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Albie bangkit berdiri dan menghampiri Rere.</p>
<p>“Re&#8230; kamu masih disini? Aku pikir kamu udah dibawa mereka&#8230; Kamu gak apa-apa kan?” Albie membelai rambut Rere yang sudah awut-awutan itu.<br />
“Apanya yang gak apa-apa Bie??“ seru Rere sambil menangis. “Kamu udah liat apa yang terjadi!!“<br />
“Sorry Re, aku gak tahu&#8230; si bangsat itu mukul aku dari belakang&#8230; Apa yang terjadi Re??“ tanya Albie sambil terus membelai rambut Rere, berusaha menenangkan suaranya meskipun dia bisa menebak apa yang akan dijawab Rere.<br />
“AKU DIPERKOSA BIE!!!!“ Rere menepis tangan Albie dari kepalanya. “ABIS KAMU PINGSAN AKU DIPERKOSA RAME-RAME SAMA MEREKA!!“ teriak Rere histeris, seolah itu adalah kesalahan Albie. “MEREKA MENGGILIR AKU BIE!! MEREKA MAKE AKU RAME-RAME&#8230; DI SANA! MEREKA BUANG DI DALAM PERUT AKU BIE!!“ sambil menunjuk sofa tempat perbuatan maksiat itu terjadi. Albie pun tahu, ketika melihat tempat yang ditunjuk Rere, dilihatnya darah kering tercetak di cover sofa itu. Albie sadar itu adalah darah perawan Rere yang sudah diteguknya.</p>
<p>“Ok Re, aku minta maaf&#8230; aku terpaksa&#8230; aku dipaksa mereka&#8230;“ Albie seolah kehabisan kata-kata, menyadari kesalahan itu pantas dibebankan kepada dirinya. Bingung harus berbuat apa-apa, Albie pun memeluk erat Rere yang masih terduduk di lantai.<br />
“seperti kata-kataku tadi, aku mau tanggung jawab Re, aku gak akan meninggalkan kamu.. Aku akan terus berada disisi kamu&#8230; Swear! Aku janji&#8230; Aku akan terus menyayangi kamu apa adanya&#8230;“<br />
“Aku&#8230;aku takut Bie&#8230; Aku takut&#8230;“ Rere membalas pelukan Albie, dia menggigil hebat. Menggigil kedinginan atau ketakutan? Albie tidak bisa mengenalinya. Sekejap kemudian Albie beranjak dari pelukan Rere, mencoba mencari pakaiannya, tapi tidak ditemukannya.</p>
<p>Rupanya Albie tidak kehilangan akal. Dia segera menuju meja di dalam ruangan itu. Membuka lacinya dan merogoh-rogoh mencari sesuatu. Rere melihat Albie mengeluarkan gunting besar dari laci itu. Lalu Albie berjalan menuju Sofa panjang. Diguntingnya sofa tersebut mencoba mengambil kulit penutupnya. Setelah itu di gunting menjadi dua. Salah satu dari kain bahan sofa itu diselimutkan ke Rere, dan yang lainnya dililitkan ke tubuhnya menutupi setengah bagian bawah tubuh Albie.<br />
“kamu mau ke mana Bie?“ Tanya Rere ketika dilihatnya Albie memegang daun pintu dan membukanya.<br />
“Aku mau cari sesuatu buat kamu pakai Re, biar kita pergi dari tempat ini&#8230;mungkin di ruang laboratorium ada seragam workshop&#8230;“ jelas Albie.<br />
“laboratorium pasti udah dikunci Bie&#8230; Di mobil ku ada baju serep&#8230; tapi aku gak tau kuncinya ada di mana&#8230;” Rere berfikir keras dimana dia meninggalkan tas sekolahnya. Apa masih di dalam kelas? Tidak mungkin! Tadi ketika dia keluar dari kelas, dia sudah menjinjing tas sekolahnya. Juga ketika dia ijin kepada Ika untuk ke toilet, dia juga masih bawa tas sekolahnya itu.</p>
<p>Tiba-tiba Rere ingat, Ben membuang tas sekolahnya ketika dia berusaha meraih Hpnya.<br />
“Toilet perempuan&#8230; Bie, tas aku ada di toilet anak perempuan&#8230;”<br />
“OK Re, aku ambilin. Kamu tunggu di sini&#8230;”<br />
“Enggak Bie, aku takut&#8230; aku ikut kamu aja&#8230; aku gak mau ditinggal sendiri&#8230;“</p>
<p>Albie pun melilitkan kain bahan sofa ke tubuh Rere. Ketika Rere mengangkat tubuhnya sendiri untuk mencoba berdiri, Albie melihat buah dada Rere yang ranum dan putih menggantung indah. Dan ketika Rere berusaha berdiri dan tertatih menahan berat tubuhnya dengan satu kakinya yang masih sehat, buah dada itu bergoyang-goyang dengan indahnya, membuat darah Albie berdesir, berputar di otaknya turun ke bawah menghantarkan darah hangat ke selangkangannya. Albie berusaha untuk tetap berkonsentrasi menguatkan akal sehatnya. Tetapi ketika Rere berdiri, dia juga melihat kemaluan Rere yang terpampang dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya membuatnya tidak bisa menahan ereksinya.<br />
“Ayo Re, aku bantuin jalan&#8230;“ tawar Albie mengalihkan perhatiannya.</p>
<p>Mereka berjalan dalam kegelapan gedung sekolah menuju ke lantai dua tempat toilet perempuan dimana Rere meninggalkan tas sekolahnya. Pikiran Albie terus melayang kepada pandangannya beberapa menit lalu. Tubuh telanjang Rere yang indah terus menari-nari didalam pikirannya sementara dia membopong Rere menaiki tangga. Tiba di toilet perempuan mereka langsung mendapatkan tas sekolah Rere yang tergeletak berantakan di ujung sudut pojok koridor. Langsung saja Rere meraih tasnya sendiri dan mereka bergegas ke pelataran parkiran sekolah.</p>
<p>Rere langsung membuka kunci mobilnya dan berjalan untuk membuka pintu belakang. Albie membantunya masuk ke back seat mobil. Memang menurut Albie Honda Jazz Rere seperti ’mobilku, rumahku’ dimana bangku belakangnya sangat berantakan. Baju Rere berserakan dimana-mana, tetapi anehnya hal itu tidak di anggap ’messy’ oleh Albie. Malah, ada perasaan aneh terlintas dipikiran Albie. Celana pendek, baju you can see, tanktop bahkan Bra Rere pun tergeletak sembarangan di bangku belakang. Boneka bantal Winnie The Pooh besar menghiasi bangku belakangnya. Hal ini membuat Albie merasa seperti berada di ’kamar’ Rere. Sekejap saja, hal ini membuat darah Albie kembali berdesir apalagi melihat kekasihnya setengah telanjang terbaring lemah tak berdaya dengan bercucuran keringat dan sedikit bekas darah di pinggir bibirnya.</p>
<p>Albie mengambil tissue yang terletak di dashboard mobil dan air mineral di botol yang ada di bangku depan. Di basahkannya tissue itu dengan air sebelum Albie membasuh wajah Rere.<br />
“Aku bersihin dulu Re, baru kamu pake bajunya&#8230; biar seger dikit&#8230;“ Albie mengelap wajah Rere, membersihkan sisa darah yang mengering, kening dan lehernya pun di basuh. Tetapi ketika Albie membasuh leher Rere yang jenjang, putih dan mulus itu, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengecupnya. Tanpa sadar Albie mendekatkan bibirnya ke leher Rere, memberikan kecupan lembut di sana. Rere sedikit terkejut. Refleks Rere mengelak dan mencoba menghindar. Hal ini membuat lilitan bahan sofa yang ada di tubuhnya mengendur dan terbuka.</p>
<p>Waktu seperti terhenti, kurang lebih semenit mereka hanya berpandangan. Dengan dada yang terbuka, Albie bisa melihat dengan jelas tanpa gangguan keempat orang beberapa saat lalu bahwa buah dada Rere sungguhlah indah dan ranum. Bra ukuran 34 B yang beberapa jam yang lalu menopangnya, sekarang tidak tahu ada di mana. Kencang dan sangat merangsang. Menantang orang yang melihatnya untuk menjamahnya atau paling sedikit menyentuhnya. Albie ingin sekali menyentuhnya lagi, menciuminya lagi. Hasratnya menunjukkan untuk mendekatkan wajahnya ke buah dada Rere, tetapi hatinya mengatakan bahwa Albie seharusnya memulai dari atas dulu.</p>
<p>Perlahan tetapi pasti Albie mendekatkan wajahnya ke wajah Rere, memiringkan mukanya sedikit ke kanan dan entah perasaannya atau bukan, dilihatnya Rere juga memiringkan wajahnya ke arah sebaliknya mendekatkan wajahnya ke wajah Albie.</p>
<p>Bibir mereka bertemu, saling melumat satu sama lain. Sekarang Rere membuka bibirnya, Albie tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan lembut dia menyapu dinding-dinding rongga mulut Rere dengan lidahnya. Mecoba melilitkan lidahnya dengan lidah Rere.</p>
<p>Di lain pihak, Rere merasa ciuman ini adalah ciuman rasa terima kasihnya ke Albie karena sudah menolongnya. Rere berpikir sekarang dia sudah aman dan bisa pulang. Atau memang dia menginginkan ciuman itu? Tetapi Rere Benar-Benar sadar ketika dia mengalungkan lengannya melingkar di leher Albie. Menikmati pagutan mesra di bibirnya. Albie pun sekarang memulai mengaktifkan tangannya. Di peluk mesra gadis di depannya itu. Dibukanya lilitan bahan sofa dari tubuh Rere yang membuat Rere sekarang kembali telanjang bulat. Tanpa melihat dan sambil berciuman, Albie meremas kedua buah dada Rere. Dia semakin bersemangat dan terangsang ketika didengarnya Rere mendesah pelan dan bernafas berat di wajahnya.</p>
<p>Ciuman berpindah dari bibir turun ke leher. Albie merasa tanpa perlawanan Rere yang berarti menjelaskan bahwa Rere pun menikmatinya. Kembali Albie mencoba turun lebih ke bawah lagi. Kali ini remasan di dada Rere berubah menjadi jilatan dan gigitan kecil yang merangsang Rere menjadi tinggi. Rere memejamkan matanya. Tangannya meremas rambut Albie yang ada di dadanya. Merasa puas menggumuli buah dada Rere, dengan hati-hati Albie merebahkan Rere di bangku. Winnie The pooh sekarang berubah menjadi bantal, menahan baringan tubuh Rere di atasnya. Albie turun lebih ke bawah lagi menuju selangkangan Rere. Menjilat dan menekan-nekan tonjolan kecil di sana. Rere terkejut hebat dan menggelinjang tetapi di saat yang sama dia merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya. “Aaacchhhhh&#8230; Bie&#8230;“ racau Rere terangsang berat. Cairan Bening kental mulai keluar dari lubang kemaluan Rere. Albie terus menjalankan jurusnya di selangkangan Rere. Jilatan di segitiga Rere sekarang berubah menjadi hisapan kecil. Masing-masing hisapan Albie di kemaluannya membuat Rere tak bisa menahan rangsangan yang bergejolak di tubuhnya.<br />
“Aaaaccchhhhhhhhhhh&#8230; Bie&#8230; masukin Bie&#8230; Aku udah gak tahan&#8230;“ Rere heran mendengar dirinya berkata seperti itu. Tetapi itu bukan dirinya yang bicara. Tetapi perasaan hawa nafsu di luar kendali Rere. Albie pun mengambil posisi. Seakan lupa dengan luka di sekujur tubuhnya dan sakit di perutnya, Rere membuka kakinya memberikan posisi mudah Albie untuk berpenetrasi di dalam rongga kewanitaannya.</p>
<p>Peluh keringat menetes di dada Rere ketika jatuh dari dahi Albie saat dia berusaha menaikinya. Kembali mereka berciuman mesra sambil berpelukan seolah badan mereka serasa ingin menyatu. Albie menuntun batang kemaluannya di mulut kemaluan kekasihnya. Menusuk pelan-pelan agar sensasi yang didapatkannya dapat dinikmatinya. Jepitan demi jepitan di setiap inci batangnya sungguh terasa luar biasa. Permainan kali ini betul-betul lepas buat Albie. Respons luar biasa dari Rere pun membuatnya terangsang lebih tinggi.</p>
<p>Habis tertelan kemaluan Rere, Albie mulai menggenjotnya naik turun. Seperti tanpa lelah, ritme kali ini betul-betul teratur. Perlahan tapi pasti, dorongan-dorongan dikemaluan Rere semakin cepat dan sensasional. Rere hampir menggigit bibir Albie yang menempel di bibirnya. Pelukannya semakin kencang seakan tak mau menyudahi kejadian ini. Tak lama kemudian Rere merasakan otot pada batang yang ada di dalam kemaluannya semakin kencang dan berdenyut keras. Tak berapa lama kemudian, Albie menyemprotkan spermanya, dia berejakulasi di dalam kemaluan Rere. Sengaja tertanam lebih dalam, Albie membiarkan batangnya tertelan beberapa saat sampai batang itu mengecil dengan sendirinya. Menyudahi dengan mengecup kening Rere, Albie mencabut kemaluannya di ikuti aliran spermanya yang mengalir keluar dari kewanitaan Rere.</p>
<p>“Re&#8230;” Albie tak tahu harus bicara apa, “Makasih ya&#8230;”<br />
Rere pun hanya diam saja. Bahkan ketika dia memakai celana pendek dan memungut baju ’serep’ dari jok mobilnya, dia diam seribu bahasa saat memakainya. Albie tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tetapi dengan mantap dia kembali melilitkan bahan sofa yang tadi terlepas ke bagian bawah tubuhnya.<br />
“Kamu tunggu sini ya&#8230; Aku mau cari kunci gerbang dulu. Mungkin aku bisa cari di tempat pak somad&#8230;“ Kembali Rere diam seribu bahasa, tetapi dia menganggukan kepalanya tanda setuju.</p>
<p>Albie pun keluar dan berlari kecil menuju belakang sekolah. Rere terus melihatnya sampai Albie menghilang tertelan gelapnya gedung sekolah.</p>
<p>Tidak sampai 10 menit berlalu Albie kembali dengan mimik lega. Sepertinya dia berhasil menemukan kunci yang dimaksud. Tidak langsung menghampiri Rere, Albie menuju gerbang sekolah, membiarkannya terbuka lebar dan menghampiri Rere.<br />
“Ayo kita ke pergi dari sini&#8230;” Katanya sambil membopong Rere pindah ke bangku depan mobil. Rere pun mengangguk kuat seakan kata-kata itulah yang ditunggunya sejak bel pulang sekolah berbunyi.. Albie menstater mobil dan meluncurkannya keluar dari pelataran sekolah menuju keramaian di luar sana.</p>
<p>“Kita ke dokter dulu ya Re&#8230; kamu harus periksa luka kamu&#8230;“Albie menyarankan. “Apanya yang sakit?” tanya Albie kembali.<br />
“Tadi perut aku sakit banget, but it’s ok now tapi My leg is killing me right now&#8230; gak tau, mungkin patah atau apa&#8230; hidung aku juga gak jelas patah ato enggak&#8230;” jawab Rere. Hal ini melegakan Albie. Menandakan dengan menjawab itu berarti Rere sudah tenang dan tidak marah kepadanya.<br />
“Kok kamu bisa datang ke sini??“ Tanya Rere tiba-tiba ditengah-tengah perjalanan mereka.<br />
“Aku emang belum niat pulang&#8230; suntuk banget abisnya. Tadi pulang sekolah aku sengaja tunggu kamu di kios samping sekolah. Aku masih liat mobil kamu di parkiran&#8230; jadi aku tungguin aja sambil ngobrol sama si Gondrong yang jaga kios&#8230;“<br />
“Trus, kok bisa masuk ke dalam kan ke kunci&#8230;?“ selidik Rere tiba-tiba.<br />
“aku manjat tembok&#8230;Aku emang niat belum pulang dulu sebelum liat kamu pulang trus selamat sampe rumah. Aku pikir kamu ada tugas penting di sekolah sampe lama belum pulang. Kirain juga kamu lagi ngerjain apa di Lab biologi ato di lab komputer gitu&#8230;“ “Sampe aku denger ada yang gedor-gedor gerbang trus denger kamu teriak minta tolong&#8230;“ “si Gondrong bilang itu cuma halusinasi aku aja karena aku kelewat khawatir and tergila-gila ama kamu&#8230;“ jadi aku ngecek sendiri ke sekolah, aku liat kamu udah mulai di tindihin sama si bangsat itu&#8230; jadi otak udah gak mikir panjang langsung aku manjat tembok&#8230;“ Gerutu Albie ketika mengingat bagaimana gadis impiannya di perlakukan oleh Ben dan teman-temannya.</p>
<p>Rere sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sungguh takjub mendengar bahwa Albie setiap hari selalu memastikannya selamat sampai rumah sebelum dia sendiri pulang ke rumahnya. Entah apa yang akan terjadi kalau Ben tidak datang pada saat itu. Mengulur waktu sebelum Ben dan kawan-kawan memperoksanya? Toh akhirnya dia juga diperoksa beramai-ramai. Tetapi setidaknya dia memberikan sesuatu yang berharga miliknya kepada orang yang disayanginya. Dan perasaan lega ketika dia mengetahui bahwa bukan Albie yang menjebaknya. Tetapi siapa? Ika? Tetapi kenapa Ika bisa setega itu? Salah apa dia sama Ika?</p>
<p>Sesaat dia memikirkan bagaimana persahabatannya dengan Lola. Mungkin sekarang saatnya dia mengesampingkan persahabatan dan mulai mengutamakan perasaan hatinya. Mungkinkah?</p>
<p>A little preview:<br />
Biodata Rere:<br />
Full Name : Renata Bargen<br />
Nick name : Rere<br />
Nama Ayah : Andy Bargen<br />
Nama Ibu : Kinanti<br />
Nama sahabat : Lola<br />
Umur : 16 tahun<br />
Tinggi / berat : 168 cm / 50 kg<br />
Ukuran Bra : 34 B<br />
Hobby : Hanging out, music, movie (any things involved in entertainment).<br />
Ciri-ciri : Rambut lurus panjang di bawah bahu (toning burgundy mengikuti fash)<br />
Hidung mancung mungil (mixed ibu dan ayah), mata bulat sedikit besar, bibir mungil berisi, kulit putih mulus terurus. (gorgeous)</p>
<p>Rere dijebak temannya Ika sehingga dia perkosa oleh empat pemuda berseragam putih abu-abu (tidak tahu dari sekolah mana) Ben, Zack, Sam dan Dave. Dengan segala perlawanannya, Rere berusaha untuk menyelamatkan diri sehingga menyebabkan beberapa luka di sekujur tubuhnya.<br />
Albie laki-laki yang disukainya ternyata juga disukai sahabatnya. Datang menolong pada saat Rere betul-betul tidak berkutik lagi. Tetapi akhirnya pemerkosaan terus berlangsung dengan Albie memetik keperawanan Rere lebih dahulu.</p>
<p>“Pak Somad masih pingsan&#8230; tapi aku pikir besok dia udah sadar&#8230;“ kata Albie tiba-tiba membuyarkan lamunan Rere.<br />
“Ooo&#8230;“ seru Rere sekenanya, dia jadi teringat bahwa pak Somad memang tak sadarkan diri ketika dia meminta pertolongannya.</p>
<p>Honda Jazz Rere meluncur ke kawasan perumahan di daerah Bintaro. Rere tahu itu adalah jalan menuju rumah Albie. Tiba di sana Albie memarkirkan mobilnya di depan rumah.<br />
“kamu tunggu sini ya Re, aku ganti baju dulu“ katanya sambil melirik sepotong bahan yang melilit di pinggangnya. “Abis itu aku anterin kamu ke dokter&#8230;” Rere mengangguk pelan dan Albie pun langsung keluar dari mobil masuk ke rumahnya. Rere memperhatikan kompleks di perumahan tersebut memang sangat sunyi. Dia tahu Albie memang tinggal sendiri di rumahnya, seorang anak tunggal yang ditinggal kerja kedua orangtuanya di luar kota. Rumah Albie besar, tetapi sedikit tak terurus. Banyak rumput liar tumbuh lebih panjang di sekitar halaman depan rumahnya. 3 menit kemudian Albie muncul dari dalam rumah mengenakan pakaian lengkap. Jeans biru dan kaus denim warna merah ditutupi jacket jeans berwarna cream.</p>
<p>Mereka pun langsung meluncur kembali ke jalan besar. Albie membelokkan mobil tepat ketika Rere melihat gedung sedang yang berplang tertulis ’klinik 24 jam’.<br />
“Cuma sedikit memar di pelipis dan bibir robek sedikit&#8230;“ demikian kata dokter jaga yang memeriksa Rere di klinik tersebut. “Ini tulang kering sepertinya tidak patah, cuma sedikit retak saja&#8230; ringanlah, tapi kamu harus istirahat dan pakai gibs sampai kurang lebih 1 seminggu&#8230; gimana? kok bisa jatuh sih? Kecelakaan di mana?“ selidik dokter.<br />
“Cuma jatuh dari tangga aja kok dok, saya kepeleset abis tangganya licin&#8230;“ Rere berbohong kepada dokter, rupanya dia dan Albie sepakat untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Ada nada lega di setiap kata-kata Rere, mengetahui bahwa dia tidak mengalami patah tulang. Bagaimana nantinya kalau tulangnya patah nanti&#8230;</p>
<p>Setelah menyelesaikan segala sesuatu di klinik, Albie mengantar Rere pulang ke rumahnya. Rere juga berencana untuk membohongi orangtuanya dengan cerita yang sama yang diceritakan ke dokter. Dan Albie pun langsung mengemudikan mobil Rere menuju ke rumah sang pemilik.</p>
<p>***</p>
<p>Seminggu setelah kejadian yang menyedihkan itu, Rere akhirnya kembali masuk sekolah. Desas-desus di sekolah selama Rere istirahat di rumah mengatakan bahwa (dari versi pak Somad) ada sekawanan pelajar dari sekolah lain yang menyerbu sekolah. Mereka (masih versi pak Somad) rupanya rival dari sekolah ini, mau menghancurkan sekolah dengan mengacaukan ruangan sekolah. Merusak apa saja yang mereka lihat dan karena hanya salah satu ruang kelas saja yang terbuka dan juga ruang BP yang kebetulan pada saat itu tidak terkunci.</p>
<p>Tidak ada yang mencurigai kenapa Rere harus istirahat selama seminggu dan datang dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Rere pun juga bungkam seribu bahasa. Dia sudah memperingatkan Albie untuk merahasiakannya juga. Albie bersikeras untuk meminta Rere melaporkan ke pihak yang berwajib. Tapi entah karena hal apa, Rere lebih memilih diam. Mungkin dalam pikirannya, jika semua khalayak sekolah mengetahui kejadian itu, apa tanggapan mereka. Kasihankah? Jijikkah? Support positifkah? Atau malah melecehkan dia karena sudah di ’pake’ beramai-ramai. Tetapi siapapun yang menjebaknya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda. Ika juga sungguh tidak tahu mengenai air mineral itu. Dia sendiripun meminumnya dan pingsan di mobil tepat ketika supirnya mengantarkan pulang. Rere juga mendengar bahwa teman sekelasnya itu di bawa ke rumah sakit dan dokter memprediksinya hanya kebanyakan minum obat tidur saja.</p>
<p>Lola masih tidak mau di ajak bicara, Rere berfikir kenapa dia cepat sekali menghilang. Lola terlihat semakin menjauhi Rere ketika dilihatnya Albie semakin dekat dengan Rere. Rere sendiri juga sungguh merana, semenjak kejadian itu dia jadi sangat pendiam. Selalu murung dan tidak pernah meninggalkan bangku kelasnya selain bel sekolah yang memulangkan semua siswa. Tetapi sekali-sekali Rere masih menyempatkan diri untuk meng-sms Lola, mungkin suatu saat dia mau mereplynya. Sepertinya usaha Rere sia-sia, dia semakin merana. Rere merasa bahwa hari-harinya di sekolah semakin membosankan saja. Dia merasa sangat kesepian. Kecuali Albie (yang terus memperhatikannya), Rere merasa tidak punya hiburan sama-sekali. Dia mau Lola ada di sampingnya, hang out bersama, nonton bersama atau tertawa-tawa bersama seperti dulu lagi.</p>
<p>Kesepian Rere semakin menjadi ketika papa dan mamanya harus pergi ke Glasgow, Scotlandia untuk tugas kantor, “maybe three years, or four&#8230; We don’t know&#8230; depends on the duty dear&#8230;” papanya menjelaskan. “But, we’re going to pick you up right on your graduation, sweetheart&#8230;” Orang tuanya memang menyarankan Rere untuk menyelesaikan sekolahnya lebih dahulu di Jakarta . Dan mereka akan memboyongnya untuk kuliah di sana .</p>
<p>Sebenarnya Rere ingin ikut papa-mamanya, tetapi memang dia harus menyelesaikan pendidikannya dulu yang tinggal dua semester lagi. Sudah empat minggu berlalu Rere tinggal sendiri di rumah hanya di temani pembantunya. Sekarang dia sudah pulih seperti semula, tidak perlu menggunakan tongkat lagi. Albie pun sering berkunjung kerumahnya hampir setiap hari. Rere tidak mengerti, sekarang semenjak dia hidup mandiri, kehidupan seks sepertinya sudah menjadi hal yang biasa saat Albie berkunjung. Mereka pasti melakukannya jika ada kesempatan. Rere pun tidak kuasa menolaknya. Sebenarnya Rere juga tidak kuasa menolak kehadiran Albie ke rumahnya. Kadang dia merasa jenuh padanya. Tetapi sekali lagi, dia memutuskan untuk menjalaninya pelan-pelan.</p>
<p>***</p>
<p>Hari ini cuaca panas sekali. Di dalam kelas pun Rere merasakan udara pengap yang luar biasa. Dia berharap pelajaran cepat selesai dan segera menuju mobilnya untuk menghidupkan ACnya dan mungkin alunan coldplay bisa mendamaikannya. Tetapi saat yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Lagi-lagi Pak Burhan tak henti-hentinya menerangkan sejarah tentang The Great War (War World One), War World Two dan prediksinya tentang War World Three semenjak kejadian 11 September di Twin Towers WTC, US. Rere sungguh bosan luar biasa. Entah kenapa dia paling Benci pelajaran sejarah walaupun dia tahu suatu saat pasti ada manfaatnya. “Who cares&#8230;” katanya dalam hati. Bell berbunyi tepat ketika pak Burhan menceritakan tentang kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan para pengamat dan peneliti dunia saat kejadian 11 September tersebut. Sebenarnya hal ini mungkin bisa dibilang menarik. Tetapi rupanya bukan hanya Rere yang merasa bosan, teman-teman sekelasnya pun langsung membenahkan buku-buku mereka dan segera berhambur keluar. “Kita sambung minggu depan&#8230;” teriak pak Burhan agak keras. Memang suaranya kalah keras dengan kebisingan aktivitas siswa-siswi pasca bell pulang.</p>
<p>Seperti yang dilamuni Rere, dia segera menuju pelataran parkir sekolah untuk menghidupkan AC dan menyetel musik di mobilnya. Rere tahu, Albie pasti lagi main basket bersama teman-temannya. Seakan tak perduli karena panas yang menyengat, Rere sedikit berlari menuju mobilnya. Dia sedang merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil ketika tiba-tiba mobil Carry hitam berhenti mendadak di depannya hampir menyerempetnya, menggeser pintunya terbuka dan seorang pria tak di kenal mencondongkan badannya, mendekap mulut Rere dan menariknya masuk ke dalam mobil. Rere tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kejadiannya begitu cepat, sampai dia tak sempat untuk berteriak. “Now what&#8230;” gerutunya dalam hati. Sampai di dalam mobil mereka langsung melaju mobil dengan kecepatan sedang sehingga tidak ada orang yang curiga.</p>
<p>Rere hanya melihat 2 orang ketika dia terduduk di dalam mobil, satu memegang kemudi dan yang satu lagi duduk di bangku tengah sebelahnya yang tadi membekap Rere. Dia tidak bisa melihat siapa yang mengemudi. Tetapi rasanya dia pernah melihat mata yang balik menatapnya dari kaca di dalam mobil. Rere juga tidak bisa mengenali orang yang duduk di sebelahnya, dia sungguh besar, dengan kulit coklat dan beberapa brewok yang tak tercukur rapi. Jantung Rere berdegup kencang.</p>
<p>Rere berusaha kabur tetapi Carry ini hanya mempunyai satu pintu samping yang di geser dan di jaga oleh orang di sebelahnya.<br />
“Siapa lo??!! Ngapain lo bawa gue!!! Buka pintunya!!” Teriak Rere sambil mencoba meraih pintu mobil untuk menariknya terbuka. Tetapi tubuh lawan di depannya sungguhlah kuat. Dia menghadang dan membekap Rere yang melawannya.<br />
“Hallo Re&#8230;pa kabar&#8230;” sapa tiba-tiba orang di depannya. Rere terkejut melihat sosok yang sekarang menghentikan mobil dan memalingkan wajahnya ke belakang untuk menyapa Rere. “Ben&#8230;” seru Rere dalam hati. Spontan Rere menjadi pucat, teringat kembali bayangan-bayangan menyakitkan yang terjadi 2 bulan yang lalu.<br />
“Mau kemana sih? Kok buru-buru banget??” senyum Ben masih sama seperti dulu. Sinis dan menakutkan. Senyum itu membuat wajah tampannya menjadi tak berarti sama sekali.<br />
“Ben&#8230;” Rere menyerukan nama itu tanpa sadar.<br />
“Masih inget ya say&#8230; aku pikir kamu udah lupa&#8230; Oia, kenalin tuh namanya Tony&#8230; aku minta bantuan dia buat ngambil kamu&#8230;” seakan hal ini sudah biasa, Ben mengenalkan temannya yang langsung tersenyum sinis pada Rere.<br />
“Gue pikir semuanya udah selesai Ben&#8230; Lo mau apa lagi?? Lo udah dapetin semua!!! Kenapa lo ganggu gue lagi!!?“ Teriak Rere hampir menangis.<br />
“Tadinya emang gitu say&#8230; tapi engga tau kenapa, semenjak kejadian itu aku kebayang-bayang kamu terus&#8230;, kok kayaknya aku jatuh cinta ya&#8230;” Rere merasa nada itu seakan melecehkannya. “Sayang ya papa-mama kamu lagi di luar negeri&#8230; kalo enggak kan aku bisa dateng ngapelin kamu&#8230; kali aja bisa ngelamar kamu&#8230; he..he..he&#8230;” spontan Rere terkejut bukan main. Dia tahu itu kalimat sindiran. Dari mana Ben tahu kalo orangtuanya memang sudah pindah keluar negeri.<br />
“Ngomong apa sih lo&#8230; Bokap-nyokap gue ada di rumah. Kalo mereka tau gue gak pulang mereka akan lapor ke polisi. Gue udah ceritain semuanya sama mereka, kalo ada apa-apa sama gue, gue udah mastiin ke mereka kalo lo yang ngapa-ngapain gue!!” Rere berbohong. Dia berharap Ben mempercayai kata-katanya dan melepaskannya sehingga kejadian ini tidak akan terjadi lagi.<br />
“Aduuuh, kamu gak cocok banget ya kalo ngebo’ong&#8230;” balas Ben. “Aku tau papa-mama kamu udah pindah ke luar negeri. Aku kan tiap hari ngawasin kamu!! Lagian kalo emang bener cerita kamu. Emang orangtua kamu tau siapa aku?? Dari mana dia bisa ngelacak aku&#8230; say.. kalo mau bo’ong yang cantik donk&#8230;” celetuk Ben dengan nada malas dan kembali menyetir mobil tanpa memperhatikan reaksi Rere.</p>
<p>Seakan sudah di vonis mati, Rere terkejut bukan main. Kembali perasaan takut mengisi kepalanya. Spontan dengan segala upaya dia mendorong tubuhnya ke depan. Meraih kemudi dan membelokkannya ke kiri, ke tepi jalan berharap mobil ini akan menabrak sesuatu dan orang-orang sekitar akan menolongnya “Lepasin gue!!!” teriaknya. Tetapi rupanya Ben lebih tanggap. Dia segera menahan kemudi yang tak kalah kuatnya dengan tarikan Rere. Tony pun langsung beriisiatif untuk menarik Rere ke belakang dan menahannya.<br />
“Lepasin gue lo bajingan!!! Lepasin gue!!!!“ Rere meronta dalam dekapan Tony yang kuat. Kakinya menendang-nendang Ben di depan, tangannya menggedor-gedor kaca berharap kaca itu akan pecah sehingga dia bisa berteriak minta tolong. Tetapi ketika dia berupaya dengan sekuat tenaga dari arah depan Rere merasa hidungnya ditutup dengan saputangan. Seakan dunia tidak berudara. Rere sulit bernafas. Bau obat bius sangat menyengat langsung mengalir masuk ke otaknya. Membuat dia pusing bukan kepalang. Rere melihat seakan-akan seluruh isi di dalam mobil berputar-putar di kepalanya dan tiba-tiba kepalanya berat luar biasa. Tubuhnya lemas tak berdaya, dan akhirnya Rere jatuh terkulai tak sadarkan diri.</p>
<p>Rere tidak bisa mengingat berapa lama dia pingsan, tetapi ketika dia tersadar, dia berada di ranjang besar dan empuk berkerangka besi ukiran yang indah di tata dengan beberapa bantal besar diselimuti bed cover. Spontan Rere meraba tubuhnya. Lega, pakaiannya masih lengkap. Sejenak dia memperhatikan ruangan sekitarnya. Sungguh mewah ruangan ini, dengan home theatre lengkap di sudut ruangan beserta koleksi dvd bertumpuk-tumpuk di sebelahnya. Dia bangkit turun dari tempat tidur berjalan mengitari kamar berusaha mencari pintu untuk pergi dari tempat ini. Ada beberapa pintu di sana. Rere menarik daun pintu dari salah satu pintu itu. Ketika terbuka, ruangan disebelahnya adalah kamar mandi besar dilengkapi dengan shower dan bathupnya. Hal ini biasa, yang membuat unik kamar mandi ini dilengkapi dengan jacuzzi bulat dengan gelembung air menguap dari bawah tak henti-hentinya. Rere menutup kembali pintu itu. Dia sedang tidak ingin mandi meskipun dia tergoda untuk mencoba menenggelamkan dirinya di jacuzzi itu, untuk menghilangkan penatnya.</p>
<p>Kembali dia membuka salah satu pintu yang lain. Ternyata pintu itu adalah pintu lemari pakaian dan sepatu. Bertumpuk-tumpuk sepatu tersusun rapi di raknya. Baju-baju, kemeja dan kaos terlipat dan tergantung rapi di salah satu sudut. Rere menyadari. Semua itu adalah ukuran dan model untuk laki-laki. Berarti dia ada di kamar laki-laki. Tetapi kamar siapa? Ben?</p>
<p>Rere menutupnya lagi dan membuka satu pintu yang tersisa. “Terkunci!!” hatinya melengos. “Di mana ini&#8230;” kembali dia mencoba untuk melihat sekelilingnya. Rere berkomentar kenapa kamar sebagus dan semewah ini tidak mempunyai jendela satupun. Tiba-tiba dari pintu yang terkunci terbuka menjeblak mengagetkan Rere yang terbengong takut di dalamnya. Ben muncul dan masuk ke dalam kamar. Menutup kamar dan menguncinya dari dalam.</p>
<p>“Udah bangun ya say&#8230; enak tidurnya??” Sapa Ben ramah. Rere tidak percaya dengan mimik Ben. Spontan dia mundur berusaha menjauh dari Ben. Rere melihat Ben hanya mengenakan celana pendek selutut dengan kaos oblong warna putih dengan sebatang rokok yang menyala dan asbak di tangan kanan, sementara di tangan kirinya dia menenteng paper bag besar yang Rere tidak tahu apa isinya. Ben menghampiri Rere, tetapi Rere lagi-lagi menjauhinya.</p>
<p>“Kamu kok kaya orang jauh aja sih say&#8230; takut?&#8230; apa malu? Gak usah malu dong say&#8230;kita kan udah kenal luar dalem&#8230;” Ben tersenyum, tetapi entah kenapa Rere tidak merasakan kesan manis di senyum itu.<br />
“Pergi lo dari gue!!!! PERGI!!!!&#8230; TOLONG&#8230;TOLONG&#8230;TOLONG&#8230;!!” Rere berteriak ke dalam tembok. Berharap suara itu bisa menembus tembok dan memanggil orang dari luar. Tetapi dengan tenang Ben menghisap rokoknya, menghembus asapnya dan berjalan menuju tempat tidur, meletakkan paper bag yang dibawanya tadi di atasnya.<br />
“Percuma say, kamu mau teriak sekencang apa juga gak bakal ada yang denger&#8230; Sekarang kita lagi ada di villaku, letaknya jauh dari perumahan&#8230; tapi jangan kebanyakan teriak&#8230; Aku pusing dengernya&#8230;” lagi-lagi Rere merasakan nada dingin yang mengancam di setiap kata-kata Ben.<br />
“Di dalam paper bag itu ada baju ganti buat kamu&#8230; baru sebagian sih&#8230; ntar aku beliin lagi&#8230;mulai sekarang kamu tinggal disini sama aku sampai kita pindah ke tempat lain&#8230;” Ben bicara lantang seraya berjalan ke arah pintu seakan tak peduli dengan tawanannya. Rere tahu Ben mau keluar dari kamar ini. Dia sendiri heran dengan apa yang akan dilakukannya. Dia berlari ke arah pintu. Menghadang Ben di depan pintu tepat ketika Ben akan menarik gagangnya.<br />
“A..aa..Apa maksud lo&#8230;? Selamanya? Disini&#8230;? Sama lo??” Rere gugup dan bingung dengan pertanyaannya.<br />
“Denger ya re&#8230;” sambil mengapit dagu Rere dengan punggung telunjuk dan ibu jari tangan kanannya, Ben menengadahkan wajah Rere ke arahnya dan mendekatkan hidungnya tidak lebih dari seinci dengan hidung Rere. “Gue selalu ngedapetin apa yang gue mau&#8230; kalo gue bilang gue mau lo&#8230; gue pasti ngedapetin lo walaupun dengan cara apapun&#8230; mendingan lo mandi sana ganti baju biar seger&#8230; gue males maen sama orang yang loyo&#8230;” Rere merasakan tangan Ben di dagunya dingin sedingin kata-katanya. Tetapi bukan saatnya buat Rere untuk melempem. Dengan masih menghadang Ben di pintu Rere berusaha bicara dengan lantang.<br />
“Gue gak takut sama lo Ben&#8230;ato siapapun nama lo!!&#8230;Lo lepasin gue sekarang ato gu&#8230;” belum sempat Rere menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba ‘PLAK’</p>
<p>Dengan Rokok dan asbak di tangan kiri, Ben menampar keras Rere dengan tangan kanannya dan langsung mencekik leher Rere yang jenjang. Spontan Rere tidak bisa apa-apa lagi. Tanpa sadar Rere memegang tangan Ben dengan kedua tangannya seolah ingin melepaskan cekikan Ben yang ternyata sangat kuat. Wajahnya yang putih lambat laun menjadi kemerahan. Matanya berair menahan nafas yang rasanya sudah 1 jam lamanya seiring dengan cekikan Ben di lehernya.<br />
“Jangan pernah lo ngancem gue&#8230; Lo gak tau siapa gue!!! Mulai sekarang gue yang nentuin apa yang boleh and yang gak boleh lo lakuin!! Mulai sekarang lo harus nurutin semua perkataan gue&#8230; mulai sekarang nasib lo ada di tangan gue&#8230;” sungguh-sungguh Ben berbicara seakan ingin menunjukkan ke gadis ditangannya bahwa dia tidak main-main. Sambil mencekik leher Rere, Ben menarik Rere menjauh dari pintu. “mendingan lo mandi sekarang&#8230;” Ben melepaskan cekikannya, spontan Rere langsung terjatuh bersimpuh di lantai karpet, lepas keseimbangan dan terbatuk-batuk seakan udara yang masuk ke paru-parunya terasa sesak dan sedikit.</p>
<p>Ben kembali menghisap rokoknya dengan tenang. “Gue mau pesen makanan&#8230; sebentar lagi gue kesini&#8230; jangan pernah lo berani macem-macem&#8230;” kembali ucapan Ben dingin seperti es bagi Rere. Akhirnya Ben membuka pintu dan berjalan keluar. Rere tidak melihat Ben menutup pintunya, tetapi dia mendengar tanda klik arti pintu kembali terkunci. Tanpa sadar Rere mengisak, air matanya menetes di kedua pipinya yang putih mulus, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Bagaimana nasibnya nanti. Apakah Albie menyadari kalau dirinya sudah pergi ke tempat yang Rere gak tahu ada dimana. Tas sekolah dan telepon genggamnya juga tidak tahu ada dimana. Sambil berpikir, Rere berjalan menuju kamar mandi. Mungkin Albie akan menyadarinya kalau dia melihat mobil Rere masih terparkir di pelataran sekolah. “Ya, pasti Albie datang menolong lagi&#8230;” Rere berusaha menghibur dirinya sendiri.</p>
<p>Rere membuka kran air dan menutup sumbat di bathup. Dia mengisinya dengan air hangat&#8230; membuka pakaiannya dan meletakkan tubuh telanjangnya ke dalam bathup yang sudah setengah terisi. “hangat&#8230;” katanya dalam hati. Serasa dia lupa sedang berada dimana, dia menikmati tubuhnya terendam air hangat dan menikmati bath time-nya, Rere memejamkan mata dan mulai tertidur ketika tiba-tiba ada tangan yang menyentuh bahunya. Rere terlonjak kaget. Ketika membuka matanya dia melihat Ben sudah ada di sampingnya<br />
“Kamu seksi deh kalau basah&#8230;” senyum Ben kembali menghiasi wajahnya. Rere benar-benar benci orang yang ada dihadapannya. Dia mencari handuk, tetapi tidak ditemukan. Dia mencoba mengambil seragamnya untuk menutup tubuhnya. Tetapi seragam itu tidak ada di lantai tempat dimana tadi dia meletakannya. Rere berusaha menutup tubuhnya dengan tangannya meskipun dia tahu tidak akan berhasil. Alhasil, dia hanya menutupi buah dadanya yang putih kenyal dan sangat menantang itu dengan melipat tangannya di daerah tersebut sementara kemaluan Rere tak kuasa untuk ditutupi.</p>
<p>Ben dengan santai mencoba untuk mencium bibir Rere. Tak diduga, Rere mendorong tubuh Ben menjauh dan keluar dari bathup. Ben pun terjatuh ke lantai kamar mandi yang licin. Dengan telanjang Rere berlari keluar dari kamar mandi menuju kamar, dia meraih pintu keluar, tetapi pintu itu terkunci. Rere menelusuri kamar dengan pandangannya mencoba mencari kunci untuk membuka pintu. Tepat ketika Rere berputar, Ben sudah ada di hadapannya dan langsung saja kembali Ben menampar keras Rere hingga Rere terjatuh terjerembab di lantai karpet. Ben memutar tubuh Rere agar terlentang dan menindihnya. Dia langsung menciumi gadis yang ada di bawahnya itu dengan nafsu yang tinggi. Rere masih saja berusaha untuk menghindar, melupakan rasa perih dan panas di pipinya dan berat tubuh lawannya.<br />
“Jangan&#8230;please&#8230; gak mau&#8230; TOLOOOONG!!! TOLOOOONG&#8230;TOLLffmpph&#8230;” Ben menghentikan lolongan Rere yang keras dengan menerkam bibirnya, melumat dengan ganas. Lidahnya berusaha masuk ke dalam mulut Rere, bermain-main di dinding rongga mulutnya. Tangan Ben yang kuat membekap kedua tangan Rere ke atas, membuat tubuh Rere terlentang pasrah menantang lawannya. Sambil menahan tangan Rere, Ben menindih dan mencumbui bibir Rere. Entah kenapa permainan ini tidak bisa dinikmati Rere seperti waktu yang lalu. Pikirannya kalut, marah, takut dan bingung menjadi satu. Dia benar-benar tertekan. Cumbuan Ben sekarang turun ke buah dadanya. Lagi-lagi mulut Rere yang terbebas kembali berteriak, hal ini membuat Ben senewen. Dengan tidak melepaskan tindihannya. Kembali Ben menampar Rere.</p>
<p>“Diam!! Ato gue siksa lo pelan-pelan!!” Ancaman Ben ternyata membuat Rere ciut. Dia pun menjadi diam. Dia tidak mau disiksa, tetapi juga tidak mau diperkosa. Rere memilih diam walaupun dalam hatinya sangat memberontak.</p>
<p>Ben pun kembali meneruskan permainannya. Setelah mengetahui ancamannya berhasil, Ben melepaskan bekapan tangannya pelan pelan. Rere pun tidak berkutik lagi. Dia hanya diam terlentang tak bereaksi sama sekali. Matanya menatap ke langit-langit, hampa dan kosong. Beberapa tetes air mata menetes keluar tanpa reaksi. Sementara mulai membuka pakaiannya satu persatu, sehingga dengan hitungan detik, Ben sudah berbugil ria. Dia terus melumat tubuh Rere yang hanya pasrah menerima setiap cumbuannya. Ben mulai menuruni badan Rere menghadapkan wajahnya di selangkangan Rere. Ben membuka paha Rere dan membenamkan kepalanra di pangkalnya. Ketika lidah Ben menjilat klit daging kecil di sana, Rere menggelinjang sedikit. Bukan rangsangan tetapi perasaan tidak nyaman yang dirasanya.</p>
<p>Rere sama sekali tidak menikmati pergelutan kali ini. Dia merasa seperti di sangkar burung emas yang mengurungnya. Ketika dirasakan batang kemaluan Ben mulai menekan liang sanggamanya. Rere berusaha mendorong tubuh Ben dari atasnya. Tetapi Ben tak bergeser sedikitpun. Dia semakin bernafsu mendengar Rere mengerang kesakitan. Tepat ketika dirasakan posisi batang kejantanannya tepat di pintu sanggama Rere, tanpa peringatan, Ben langsung menusukkannya jauh ke dalam. Rere menjerit kesakitan. Kemaluannya yang kering tidak siap untuk dimasuki benda apapun membuatnya sangat menderita. Ben sama sekali tidak memperdulikannya, dia mulai menggenjot tawanannya. Semakin lama semakin cepat sehingga dorongan-dorongannya yang kuat membuat badan Rere terdorong maju mundur.</p>
<p>“Enak banget sih say punya kamu&#8230; uuggh&#8230;” Ben meracau ditelinga Rere. Kembali air mata rere mengalir tak terasa. Dia tidak mengisak juga tidak bereaksi sama sekali.<br />
“Aku emang sengaja engga make kamu waktu itu&#8230; biar aku jadi orang yang terakhir yang make kamu sampai selamanya&#8230;“ Rere tidak mendengarkan celoteh Ben. Dia sedikit meringis ketika genjotan Ben semakin dalam dan cepat.</p>
<p>Tiba-tiba Ben mencabut batang kemaluannya dari kemaluan Rere. Sedetik kemudian dia mengangkat kedua kaki Rere ke atas sehingga Rere merasakan kedua lututnya tepat menempel kuat di masing-masing buah dadanya membuat selangkangannya lebih terbuka menantang. Ben menahan kedua kaki Rere dan mengarahkan batangnya ke selangkangan Rere. Tetapi bukan kemaluan Rere yang dicoba ditusuknya, melainkan saluran pembuangan belakang Rere. Rere pun terlonjak kaget ketika dirasakan anusnya diraba oleh kepala kemaluan Ben. Dia memberontak kuat menolak keras maksud dan tujuan Ben.</p>
<p>“Jangan!!! Jangan di situ&#8230;Jangan!!!! gak mau&#8230; jangan!!“ Rere memberontak. Dia menggoyang-goyangkan tubuhnya keras berusaha memelesetkan kepala kemaluan Ben di lubang duburnya. Tetapi sekali lagi usahanya sia-sia. Ben mengunci mati tubuh dan kaki Rere tak berkutik. Dia pun menusukkan kepala batangnya ke lubang belakang Rere. Sedikit demi sedikit batang itu menerobos masuk ke dalam. Rere menggigit bibirnya sendiri. Serasa sesuatu merobek tubuhnya. Kali ini dia mengerang keras ketika Ben menggenjot lubang belakangnya. Ben tahu itu bukan karena kenikmatan, tetapi dia semakin bersemangat memompa dubur Rere.<br />
“Aku kan gak merawanin depan kamu waktu itu&#8230; Boleh donk aku merawanin belakang kamu&#8230;“ Ben berbisik pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke telinga Rere.</p>
<p>Rere sungguh tersiksa dengan anal seks ini. Sungguh mati dia tidak membayangkan dirinya beranal dengan pria manapun. Ketegangan dan kesakitan melanda tubuh Rere. Keringatnya sekarang mengucur menahan sakit bercampur dengan air matanya. 5 menit pergelutan itu berlangsung. Rere sungguh tidak kuat lagi. Akhirnya Ben mempercepat genjotannya di dalam dubur Rere. Beberapa detik kemudian Rere merasakan batang yang tertanam ditubuhnya berdenyut kuat dan tak lama sesudahnya Ben menyemprotkan cairan spermanya di dalam tubuh Rere.</p>
<p>Ben tidak menunggu batangnya mengecil terlebih dahulu, dia langsung mencabut kejantanannya dari dalam tubuh Rere. Dilihatnya spermanya mengalir keluar bercampur cairan sedikit berbusa berwarna pink. Ben tahu itu adalah darah Rere. Dia sadar telah memerawani anus Rere. Ben pun tersenyum.<br />
“We’re going to have the greatest days everyday honey&#8230;” katanya sambil mengecup kening Rere. Rere memalingkan mukanya. Dia melingkarkan tubuhnya dilantai karpet, memeluk lututnya dan mengisak mengucurkan air mata. Sementara Ben berjalan meninggalkan Rere menuju kamar mandi. Sedetik kemudian Rere mendengar bunyi gemericik air mengalir dari kamar mandi. Dia tahu Ben pasti sedang membersihkan badannya. Dia sungguh-sungguh benci orang itu.</p>
<p>Lima menit kemudian Ben keluar dari kamar mandi. Dia melilitkan handuk kecil di pinggangnya. Rere pun masih bersimpuh di lantai karpet. Ben menghampiri Rere, berjongkok di sebelahnya sambil membelai rambut Rere.<br />
“Say&#8230; Mending kamu mandi deh&#8230;biar seger&#8230; tar lagi makanan dateng&#8230;aku tungguin makanan di luar ya&#8230; ntar lagi aku ke sini&#8230; “ katanya mesra. Rere sungguh tidak menggubris pesan Ben. Dia terus melingkarkan tubuhnya di lantai karpet tempat dimana pergelutan terjadi beberapa menit yang lalu. Ben pun bangkit dengan tak lupa mengecup rambut Rere. Dia berputar menuju pintu, membuka dan berjalan keluar ruangan. Sekali lagi Rere mendengar bunyi klik tanda pintu kembali terkunci.</p>
<p>Rere berpikir sampai kapan dia akan mengalami nasib seperti ini. Dia sekarang putus asa. Sia-sia sudah air matanya mengalir di pipi, tetapi tidak bisa meluluhkan perasaan Ben yang sekuat baja. “Mama&#8230;” katanya menangis tersedu. Seandainya dia bisa bertemu mamanya sekarang, mungkin hatinya akan tenang. Tetapi hal itu tidak mungkin. Dia benar-benar tidak tahu ada di mana sekarang. Menunggu dan menanti apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.</p>
<p>TAMAT dan tunggu <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">cerita seks</a> berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/seks-gadis-smu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ML dengan Mahasiswi Jogja</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/ml-dengan-mahasiswi-jogja/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/ml-dengan-mahasiswi-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 14:10:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[bispak mirc]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi bisyar]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi bugil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[bermula dari Hari kamis 18 September kemaren gue  Iseng2 chat di MIRC. maklum lagi males dan sekali lagi iseng doang bro. nah udah niat cari bisyar atau bispak nyasar, akhirnya Pake nick yg mengundang tentunya. bak gayuh bersambut akhirnya perjuangan mencari cerita seks gak sia-sia hari itu,  mata gw menangkap sebuah nick yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>bermula dari Hari kamis 18 September kemaren gue  Iseng2 chat di MIRC. maklum lagi males dan sekali lagi iseng doang bro. nah udah niat cari bisyar atau bispak nyasar, akhirnya Pake nick yg mengundang tentunya. bak gayuh bersambut akhirnya perjuangan mencari cerita <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">seks</a> gak sia-sia hari itu,  mata gw menangkap sebuah nick yg cukup menantang. Ce_500_skrg. Sapa takut pikir gw. Langsung deh gw speak2. Ni anak ngakunya mhsi ami***. Gw minta pict biar ga pilih kucing dlm karung. Eh dikasih liat cam ma dia. Waks, cubby putih dan imut bro. Singkat crita, gw keluarin jurus menawar ala pedagang tanah abang. Akhirnya kita spakat, hari jum`at exe, DC 350k.</p>
<p>Langsung deh Hari jum`at 19 September Sesuai janji gue, kita ktemuan di K24 dpn PS. Eh ternyata ni anak bawa bodyguard. Gpp lah pikir gw, sama2 makan nasi ini. Ktemu, speak2, trus gw disuruh ngikutin speda motor mreka. Weks, ternyata ke kost2an cow bro. Ternyata eksenya di sebuah kamar di kost2an cow. Wah gila ni cew. Langsung gw bilang kalo gw gak nyaman exe di kost. Gmn kalo di PS aja. Terjadi kata spakat, trus meluncur.</p>
<p>Sampai hotel, kita speak2 bentar. Ternyata dia bener2 mhsi ami*** (soalnya gw sempet liat surat keterangan dr purek III). Ni anak aslinya berinisial NS. Ritual dimulai dg french kiss. Selang seperminuman teh kemudian, tgn gw mulai kreatif melepas kancing BH. Wuih&#8230;.gw sempet terjajar tiga tombak kebelakang bro, nipplenya khas abg. Ksukaan gw neh. Tak kuasa gw hajar tuh nipple ampe skitar sepenanak nasi. Nih anak dah mulai menegarang tak karuan. Bgitu gw pegang m*m*k-nya, wuih dah basah kuyup. Akhirnya gw pasang caps, hajar pake mot ampe crot.</p>
<p>Blom selesai bro, mash ada ronde kdua. Kli ini gw minta di BJ dulu. Ciamik bro, entah karena mulunya yg mungil ato karna punya gw yg gede () sampe2 cm bs masuk sdikit. Tp sensasinya bro&#8230; Ritual selanjutnya mot, dilanjutkan doggy mpe crot.</p>
<p>Blom slesai jg bro, msh ada ronde 3. Ritual awal sama, cm kali ini gw hajar gak pake caps bro. Biar lbh oks. Hampir 30 menit bro sbelum akhirnya gw pasang cas, trus crot. (gimana gak lama crotnya, lha wong yg mau dicrotin dah kering bro) gue sih tetep aja basah, secara gue merangsang banget liat cewek bening dan montok kayak gini, kapan lagi pikir gue, akhirnya <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">cerita panas</a> gue berakhir setelah ronde ketiga. Bener-bener melelahkan bro..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/ml-dengan-mahasiswi-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ML dengan Istri Teman</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/setengah-baya/ml-dengan-istri-teman/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/setengah-baya/ml-dengan-istri-teman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 16:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[isteri temanku]]></category>
		<category><![CDATA[isteri temanku cantik]]></category>
		<category><![CDATA[istri temanku]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan isteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Cerita seks. Aku sampai bingung dan heran dengan pengalaman seks ku kali ini, tak menyangka bisa ml dengan istri teman sendiri atas pengetahuan temanku sendiri. Aku mempunyai sahabat sedari kecil, kami tumbuh bersama, kenakalan kecil, belajar mabuk, melamar pekerjaan, bahkan main cewek pun kami berangkat bersama. Robert memang ganteng dan lumayan play boy.

Yang aku tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita seks</strong>. Aku sampai bingung dan heran dengan pengalaman seks ku kali ini, tak menyangka bisa <a href="http://ceritaseks.ngocok.info/setengah-baya/ml-dengan-istri-teman/">ml dengan istri teman</a> sendiri atas pengetahuan temanku sendiri. Aku mempunyai sahabat sedari kecil, kami tumbuh bersama, kenakalan kecil, belajar mabuk, melamar pekerjaan, bahkan main cewek pun kami berangkat bersama. Robert memang ganteng dan lumayan play boy.</p>
<p><img title="Cewek Binal" src="http://www.berita8.com/images/beritafoto/normal/115642-01262517122008@2.jpg" alt="Isteriku binal, cewek nakal" width="400" height="293" /><br />
Yang aku tahu pasti, dia termasuk hiper. Two in one selalu menjadi menu wajib kalo kami mampir ke jl Mayjen Sungkono Surabaya. Dia juga mempunyai banyak teman mahasiswi yang “siap pakai” dan lucunya dia sering menawari aku bercinta dengan gadis mahasiswinya di depan hidungnya. Terkadang dia mengajak threesome. Aku sih ok ok saja, why not…enak kok…dan lagi ketika itu aku cuma karyawan swasta yang bergaji kecil ketika itu sedang Robert sudah memiliki usaha sendiri yang cukup sukses.</p>
<p>Sayang sekali di umur 35, sahabatku ini mengalami kecelakaan yang membuat dia terpaksa menggunakan kursi roda. Padahal dia baru 2 tahun menikah dan dikaruniai satu anak laki laki yang lucu.</p>
<p>Peristiwa ini benar benar membanting dirinya, untunglah Arini benar benar istri yang setia dan selalu memompakan semangat hidup agar Robert tidak menyerah. Sebagai sahabat akupun tidak bosan bosannya menghibur agar dia mau mencoba mengikuti terapi.</p>
<p>Seperti biasa di malam minggu aku main kerumahnya, daripada ngluyur nggak karuan, maklum setua ini aku masih bujang.</p>
<p>“ Ron..elo masih ingat jaman kita gila dulu. Minimal gue selalu ambil dua cewek. Hahahaha dan mereka selalu ampun ampun kalo gue ajak lembur.” Robert tersenyum senyum sendiri. Aku memahami rupanya Robert terguncang karena kemampuan sex yang dibanggakan mendadak tercerabut dari dirinya.</p>
<p>“ Ron, gue harus sampaikan sesuatu ke elo, kenapa gue selalu bicara tentang sex ke elo. Hhhhhhhh&#8230;.gue kesian sama Arini&#8230;.dia istri yang baik dan setia, tetapi gue tidak mungkin memaksa dia untuk terus menerus mendampingi gue. Dia punya hak untuk bahagia. Dan lagi&#8230;.hhhh dan lagi&#8230;.” Robert terdiam cukup lama.</p>
<p>“ Istriku masih muda, 25 tahun….gue nggak ingin dia nanti menyeleweng. Lebih baik kami berpisah baik baik, dia bisa mendapatkan suami yang lebih baik.” Matanya menerawang.</p>
<p>Tetapi Arini tetap bersikukuh tidak mau. Baginya menikah cuma sekali dalam hidupnya. Tetapi gue kuatir Ron&#8230;gue kuatir&#8230;karena&#8230;hhhhh karena&#8230;.Arini nafsunya besar. Bisa kamu bayangkan betapa tersiksanya dia. Kami dulu hampir setiap hari bercinta.<br />
Robert terdiam lagi lama.</p>
<p>“Kemarin dia bicara, mas aku nggak akan menyeleweng, karena cintaku sudah absolut. Kalo kamu memaksa untuk berpisah, aku tidak bisa. Memang kalau bicara sex, sangat berat bagiku. Tapi kita bisa mencoba pakai tangan kan mas. Mas bisa puasin pakai tangan mas, pake lidah juga masih bisa&#8230;.kita coba dulu mas&#8230;</p>
<p>Kami mencobanya tetapi karena lumpuhku, jari dan lidahku tidak bisa maksimal, dan dia tidak mampu orgasme. Sempat juga pakai dildo. Itupun juga gagal. Ini lebih disebabkan posisi tubuhku yang tidak mendukung. Akhirnya aku mengatakan bahwa bagaimana kalau kamu mencoba pakai cowok beneran. Kita bisa pakai gigolo, asal kamu bercinta di depanku jangan di belakangku. Aku bilang bahwa ini hanya murni untuk menyenangkan dirinya. Kamu tahu&#8230;istriku hanya menangis, dalam hatinya sebenarnya dia mungkin mau tapi entahlah&#8230;”Robert sudah tidak berloe gue lagi&#8230;.</p>
<p>Hhh&#8230;sebenarnya aku mau minta tolong kamu&#8230;pertama kamu temanku, sudah seperti saudara sendiri, kamu belum menikah, kamu sekarang juga sudah nggak segila dulu&#8230;mungkin udah berhenti ya ?&#8230;.jadi aku minta tolong&#8230;bener bener minta tolong..puaskan istriku&#8230;” Kata Robert, suranya sedikit tercekat&#8230;</p>
<p>“ No..no..no no no no&#8230;.nggak Rob..aku nggak mau&#8230;maaf aku gak bisa bantu seperti itu, Arini wanita baik baik, aku melihatnya seperti malaikat. Dan aku sungguh menghormatinya. Sorry aku pulang dulu Rob&#8230;tolong pembicaraan ini jangan diteruskan.” Aku menghindar.</p>
<p>Arini adalah wanita sempurna, cantik, hatinya lembut, setia ke suami, tidak neko neko, dan tubuhnya benar benar sempurna. Robert benar benar sinting kalo aku diminta meniduri istrinya&#8230;</p>
<p>3 minggu kemudian, pagi pagi aku mampir lagi ke rumahnya, aku pikir dia sudah tidak mau membicarakan itu lagi, ternyata aku salah. Kali ini dia memintaku sambil memohon, bahkan matanya berkaca kaca : “ Ron please, bantu aku, kamu tidak kasihan lihat istriku ? kami sudah sepakat kalau kamu dan dia tidak perlu ML. Mungkin memuaskan dengan tangan atau lidah ?</p>
<p>Aku sungguh tidak setuju dengan rencananya, tapi melihat permintaannya hatiku trenyuh&#8230;: “Ok Rob, aku coba bantu, tapi aku perlu bicara dulu dengan Arini&#8230;.”</p>
<p>“Bicaralah dengannya, dia ada di beranda belakang, bicaralah..”.Desak Robert.</p>
<p>Perlahan aku melangkah ke bagian belakang rumahnya yang besar, aku lihat Arini sedang menyirami bunga anggrek, sinar matahari pagi turut menyiram wajahnya yang lembut, kimononya yang berwarna merah kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih,..sungguh anggun&#8230; Mungkin Robert sudah memberi tahunya karena dia seperti menunggu kedatanganku.</p>
<p>“ Hai Rin&#8230;mana si kecil Ardi ? masih tidur ya ?” Tanyaku basa basi.<br />
“Hai mas..iyaaa..Ardi masih bobo&#8230;tumben datang pagi begini&#8230;udah sarapan belum ?”Arini tersenyum lembut. Wajahnya hanya ber make up tipis, begitu sempurna.</p>
<p>Mmmm. udah kok…uummm, aku bantu potongin anggrek ?…dulu aku suka bantu ibuku merawat anggrek…aahhh ini sepertinya kepanjangan Rin..coba deh dipotong lebih pendek lagi, supaya lebih cepat berbunga.” Kataku sok serius.</p>
<p>“ Mas…aku sangat mencintai mas Robert. Akupun tahu dia sungguh mencintaiku. Dia adalah suami yang pertama dan terakhir&#8230;.” Suaranya tercekat, wajahnya menunduk.Arini bicara langsung ke pokok persoalan. Ini lebih baik, karena semakin lama disini aku semakin canggung.</p>
<p>“ Aku sungguh berharap, mas Ronny tidak menganggapku wanita murahan. Mas Robert bilang bahwa kalau melihat aku bahagia maka dia juga bahagia. Jadi nanti apa yang kita lakukan harus masih dalam koridor saling menghormati ya mas&#8230;” Kini matanya berkaca kaca.</p>
<p>“ Rin aku ikuti apa maumu, kalau nanti kamu minta berhenti , aku berhenti. No hurt feeling&#8230;jangan kuatir aku tersinggung, Kamu adalah wanita yang paling aku hormati setelah ibuku. Aku&#8230; aku akan memperlakukanmu dengan terhormat. “Bisikku.</p>
<p>Perlahan Arini menarik tanganku menuju lantai 2, mungkin ini kamar tamu. Interior kamar sungguh nyaman, warna warna soft mendominasi, mulai dari warna bedcover, bantal dan gorden terkomposisi dengan baik, benar benar mendapat sentuhan wanita.</p>
<p>“ Ummmm.. bagaimana dengan Robert, dia pernah bilang kalo harus sepengetahuan dia..”Tanyaku kuatir, aku tidak mau dituduh mengkhianati sahabat sendiri.</p>
<p>“ Mas Robert nanti datang setelah dia rasa kita ada hubungan chemistry yang lebih jauh. Aku juga keberatan kalo mas menyentuhku di depan mas Robert terlalu terus terang. Aku tidak mau hatinya sakit. Dan ditahap awal ini aku sungguh berharap kita tidak terlalu jauh.<br />
Mungkin aku belum terlalu siap&#8230;dan maaf kalo tiba tiba aku minta berhenti..mas ngerti kan perasaanku ? Arini berkata dengan wajah menunduk. Tangannya terlihat gemetar ketika perlahan lahan membuka bedcover. Aku hanya mengangguk tanpa bicara…</p>
<p>Lalu Arini berjalan menuju meja rias, membelakangiku, perlahan dilepas cincin kawin dijarinya, “aku tidak bisa bercinta dengan orang lain dengan tetap memakai cincin ini…” katanya berbisik. “ Maafkan aku Rin…aku akan meperlakukan kamu dengan baik..” bisikku dalam hati.</p>
<p>Perlahan dia berbalik menghadapku sambil membuka gaunnya, ternyata dibalik kimononya, Rini hanya memakai lingerie warna pink, G string plus stocking putih berenda. “ Aku tidak mau sembarangan untuk memulainya. Ini aku pakai juga untuk menghormati mas Ronny” Arini berjalan perlahan ke arahku. AKu hanya bisa menahan nafas, dadaku sesak bergemuruh, rasanya sulit untuk bernafas, rasanya aku tidak akan bisa menyentuhnya, dia terlalu indah, Arini terlalu indah untukku….kakiku lemas.</p>
<p>Dengan perlahan Arini membuka kancing bajuku, sedikit mengelus dadaku yang berbulu, wajahnya masih menunduk, tanganku menyentuh rambutnya lembut kemudian aku cium perlahan keningnya.. Dengan bertelanjang dada tanpa melepas celana panjangku, kutuntun Arini ketempat tidur. Aku peluk lembut, aku ciumi keningnya berulang kali. Turun ke pelipis, lama aku cium di situ. Aku harus membuatnya rileks&#8230;.<br />
Matanya yang indah tampak berkaca kaca. Hembusan nafasnya masih memburu bergetar.<br />
Aku mengerti Arini masih belum siap&#8230;</p>
<p>Aku bisikkan kata kata lembut ketelinganya :” Rin&#8230;kamu santai saja, aku nggak akan menyentuh yang nggak semestinya kok. Jangan kuatir, kita tidak terlalu jauh, ini hanya semacam perkenalan saja&#8230;ok ? “ Arini mengangguk sambil memejamkan matanya mencoba menghayati.</p>
<p>Kemudian bibirku menyentuh pipinya, harum Kenzo di lehernya, menuntunku ke arah sana. Lehernya sungguh indah, bibirku menyelusuri leher jenjangnya sambil sekilas menciumi belakang telinganya.</p>
<p>“ Ahhhhhh&#8230;.. mas..ahhhh” Nafasnya dihembuskan panjang, rupanya tadi dia terlalu tegang. Aku tetap mencium tidak beranjak dari sekitaran pipi, kening, leher dan telinga. Sengaja tidak kucium bibirnya, takut membuat moodnya jadi hilang. Tetapi ternyata Arini sendiri yang mencari bibirku, dan mencium lembut perlahan. Badanku merasa meremang.</p>
<p>Kemudian kami berpandangan dekat, matanya lekat menghunjam mataku, seperti mencari kepercayaan disitu. Ini adalah titik kritis, berhenti atau lanjut&#8230;.</p>
<p>Perlahan Arini memejamkan matanya, bibirnya sedikit terbuka, aku mengerti kalau ini semua bisa berlanjut lebih jauh. Kucium lama dan lembut bibirnya yang indah itu.<br />
Perlahan bibirku turun ke leher sedikit ke bawah. Turun &#8230;turun ke belahan dadanya yang ranum. Wanginya sungguh memabukkan. Arini hanya melenguh pelan “ ehhhhh..mas..”.</p>
<p>Tanganku mulai mengelus pahanya…aku gosok perlahan, tanganku berhenti ketika jemari Arini menyentuh tanganku. Ahh mungkin aku terlalu jauh..ternyata jemari Arini menggosok permukaan lenganku. Kulanjutkan lagi gosokan tanganku ke pangkal pahanya.</p>
<p>Kusentuh missVnya yang hangat. Aku tidak membuat gerakan yang tiba tiba, semua harus mengalir lembut. Cukup lama jemariku menyentuh bulu bulunya. Bibirnya terasa dingin, Arini sudah mulai terangsang…sambil masih mencium lembut bibirnya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya, begitu tersentuh, Arini langsung merintih nafasnya memburu : Mas…uffff..mas..fiiuhhh…” Cepat sekali vaginanya basah. Aku memahami, mungkin sudah satu tahun Arini tidak disentuh Robert.</p>
<p>Bibirku perlahan mulai mencium dari belahan dada menuju bukit indahnya. Belum pernah kulihat payudara seranum ini. Lidahku menari nari diujung putingnya yang merah muda. Aku sentuh dengan ujung lidah kemudian sedikit aku sedot lalu aku lepas lagi, begitu berulang ulang. Nikmat sekali. Aku lirik wajah Arini merah padam, nafasnya tersengal sengal “ geliii&#8230;aaahhhh&#8230;geliii mas&#8230;.jangan lama lama&#8230;geli&#8230;aduuuuhhh.”<br />
Sengaja aku teruskan jilatanku, dengan sedikit mengeluarkan erangan, agar Arini mengerti kalo aku sendiri juga super terangsang. Eranganku dengan erangannya kini bersahut sahutan. Kepala Arini bolak balik terbangun mungkin karena dia tidak tahan dengan gelinya. Jemariku bertambah cepat menggosok klitorisnya. Tiba tiba jemari Arini meremas rambutku dan kedua tangannyapun menekan kepalaku, sehingga aku sulit bernafas karena terbenam di buah dadanya. Pinggul Arini terangkat tinggi sambil merintih panjang&#8230;: “masssssss&#8230;ahhhhh” Arini Orgasme&#8230;.</p>
<p>Pinggul kembali terhempas ke tempat tidur yang langsung terayun ayun, badannya melemas, tangannya lunglai ke bawah, sambil berkali kali menelan ludahnya Arini mulai menangis memalingkan wajahnya&#8230;.<br />
Aku ciumi lembut kepalanya, kucium air matanya di pipi, kemudian kucium tipis bibirnya.</p>
<p>Perlahan kepalaku turun ke leher, dada, perut, pusar dan berhenti di bulu bulu kemaluannya. Lidahku mulai menari di klitorisnya yang super basah. Arini hanya terdiam.</p>
<p>Aku masih sibuk menjilati vaginanya yang wangi. Arini mulai recovery lagi…jemari lentiknya meremas rambutku. Dagunya terangkat ke atas, nafasnya terputus putus memburu. Perlahan kuturunkan celanaku….bibirku kembali ke atas, mencium pusarnya, mengecup putingnya kemudian menyentuh bibirnya. Mataku beradu dengan matanya. Pandangan mataku bertanya, haruskah kuteruskan…. Arini mengerti kalau batangku menempel kemaluannya. Perlahan kakinya melingkar ke pahaku..mata kami tetap berpandangan. Ku gesekkan batangku perlahan lahan, Arini sedikit merintih, bibirnya terbuka..</p>
<p>Kepala batangku mulai menekan, menekan…sedikit masuk, masuk lagi perlahan, lalu kaki Arini menekan pinggulku sehingga batangku lebih dalam masuk. Masuk seluruhnya..badanku meremang, batangku terasa hangat. Mata kami masih beradu pandang&#8230;tiba tiba disudut matanya muncul air bening yang mengalir perlahan ke pipinya. Arini kembali menangis&#8230;</p>
<p>Kembali aku cium lembut bibirnya. Pinggulku tidak langsung aku gerakkan, agar dia merasa nyaman dulu dengan batangku didalam. Lalu Perlahan aku mulai gerakkan pinggulku sedikit demi sedikit, pelan pelan&#8230;Arini merintih : Mas&#8230;” Gerakan lebih kupercepat&#8230;aku rasakan batangku masuk sepenuhnya kedalam vaginanya, Tempat tidur mulai berguncang, bunyi geritan besi tempat tidur mulai keras terdengar.</p>
<p>Tiba tiba Arini memelukku erat, bibirnya mendekat ke telingaku dan berbisik : ”kok besar sekali mas&#8230;.terima kasih&#8230;nikmat sekali mas&#8230;ooohhh nikmat..” Arini kini lebih agresif menciumku, lidahnya mulai berani masuk ke mulutku. Tubuh kami berguling, kini dia diatasku. Otomatis batangku lebih menghunjam ke dalam, posisi ini favoritku karena aku bisa sepenuhnya melihat kecantikannya, melihat lekuk tubuhnya, meremas dadanya dan pinggulnya lebih leluasa.</p>
<p>Gerakan tubuh Arini mulai liar, wajahnya tengadah keatas dengan mata terpejam. Gerakannya malah lebih cepat dari gerakanku. Tubuhnya mulai menggigil dipenuhi peluh yang mengucur deras di sela belahan buah dadanya, pemandangan ini membuat tubuhnya tampak sensual, kujilati semua peluhnya dengan nikmat. Arini mendekati puncak&#8230;.sementara aku susah payah bertahan agar tidak ejakulasi.</p>
<p>” aaaaa&#8230;..aaaaaaahhhh.. aahh !” Dia mulai tidak malu mengeluarkan rintihan dan erangan suaranya lebih keras, tiba tiba tubuhnya menghentak keras, lenguhannya memanjang kemudian tubuhnya lunglai ambruk di tubuhku. Segera kupeluk erat dan kucium lembut keningnya. Aku lega&#8230;.senang bisa memuaskannya..</p>
<p>” Terima kasih mas&#8230;.terima kasih&#8230;aku belum pernah merasa nikmat seperti ini, dua kali orgasme&#8230;”Bisik Arini. ”Aku bisa teruskan kalo kamu mau Rin&#8230;.Bisikku sambil menciumi pelipisnya.</p>
<p>”Terima kasih&#8230;may be next time&#8230;sekarang giliran mas Ronny&#8230;mas belum puas kan.?<br />
Aku tersenyum dan kugelengkan kepalaku : ” No&#8230;tidak perlu&#8230;itu tidak penting. Kamu bisa menikmati itu lebih penting. Kalau aku turut mencari kepuasan artinya aku tidak menghargai kamu. Semua ini untuk kamu Rin&#8230;hanya untuk kamu” Dalam hati kumaki maki diriku, mengapa aku sok suci. Tetapi tak bisa kumaafkan diriku kalau aku ikut menikmati kesempatan emas ini, Arini bersedia bercinta denganku artinya dia sudah menghempaskan semua harga dirinya dihadapanku. Aku menghargai dan menghormatinya.</p>
<p>”Mas&#8230;kamu baik sekali&#8230;sungguh kamu baiiiikk sekali.” Rini memelukku erat lama sekali sampai aku terengah engah karena kepalaku terbenam di belahan payudaranya. Sebenarnya aku ingin meneruskan dengan melumat dan mengigit gigit putingnya, tapi aku tidak mau merusak suasana.</p>
<p>”Mengapa robert tidak kemari, bukankah dia minta kita bercinta di depannya. Aku tidak mau dikatakan mengkhianati teman&#8230;”</p>
<p>”Mas Robert mungkin sudah melihat kita dari tadi, dia ada di ruangan dibalik kaca meja rias, itu kaca tembus pandang mas, ” Arini menjelaskan ketika melihat mataku memandang pintu.</p>
<p>”uummm mas gak bersih bersih badan ? aku bantu di kamar mandi yuk&#8230;“ sambil menarik tanganku.</p>
<p>Kami saling menggosok badan, aku remas lembut buah dadanya dari belakang dan mencium lembut punggungnya. Arini kembali merintih..tubuhnya berbalik kemudian melumat bibirku, benar benar agresif, tiba tiba Arini jongkok dan cepat menggenggam batangku sedetik kemudian mulutnya mengulum milikku yang makin mengeras penuh. Aku benar benar tidak menduga Arini melakukan itu. Tindakannya membuat kakiku lumpuh. ” Jangan Rin&#8230;jangan Rin&#8230;nanti aku keluar ahhh&#8230;Rin..sudah..please&#8230;” Rintihku.</p>
<p>Arini segera berdiri lagi lalu berbalik menghadap shower dinding. Aku mengerti dia ingin aku masuk dari belakang. Dengan guyuran air hangat, aku masukkan batangku cepat, aku sudah tidak tahan, nafsuku sudah memuncak, Arini pun mengerakkan tubuhnya mengimbangi tubuhku. ” Aaahhh mas&#8230;aku &#8230;aku&#8230;ahhh.aku&#8230;.” Tubuhnya kembali menggeliat dan mengejang, jemarinya kuat meremas tangkai shower, sementara aku benar benar tidak dapat menguasai diriku. Spermaku yang tertahan dari tadi akhirnya mau tak mau menyembur keluar, masuk jauh ke relung vaginanya&#8230;” Sh(bip)t mengapa aku tidak bisa menahannya ? Arini kembali jongkok dan kini membersihkan lelehan spremaku dengan lidahnya. Aduh aku merasa geli sekali. Dia kocok kocok lagi agar semua spermaku keluar. Kemudian mengakhirinya dengan sedotan panjang diujung batangku.</p>
<p>Ahhh Arini..kenapa aku harus ejakulasi&#8230;</p>
<p>Selesai berbersih diri dan memakai baju, kami keluar kamar. Rupanya Robert sudah menunggu di depan TV, dia tersenyum dari kejauhan. Ake merasa jengah, merasa tidak enak. Sementara Arini menunduk dan berjalan ragu ke sebelah suaminya.</p>
<p>Dari kursi rodanya, Robert memeluk pinggang istrinya : ”terima kasih Ron, kamu sahabat yang baik. Aku sudah melihat percintaan kalian tadi. Aku berharap kamu tidak keberatan untuk meneruskan nanti.”</p>
<p>Aku hanya mengangguk pelan. Bisakah aku hanya bertahan murni bercinta tanpa melibatkan perasaan ? Aku tidak yakin dengan diriku. Aku tidak yakin nanti tidak jatuh cinta kepada Arini&#8230;dan aku yakin Arinipun mempunyai perasaan yang sama. Sorot matanya ketika bercinta tadi menunjukkan itu. Demikian cerita ku kawan, walau bikin <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">seks</a> bergairah, isteri teman tetaplah milik teman, jadi tak ada niatan untuk mengambilnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/setengah-baya/ml-dengan-istri-teman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Jadi Teman Seks</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/sahabat-jadi-teman-seks/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/sahabat-jadi-teman-seks/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 16:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan teman]]></category>
		<category><![CDATA[teman seks]]></category>
		<category><![CDATA[temanku binal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Oke bro, lanjut lagi cerita seks yang gue bakal ceritain, dan ini cerita gue ambil dari cerita temen gue yang mungkin jadi inspirasi judul lagu band pendatang baru zigaz, Sahabat jadi cinta   . judul cerita kali ini sahabat jadi teman seks. Berikut adalah cerita lengkapnya bro, selamat menyimak.
Gua mau ceritain pengalaman gua dulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oke bro, lanjut lagi <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">cerita seks</a> yang gue bakal ceritain, dan ini cerita gue ambil dari cerita temen gue yang mungkin jadi inspirasi judul lagu band pendatang baru zigaz, Sahabat jadi cinta <img src='http://ceritaseks.ngocok.info/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  . judul cerita kali ini sahabat jadi teman seks. Berikut adalah <a href="http://ceritaseks.ngocok.info/category/cerita/">cerita</a> lengkapnya bro, selamat menyimak.</p>
<p>Gua mau ceritain pengalaman gua dulu waktu gua sekolah di Yogya, sekitar 15 tahun yang lalu. Waktu gua kuliah di Universitas Gadjah Mada. Waktu itu gua lagi kelas Matematik, tiba-tiba ada seorang gadis manis duduk di sebelah gue. Dia pake rok mini banget dan bajunya yang super ketat. Bau tubuh tu cewe bukin gua gelisah. Gua langsung berfantasi yang tidak-tidak, sambil sesekali ngelirik ke dadanya yang montok dan pahanya yang mulus. Sepetinya tu cewe tau kalo gua ngelirikin dia terus. Lalu pura-pura gua nanya ke dia namanya siapa. Terus dia bilang namanya Putri. Tampangnya manis banget dan kulitnya mulus banget. Terus gua ajak ngobrol dia. Tu cewe kayaknya masih malu-malu. Seudah kelas bubaran, gua ajak Putri pergi ke caf?buat makan siang. Seudah gitu gua anterin dia pulang.</p>
<p>Dia ajak gua masuk ke tempat kostnya dan ternyata tempat kostnya ini bebas banget, nggak ada aturan yang ketat. Di sana kita ngobrol lagi sampe larut malam, dan Putri orangnya enak banget buat diajak ngobrol. Rupanya rumahnya juga di Yogya, tapi agak jauh dari kota makanya dia pilih kost, sekalian belajar mandiri katanya. Terkadang dia tersipu malu kalo gua ngeliatin mukanya, dan pipinya merah merona. Gua termasuk cowo yang cukup attractive, tinggi gua 180cm dengan tubuh cukup atletis. Dan gua juga termasuk cowo yang gampang bergaul, terutama sama cewek-cewek. Nggak heran kalau banyak cewek yang ngedeketin gua. Tapi sejauh itu gua nggak pernah tertarik banget sama seorang pun. Soalnya kebanyakan cewe yang gua tau sifatnya agak &#8220;bitchy&#8221;, dan gua nggak suka cewe model gituan. Tapi Putri merupakan cewek yang masih lugu dan sedikit pemalu, benar-benar tipe orang Yogya asli. Dan gua suka banget sama cewek model gituan, apalagi dengan muka yang manis dan tubuh yang aduhai. Setelah ngobrol-ngobrol, gua pamitan pulang. Gua tawarin dia kalo dia perlu batuan gua. Dia hanya menberikan senyumnya yang membuat gua terbayang terus hingga gua nggak bisa tidur malem itu.</p>
<p>Besok paginya gua udah nggak sabar buat ketemu dia lagi. Gua semangat banget waktu gua masuk ke kelas matematik, soalnya gua bakal ketemu dia lagi. Eh, pas gue masuk ke dalam kelas, ternyata dia sudah ada di dalam. Gua langsung duduk di sebelah dia. Pas saat gua say hallo, dia memberikan senyumnya itu yang sungguh dahsyat. Hari ini dia pake kaos tampa lengan dan celana pendek, soalnya emang hari itu sedang panas benget. Seudah kelas gua tawarin dia buat jalan-jalan keliling kota. Dia sepertinya mau banget, tapi malu-malu. Katanya nggak enak nyusahin gue. Tentu saja gua bilang tidak. Gua seneng banget waktu dia bilang OK. Terus gua bawa dia keliling kota Yogya, mulai dari malioboro, sampai ke kaliurang. Seudah itu gua bawa dia makan di Restoran Legian yang cukup terkenal romantis. Kita duduk di pinggir jendela dengan pemandangan Malioboro waktu malam hari.</p>
<p>Dia sepertinya terkagum kagum dengan pemandangan yang begitu romantis ditambah lagu &#8220;Dying Young&#8221; dari Kenny G. Seudah makan gua anterin dia pulang, dan seperti kemarin ini, dia ajak gua masuk ke kamar kostnya Tapi gua bilang udah terlalu malam. Gua nggak enak sama dia, takut dianya udah capek. Tapi dia bilang dia masih seger banget dan pengen ditemenin. Gua girang banget dia bilang gitu. Ya udah gualangsung masuk. Dia duduk di sebelah gua sambil tersipu. Gua tanya kalo dia udah punya pacar atau belum, dan dia bilang belum. Gua tambah semangat! Terus dia tanya kalo gua udah punya pacar belum, tentu saja gua bilang belum soalnya gua emang belon berpacaran.Trus kita ngobrol-ngobrol tentang teman-teman yang sudah punya pacar sambil sesekali gua menggodanya. Kadang dia mencubit gemas tangan gua. Gua mengaduh pura-pura kesakitan sambil padahal suka. Waktu kita habis bahan obrolan, kita hanya berdiam saja. Terus gua memberanikan diri untuk lebih merapatkan posisi duduk kita. Dia sepertinya salah tingkah. Terus gua pegang tangannya sambil melihat wajahnya yang manis itu. Dia tersenyum manis sambil menunduk. Tapi dia memberanikan diri untuk membalas tatapan mataku. Sejenak kita nggak tau mau ngapain dan diam seribu bahasa. Kemudian gua tersenyum dan kemudian kita tertawa lepas menertawakan kejadian itu.</p>
<p>Setelah itu kita kembali terdiam, tapi tatapan mata kita tidak lepas. Kemudian kudekatkan wajahku ke wajahnya. Dan dia diam saja, maka sejenak kemudian kumerasakan kehangatan bibirnya dan dia membalas ciumanku. Setelah ciuman sesaat, dia menyenderkan kepalanya ke pundakku lalu gue rangkul tubuhnya. Dia mengangkat wajahnya dan seperti ingin minta dicumbu. Maka kita berbepelukan dan bercumbu dengan mesranya. Toketnya terasa menempel di dadaku, terasa begitu kenyal dan hangat. Membuat ****** gue berdiri tegang. Gue memberanikan diri untuk memegang buah dadanya dan dia seperti kaget tetapi dia diam saja. Makin lama gue menjadi semakin berani, maka sambil bercumbu kulepas kancing bajunya satu per satu. Dan kemudian kurasakan kulit tubuhnya yang mulus dan kuselipkan tanganku di sela BH-nya. Dan kuraih putting susunya, dia mengerang seperti keenakan. Kemudian tangan gue mulai turun keperutnya dan diteruskan ke selangkangannya dan kurasakan celana dalamnya yang sudah basah. Dia seperti terkejut dan berusaha menolak tanganku. Tapi gue tetap mencoba untuk meraih kemaluannya. Dan sepertinya dia merasakan kenikmatan permainan gue dan membiarkan tangan gue dengan leluasa bermain dengan kemaluannya.</p>
<p>Dan dia pun mulai mendesah kenikmatan. Lalu kulepas seluruh pakaiannya. Dan dia tinggal mengenakan BH dan celana dalamnya. Lalu kubuka bajuku dan dia pun melihat tubuh atletisku. Kemudian kutuntun dia menuju kamar dan kubaringkan di tempat tidurnya. Kulepas BH dan celana dalamnya dan tampaklah tubuh yang begitu sempurna bagiku dengan buah dada yang cukup besar dan memeknya yang ditumbuhin bulu bulu halus. Kemudian kubuka selangkangannya dan tampaklah kemaluannya yang begitu indah berwarna pink dan juga basah. Kemudian kudekatkan kepalaku ke memeknya dan gue pun mulai mencium bau yang mengairahkan. Gue kecup memeknya dan kumainkan kelentitnya dengan lidah gue. Putri hanya mengerang saja sambil memanggil manggil nama gue. Kemudian kulepas celana dan celana dalamku, dan muncullah batang kemaluanku yang sudah tegang sejak tadi. Putri terkejut melihat kemaluanku yang begitu besar. Kuraih tanggannya dan kubimbing ke kemaluanku, Putri kelihatan gugup tetapi senang memainkannya.</p>
<p>Dia seperti melihat barang aneh. Dielusnya dan digenggam erat olehnya. Kemudian kubimbing wajahnya mendekati kemaluanku. Putri tampak kebingungan, kemudian kusuruh dia membuka mulutnya dan mengulum batangku. Putri tampaknya ragu-ragu tapi kelihatan dia ingin tau bagaimana rasanya. Kemudian dia mengulum batangku sambil dihisap seperti permen loli. Kenikmatan yang kurasakan tidak ada duanya. Dia sangat menikmati permainan ini. Kemudian kutanya dia kalau gua boleh memasukkan batangku ke dalam kemaluannya. Dia takut sakit katanya, lalu kubilang kalau sakitnya hanya sebentar saja. Lalu dia merebahkan tubuhnya dan mengangkang. Kemudian kugesek-gesekan kemaluanku di mulut vaginanya. Putri mengerang kenikmatan terus kutekan kontolku ke dalam memeknya. Putri merintih kesakitan dan mengalirlah darah perawan yang segar membasahi kontolku. Gue terus memaju mundurkan kontolku perlahan lahan. Lama kelamaan rintihan kesakitan berubah menjadi desah kenikmatan.</p>
<p>Putri memeluk tubuhku erat sekali dan kurasakan cairan hangat di dalam vaginanya. Dan tubuhnya pun menjadi lemas. Gue tahu bahwa dia sudah mencapai klimax, tetapi aku belum. Maka kupercepat gerakanku, Putri seperti sudah tidak kuat lagi tetapi lama kelamaan dia mulai naik lagi dan mengiringi gerakannku. Gue merubah posisi kita menjadi &#8220;dog style&#8221; dan Putri pun mengerang lebih keras. Memek Putri seperti menghisap dan memijit-mijit ****** gue. Tak lama kumudian gue merasakan kalau gua udah ampir keluar, dan sebentar kemudian air mani gua muncrat di dalam memeknya. Lalu gue dan Putri tebaring lemas. Kemudian kupeluk Putri dan kukecup bibirnya. Dia menangis sepertinya dia merasa bersalah. Kemudian gue tatap matanya dan bilang kalau dia akan menjadi cintaku untuk selamanya. Dia pun tersenyum bahagia dan memelukku erat. Dan dia mebisikkan &#8220;I love you&#8221; di telingaku. Dan kucium dahinya dan kurebahkan kepalanya di dadaku. Malam itu gue tidur berdua dengan Putri di kamarnya.</p>
<p>Tamat dan sampai disini dulu bro, dan gue berharap semua jadi pelajaran buat kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/sahabat-jadi-teman-seks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yati Pembantuku Yang ABG</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/yati-pembantuku-yang-abg/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/yati-pembantuku-yang-abg/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 16:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu bispak]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Enak memang jadi orang kaya, bisa pilih-pilih pembantu, pengen cari yang ABG juga bisa, dan syukur-syukur kalo sang pembantu bisa di eksekusi dengan santai. alias BISPAK. tapi cerita ini sangat berbeda, yati bukan pembantu yang bispak.

kejadiannya sekitar tahun 1995..gua punya pembantu namanya yati..orangnya putih..tokek sedikit mancung (apalagi kalau lagi pake kaos ) umur 17 tahun..kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enak memang jadi orang kaya, bisa pilih-pilih pembantu, pengen cari yang ABG juga bisa, dan syukur-syukur kalo sang pembantu bisa di eksekusi dengan santai. alias BISPAK. tapi cerita ini sangat berbeda, yati bukan pembantu yang bispak.</p>
<p><img title="Pembantu Bispak" src="http://1.bp.blogspot.com/_fn2J1AWrYkY/SnNCQXZaOaI/AAAAAAAACTg/amwGUKd6Yd8/s400/bispak_upn03.jpg" alt="Cewek Bispak" width="320" height="240" /><br />
kejadiannya sekitar tahun 1995..gua punya pembantu namanya yati..orangnya putih..tokek sedikit mancung (apalagi kalau lagi pake kaos ) umur 17 tahun..kalau dibilang putih emang asli ini anak kulitnya putih bukan karena kosmetik atau pake pemutih&#8230;awalnya sih biasa hubungan gua sama dia biasa aja, layaknya majikan dengan pembantu&#8230;.namun sejak dia punya kelakuan aneh&#8230;kelakuan gua juga jadi<br />
berubah aneh&#8230;</p>
<p>yati sejak dikamarnya kemasukan tikus jadi takut tidur dikamarnya sendiri&#8230;.akhirnya Yati suka pindah tidur ke bangku atau ke ruang tengah &#8230;awalnya sih gua biasa aja&#8230;dan dia juga udah gak sungkan dirumah gua karena kerja dah lumayan lama&#8230;.hingga pada suatu malam secara gak sengaja gua lihat dia tidur dengan daster model you can see&#8230;tuh daster bawahnya tersingkap kemana-mana&#8230;waktu itu sekitar pukul 02.00.. busyet tuh gundukan memek tersembul keluar ..gila gua ngaceng abis saat itu&#8230;gua deketin tuh memek gua lihat dari jarak deket&#8230;pelan-pelan gua cium&#8230;buset jantung gua kaya mau copot&#8230;ada memek didekat hidung gua&#8230;anjrit gua ngeceng abis&#8230;! saking gak kuatnya gua langsung Masturbasi didepan pemandangan indah itu,,,keluar deh sperma gua&#8230;.</p>
<p>Sejak peristiwa malam itu&#8230;gua jadi sering cari-cari kesempatan buat nikmati tubuh si yati yang lumayan aduhai buat ukuran pembantu&#8230;dari mulai dia mandi sampai dia masuk kamar mata gua gak pernah lepas mandangin tokek nya yang menantang&#8230;bahkan gak jarang gua intipin dia mandi&#8230;!<br />
gak tahu kenapa kayanya si yati mulai curiga dengan kelakuan gua&#8230;sikap gua yg tadinya biasa mendadak jadi genit&#8230;dan anjingnya tuh yati juga nangkap apa mau gua</p>
<p>..kadang dia suka mancing-mancing gua buat ngomong jorok..buset makin jadi aja gua..awalnya kadang gua suka iseng megang tangannya&#8230;terus meningkat pegang tokek..awalnya dia marah bgt&#8230;tapi gua gak peduli semakin dia marah gua semakin gak peduli&#8230;bahkan gua pernah masuk kamar mandi saat dia baru selesai mandi&#8230;handuk yang melilit dibadannya gua tarik&#8230;hingga terlihat memek sama toketnya&#8230;gua cium bibirnya sambil meluk dan ngeremes toketnya&#8230;(gila ngaceng berat)&#8230;yati marah besar sama gua sejak peristiwa itu&#8230;tapi gua gak pernah takut&#8230;</p>
<p>hingga pada suatu hari keluarga gua pergi sekeluarga keluar kota selama dua hari&#8230;selama dua hari itu gua itu makan minum gua yati yang nyiapin&#8230;.hingga akhirnya terjadilah peristiwa yg gua inginkan&#8230;..</p>
<p>malam itu gua gak bisa tidur&#8230;perasaan gua resah karena adanya dorongan seks yang begitu tinggi..apalagi dengan kenyataan tinggal gua berdua dengan Yati yg ada dirumah&#8230;</p>
<p>Dan benar aja dugaan gua ketika gua keruang tengah gua lihat yati sedang tidur dengan daster yg dia pakai&#8230;.gejolak birahi gua langsung naik keubun-ubun..gemana gak disaat napsu udah melawati batas logika tersedia hidangan nikmat depan mata&#8230;</p>
<p>pelan-pelan gua dekati tubuh yati yg tertidur dikasur palembang&#8230;.gua singakp dasternya&#8230;tuh memek yang masih tetrtutup cd bikin gua ngaceng &#8230;.pelan-pelan gua cium itu <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">memek</a>&#8230;ooh&#8230;..napsu gua makin gila&#8230;.gua mulai naik incer toket nya&#8230;gua cium tuh toket &#8230;eh&#8230;aneh tetap gak ada reakasi&#8230;semakin berani gua angkat/geser tutupan toket si yati..terlihatlah toket si yati walau cuma sebelah&#8230;gua nekat gua emot toketnya si yati yang masih merah pentolnya&#8230;gua gak peduli..dia bangun atau apa&#8230;yati cuma mendeguh&#8230;&#8221;ko&#8230;jangan..! aku ngantuk&#8230;! anjrit..! rupanya dia tahu kalau dia gua gerayangi&#8230;ya udah gua gak pake basa-basi lagi langsung gua tindih si yati gua cium bibirnya..awalnya dia nolak..tapi akhirnya dia ikut ngemut bibir gua juga&#8230;satu demi satu gua buka pakaiannya&#8230;.gua juga gak lupa buka baju gua dan celana gua&#8230;hingaa akhirnya gua sama-sama bugil..yati matanya tertutup (enteh karena ngantuk atau malu&#8230;) gua lansung ciumin toket yati sambil gesek-gesekin kon**l gua didepan gerbang memek si yati&#8230;yati yang tadinya cuma mendeguh..akhirtnya meluk tubuh gua&#8230;.gua semakin gila&#8230;.gua babat habis tu bibir sambil memainkan lidah&#8230;.hampir seluruh tubuh yati gua jilatain kaya kucing mandiin anaknya,,,bahklan pantatnya pun gua jilat&#8230;anjrit&#8230;! disaat puncak birahi yang makin tinggi..gua paks si yati buat buka mata&#8230;(selama gua cumbu dia merem aja) akhirnya dia membuka matanya ..mukanya seperti memohon&#8230;.memelas&#8230;tapi gua tahu apa artinya itu&#8230;.COITUS SEMPURNA..! ketika gua mengangukan kepala, yati juga mengangukan kepalan..tanda setuju&#8230;gua tahu dia masih perawan..makanya gua minta persetujuannya&#8230;pelan tapi pasti..gua mulai mengarahkan penis gua kemulut vaginanya&#8230;susah&#8230;! sempit&#8230;! cape..!..berulang-ulang gua ganti posisi tetap aja..susah..akhirnya yati&#8230;ikut bantu penis gua dengan mengarahkan penis gua dengan tangannya..oh&#8230;kaya kesetrum waktu tangannya megang penis..gua&#8230;.dan akhirnya masuk walaupun hanya sebatas kepala&#8230;pelan-pelan gua dorong supaya masuk lebih dalam&#8230;yati sedikit berteriak..aduh..aduh&#8230;tapi tangan si yati tetap bergelayut dileher gua&#8230;akhirnya gua dorong dengan sedikit tenaga..Blesss&#8230;akhirnya penis gua masuk sempurna kelobang vagina yati yang ajrit masih seret&#8230;.yati memeluk tubuh gua eret-erat sambil mengangkat kedua kakinya&#8230;gua pelan-pelan mendorong maju-mundur penis gua kelobang vegina yati&#8230;kami berciuman sambil saling mendorong bagian bawah&#8230;semakin lama- semakin lancar,,,vagina yati makin basah..gua makin kenceng mendorongnya&#8230;dari mulai bibir sampai toket habis gua cumbu sambil memangang pantat yati supaya gak copot penis gua dari memek yati&#8230;..tiba-tiba yati melenguh &#8230;.dia memluk erat tubuh gua sambil mendorong maju mundur dengan lebih cepat..(.pikir gua gila neh pembantu nekad juga) dan gua merasakan ada cairan rasa hangat di batang penis gua..dan gua gak menyia-nyaiakan sempatan itu untuk sama-sama bareng meyelesaikan permaiinan ini&#8230;napas gua dan yati memburu,,gua dan yati saling peluk dan saling mengengam erat pantat pasangan masing-masing..dan akhirnya croot&#8212;croot..croot&#8230; memek yati basah oleh sperma gua&#8230;sperma gua , gua lepas dalam vagina yati&#8230;(dalam hati gua bodo deh..hamil-hamil deh)&#8230;.yati tersenyum melihat gua..kemudian dia minta dicium bibirnya..gua pun membalas dan akhirnya selesai&#8230;setelah selesai gua dan yati mandi berdua&#8230;dan terjadi pula ronde kedua dikamar mandi walau hanya berlangsung 10 menitan&#8230;tapi sumpah gua puas bgt&#8230;.lalu bagaimanakah nasib yati selanjutnya&#8230;gua juga gak tahu kabar terakhir yg gua tahu dia dah menikah dan punya anak&#8230;tapi jujur gua merasa berdosa karena sudah mengambil harta yang paling berharga yg dimiliki yati &#8220;keperawanan&#8221; . dulu gua sempet mau nikahin dia karena gua merasa bersalah dah ambil dia punya perawan&#8230;tapi yati bilang gak usah&#8230;&#8221; karena ternyata dia dah dijodohkan dengan teman satu kampungnya&#8221;</p>
<p>Sekian ceritanya bos. aku jamin ngecrot.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/yati-pembantuku-yang-abg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Cewek Binal</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/cerita-cewek-binal/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/cerita-cewek-binal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cewek binal]]></category>
		<category><![CDATA[cewek haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[seks cewek binal]]></category>
		<category><![CDATA[seks ibu rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Cewek yang awalnya biasa saja bisa berubah menjadi cewek binal, dan ini terjadi pada salah satu ibu rumah tangga ini dengan seorang satpam perumahan di tempat mereka tinggal. Berikut cerita seks lengkapnya
Semenjak kejadian malam itu, Dewi yang tadinya seorang istri yang menerima keadaan dan tidak pernah mengetahui bahwa bersetubuh itu sangat nikmat berubah menjadi Dewi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cewek yang awalnya biasa saja bisa berubah menjadi cewek binal, dan ini terjadi pada salah satu ibu rumah tangga ini dengan seorang satpam perumahan di tempat mereka tinggal. Berikut <strong>cerita seks</strong> lengkapnya</p>
<p>Semenjak kejadian malam itu, Dewi yang tadinya seorang istri yang menerima keadaan dan tidak pernah mengetahui bahwa bersetubuh itu sangat nikmat berubah menjadi Dewi yang ingin dipuaskan setiap kali bersetubuh, tetapi suaminya tidak pernah dapat memuaskan Dewi seperti biasanya, suaminya selalu keluar duluan pada saat Dewi baru mulai terangsang, setelah itu suaminya langsung tertidur tanpa memperdulikan lagi keadaan istrinya. Hal ini membuat Dewi ingin selalu mencari lagi laki-laki seperti Andi yang dapat memuaskan hasrat birahinya.</p>
<p>Seperti malam itu setelah melakukan hubungan suami istri, suaminya langsung terlelap, sementara Dewi merasa tersiksa karena birahinya tidak terlampiaskan, memeknya terasa gatal ingin merasakan sodokan-sodokan kon**l.</p>
<p>Dengan penuh kesal Dewi beranjak dari tempat tidurnya lalu ia menuju kedapur untuk mengambil segelas air, sambil memegang gelas air minum Dewi beralih menuju keteras depan, kemudian Dewi duduk disofa yang ada diteras.</p>
<p>Saat Dewi sedang duduk merenung didalam kegelapan malam, Dewi melihat sesosok tubuh dari kejauhan sedang berjalan mendekati rumahnya, setelah dekat Dewi mengetahui sesosok tubuh itu adalah seorang Satpam diperumahan dimana ia tinggal, nampaknya Satpam ini sedang menjalankan tugasnya berkeliling komplek yang bersistem cluster ini.</p>
<p>Melihat sosok tubuh Satpam itu yang kekar Dewi tertarik dan birahinya yang belum terlampiaskan berkobar kembali. Tanpa banyak pikir Dewi melambaikan tangannya kearah satpam itu, si satpam yang mengetahui dirinya dipanggil segera menghampiri Dewi.</p>
<p>“Selamat malam, bu” dengan sopan satpam itu menyapa.</p>
<p>Dewi memperhatikan nama Satpam itu diseragamnya lalu membalas sapaannya,” malem pak Sugito, “</p>
<p>Sementara itu mata Sugito tak berkedip menatap tubuh Dewi yang terbalut daster tipis dan disinari oleh lampu teras sehingga membuat tubuh Dewi yang sexy terbayang dengan jelas, membuat birahi Sugito bergolak, perlahan-lahan pentungan diselangkangannya menegang, membuat celana satpamnya menggelembung, semua ini tidak terlepas dari mata Dewi yang memang dari tadi sudah mulai mencuri-curi pandang kearah selangkangan Sugito.</p>
<p>“Adaaa…aapaaa..bu,” tanya Sugito dengan sedikit terbata-bata karena menahan nafsu birahinya yang menggelegak.</p>
<p>Dimatanya terlihat kedua bukit kembar Dewi yang menonjol dan kedua putingnya yang berwarna merah muda tercetak dengan jelas dibalik dasternya, sementara pandangan matanya melihat diselangkangan Dewi bayangan hitam dari balik dasternya, dalam harinya membatin nyonya ini tidak pakai apa-apa lagi dibalik dasternya, Sugitopun menelan air liurnya, ingin rasanya ia menerkam tubuh Dewi ini dan menggenjotnya, tapi pikiran jernihnya masih berjalan karena statusnya yang sebagai satpam dikomplek perumahan ini, bisa-bisa kehilangan pekerjaannya kalau ia melakukan pikirannya itu.</p>
<p>“Bapak, bisa tolongin saya?” tanya Dewi.</p>
<p>“Apaa..yang bisa saya bantu …bu?” Sugito berbalik tanya, suaranya bergetar menandakan Sugito sedang dipenuhi oleh nafsu birahinya.</p>
<p>“Sini, pak. Ikutin saya, yach,” kata Dewi tersenyum.</p>
<p>Dewipun melangkah menuju kedalam rumahnya diikuti oleh Sugito yang masih bingung dan semakin bernafsu, Sugito melihat bongkahan pantat Dewi yang tercetak karena tanpa Dewi sadari dasternya terjepit oleh belahan pantatnya saat ia duduk tadi, Sugito merasakan kon**lnya tambah mengeras.</p>
<p>Setelah menutup pintu depan dan menguncinya, Dewi melangkah menuju kekamar tidur tamu yang tidak terlalu berjauhan dengan ruang tamu, Sugito masih mengikutinya dengan penuh tanda tanya, hatinya membatin apa yang dibutuhkan oleh nyonya muda ini dari dirinya, sesampainya didalam kamar tidur, Dewi langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.</p>
<p>“Saya, butuh bantuan bapak untuk muasin saya,” Dewi berkata sambil tangannya mulai meraih kemeja seragam satpam Sugito, dan mulai membukai kancingnya satu persatu dengan sangat cekatan.</p>
<p>Setelah kemeja Sugito terlepas, tangan Dewi beralih kecelana Sugito, celana Sugito dengan cepat telah terbuka, lalu Dewi menurunkan celana seragam itu kebawah, tapi Dewi agak kesulitan menanggalkan celana itu karena terhalang oleh sepatu Satpam Sugito.</p>
<p>“Pak, lepaskan sepatunya dong,” kata Dewi.</p>
<p>Sugito yang masih belum lepas kagetnya karena mendengan perkataan Dewi tadi dan perbuatan Dewi yang melucuti pakaiaannya, mengikuti perintah Dewi dengan melepaskan sepatunya, sekarang Sugito hanya mengenakan celana dalamnya saja, tonjolan dibalik celana dalamnya membuat Dewi semakin bernafsu, dengan bernafsu ditariknya kebawah celana dalam Sugito sehingga kon**l Sugito terangguk-angguk dengan gagahnya, Dewi terbelalak melihat kon**l Sugito yang lebih panjang dan besar dari punya Andi, apalagi kalau dibandingkan dengan punya suaminya, sambil menurunkan celana dalam Sugito Dewipun berjongkok didepan Sugito dan kon**l Sugito yang berdiri dengan tegak itu mulai dijilatinya, dari mulai ujung kepalanya sampai kepelernya, sambil kadang-kadang ditingkahi dengan kuluman-kuluman dan hisapan hisapan lembut, membuat Sugito yang masih seperti bermimpi ini mendesah-desah keenakan, batin Sugito masih belum mempercayai apa yang terjadi ini, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya bahwa kon**lnya akan dijilati dan dikulum-kulum oleh wanita secantik dan sesexy Dewi apalagi wanita ini termasuk dari golongan yang terhormat, yang secara tidak langsung adalah yang membayar gajinya.</p>
<p>“Oughh…aaaahhhh….sshhhhh…aaaghhhh…buuu….uueennaaak kk…tennaaan…oougghh…” Sugito mengerang keenakan, menikmati kon**lnya yang sedang dikaraoke oleh Dewi.</p>
<p>“hhhmmm…ssshhsss…sssllrrppp…ssssllrppp…hhhhmmm..ko ntolmu besar sekali,” Dewi bergumam sambil tetap asyik mengulum dan menjilati pentungan Sugito, tangan kirinya asyik memegangi pentungan Sugito, sementara tangan kanannya asyik mengelus-elus memek dan kelentitnya.</p>
<p>Sugitopun akhirnya tidak mau diam saja, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua bukit kembar Dewi yang masih tertutup daster, remasan-remasan kasarnya mulai membuat Dewi menggelinjang kegelian, Dewipun merasakan lubang vaginanya semakin basah, Dewipun menghentikan aksinya, kemudian ia berdiri lalu mulai melepaskan dasternya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan Sugito, mata Sugito terbelalak melihat keindahan tubuh Dewi, betul-betul ia seperti bermimpi, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa dia akan melihat tubuh Dewi telanjang apalagi akan menikmatinya seperti saat sekarang ini.</p>
<p>Setelah melepaskan dasternya Dewi merebahkan tubuhnya diranjang, kemudian Dewipun mulai mengangkangkan kedua belah kakiknya, sehingga lubang kenikmatannya yang berwarna merah terpampang dihadapan Sugito.</p>
<p>“Ayo pak, beri aku kepuasan,” Dewi berkata sambil tangannya mengelus-elus kelentit dan lubang vaginanya.</p>
<p>Mendengar permintaan Dewi itu, Sugito tersenyum lalu menghampiri Dewi yang sudah terlentang menantikan sodokan pentungan satpamnya. Diusap-usapkannya kepala kon**lnya dibelahan vagina dan dikelentit Dewi, membuat Dewi menggelinjang kegelian, hasrat birahinya semakin bertambah bergelora, nafasnya semakin memburu.</p>
<p>“Oughhh….paaakk….jaaanggaannn….dielussss-elusss..sssshh..aagchhhh…mmaasuukkiin……. kememekku…paakkk…ooughhh…aakuuu…tidak taahan lagi…ceepaat…paakk…akuu..ingin merasakan kon**lmuuu…yang besaaarr itu…’” Dewi mengerang menyuruh Sugito untuk cepat memasukkan kon**lnya kedalam memeknya.</p>
<p>Dengan perlahan-lahan Sugito mulai menyelipkan kepala kon**lnya dibelahan memek Dewi, setelah itu dengan perlahan-lahan Sugito mulai menekan kon**lnya, kon**l Sugito mulai melesak kedalam lubang senggama Dewi perlahan-lahan, Dewi mengejang merasakan kon**l Sugito yang besar melesak kedalam lubang vaginanya, ia merasakan agak sedikit sakit karena besarnya kon**l Sugito dan karena untuk pertama kalinya juga vaginanya diterobos oleh kon**l besar.</p>
<p>kon**l Sugito perlahan-lahan mulai terbenam didalam lubang senggama Dewi, setelah lebih dari setengah dari panjang batang kon**lnya terbenam didalam memek Dewi, Sugito mulai mengangkat kedua belah kaki Dewi, kemudian kedua kaki Dewi ditekan kearah tubuh Dewi sendiri, sehingga lutut Dewi hampir menyentuh dada Dewi sendiri, dengan posisi seperti itu Sugito lalu menghentakkan kon**lnya sekaligus, sehingga seluruh batang kon**lnya terbenam dalam memek Dewi, sentakan Sugito membuat Dewi terhenyak dan menahan nafas, Dewi merasa memeknya seperti robek, tak lama berselang Sugito mulai memaju-mundurkan kon**lnya dengan perlahan karena tadi saat ia menghentakkan kon**lnya ia melihat Dewi meringis menahan sakit.</p>
<p>Lama-lama rasa sakit dilubang memeknya mulai hilang terganti dengan rasa nikmat yang sangat melebihi kenikmatan yang ia rasakan bersama Andi, nampaknya Sugito sangat berpengalaman dalam urusan nge***t dan memuaskan wanita. Desahan, erangan dan lenguhan kenikmatan semakin sering keluar dari mulut Dewi dan Sugito, keduanya betul-betul merasakan kenikmatan duniawi yang belum pernah dialami oleh mereka selama ini, Dewi memang belum pernah merasakan sensasi bersetubuh seperti sekarang ini, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh jejalan kon**l Sugito, seluruh area sensitif didalam lubang senggamanya tersentuh oleh gesekan-gesekan kon**l Sugito, sementara Sugito sendiri belum pernah merasakan tubuh mulus dan putih dan lubang vagina yang sempit seperti yang dimiliki oleh Dewi, apalagi keharuman tubuh Dewi yang menambah hasrat birahinya.</p>
<p>“Ouughh..paakk..kon**lmuuu…besaaarr…sekaaliii..pen uh memekkuuu..dibuatnyaa…” Dewi mengerang-erang kenikmatan menikmati sodokon-sodokan kon**l Sugito.</p>
<p>“Buuu…aaaghhh…memeekk…ibuuu…juuugaa…seemppit…sekaa lliii…”erang Sugito keenakan menikmati jepitan memek Dewi dibatang kon**lnya.</p>
<p>“teruusss…paakk….puaasskkaan..aakhhuu…sshhh..aaach h….eenaakkk…ooughhh…”Dewi mendesah-desah, sementara tubuhnya mengejang-ejang menikmati sodokan-sodokan Sugito.</p>
<p>Kadang-kadang Dewi mengangkat pinggulnya menyambut kedatangan kon**l Sugito, mengakibatkan kon**l Sugito terbenam lebih dalam, dan menyentuh dinding rahimnya. Gelinjangan tubuh Dewi menikmati persetubuhan ini semakin menjadi-jadi saat Sugito mulai menciumi leher Dewi yang jenjang dan jilatan-jilatan dikedua belah telinga Dewi, membuat sensasi persetubuhan ini semakin menjadi-jadi. Kedua bibir mereka pun kadang-kadang berpagutan dengan penuh nafsu, kedua lidah mereka saling bertautan.</p>
<p>Tiba-tiba tubuh Dewi mengejang sementara tangannya meremas-remas rambut Sugito, kedua kakinya mengait pinggul Sugito, pinggulnya terangkat menyambut sodokan Sugito, merasakan ini Sugito pun semakin mempercepat sodokan-sodokannya,.</p>
<p>“Ouuggg..paakkk….eenaakk…sekaaalii….ooughhh…aakhhu u…mmauuu..keluuaaar..aaachhh..” Dewi mengerang, tubuhnya mengejang menyambut puncak birahinya yang akan tercapai.</p>
<p>“Agghhh…buuu…akhuuu…jughaaa,….mmaauu…kellluar….oou ghhh….”Sugitopun mengerang bersamaan dengan erangan Dewi.</p>
<p>Creeetttt….sssrrrrr…&#8230;creeeet……ssssrrrr…cccreeett t…..ssrrr</p>
<p>Dewi dan Sugito berbarengan menggapai puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka ini, kedua kemaluan merekapun berbalasan memuntahkan lahar kenikmatannya, mereka berdua merasakan kedutan-kedutan kemaluan pasangan masing-masing dan semburan-semburan hangat dari lahar kenikmatan mereka.</p>
<p>Setelah tetes terakhir dari lahar kenikmatan mereka keluar, Sugito perlahan-lahan mulai menarik kon**lnnya yang sudah mulai mengecil, dari lubang senggama Dewi nampak mengalir cairan putih bercampur dengan lendir bening, menetes kekain sprei.</p>
<p>“Terimakasih pak, bapak telah memberikan saya kepuasan,” Dewi berkata kepada Sugito masih dengan nafas yang memburu.</p>
<p>“Sama-sama, Bu..kalau nanti ibu butuh bantuan saya lagi, ibu bisa panggil saya lagi,” jawab Sugito sambil menawarkan bantuannya lagi.</p>
<p>Dibalas dengan senyuman oleh Dewi, kemudian kedua insane ini kembali mengenakan pakaian mereka kembali, setelah selesai Dewi mengantar Sugito kepintu dan memberikan kecupan dipipi Sugito sambil mengucapkan terimakasih lagi, setelah itu Dewi mengunci pintu dan menuju kekamar tidurnya.</p>
<p>Tamat dan <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">cerita seks</a> itu terus berlanjut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/cerita-cewek-binal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Dengan Asisten</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/cerita/seks-dengan-asisten/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/cerita/seks-dengan-asisten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 19:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[birahi asisten]]></category>
		<category><![CDATA[cerita daster]]></category>
		<category><![CDATA[ml dengan bawahan]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot asisten]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Seks. Nikmatnya menjadi atasan, kadang kalo beruntung bisa menikmati tubuh bawahan, seperti sekretaris ataupun asisten, dan hubunganpun terjadi tanpa ikatan dan paksaan, suka sama suka dan asal saling menikmati dan saling merasakan kepuasan. Aku menjabat Kepala Cabang perusahaan asing ternama disalah satu kota di Sumatra. Dalam pekerjaan ku, salah satu team ku sebagai asisten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita Seks</strong>. Nikmatnya menjadi atasan, kadang kalo beruntung bisa menikmati tubuh bawahan, seperti sekretaris ataupun asisten, dan hubunganpun terjadi tanpa ikatan dan paksaan, suka sama suka dan asal saling menikmati dan saling merasakan kepuasan. Aku menjabat Kepala Cabang perusahaan asing ternama disalah satu kota di Sumatra. Dalam pekerjaan ku, salah satu team ku sebagai asisten ku,bernama Ika sudah bersama ku selama 3 tahun lebih.</p>
<p>Ika sangat menarik, dandanannya cukup simple, namun suka pakai rok mini. Dalam pekerjaan sehari-hari aku dan Ika selalu membicarakan tugas, tidak pernah melenceng ke hal-hal sex, meskipun aku sering mencuri-curi ke arah pahanya yang mulus, yang tidak ter”cover” oleh rok-nya yang mini. Sering aku menghampiri meja kerjanya untuk membicarakan tugas, dan Ika dengan santainya membicarakan serius tanpa gaya merayu atau apapun. Paha yang terlihat pun tidak ada usaha untuk menutupinya ataupun. Pokoknya hubungan ku “straight” sebatas pekerjaan.</p>
<p>Adalah hal rutin untuk saya berkunjung ke kantor pusat Jakarta untuk urusan rapat dll. Namun kejadian minggu lalu adalah hal yang benar2 berbeda.</p>
<p>Undangan rapat pun tiba dan kantor pusat memanggil kami untuk rapat membicarakan krisis, karena cukup penting maka kantor pusat memanggil beberapa staff cabangku termasuk Ika.</p>
<p>Sengaja aku sampaikan ke Ika bahwa dia aku utuskan untuk hadir di Jakarta, namun dibalik itu aku memang rencanakan untuk hadir, aku booking tiket pesawat secara terpisah.</p>
<p>Pada hari H, aku langsung check in di counter Garuda, saat boarding sengaja aku masuk pesawat paling akhir, sambil jalan di gang aku lihat penumpang dan terlihatlat Ika yang sudah duduk dikursi jendela. Belum selesai dia terkaget akan kehadiranku, aku sudah langsung bilang bahwa aku putuskan untuk ikut rapat. Dalam perjalanan hampir dua jam lebih aku hanya bisa melihat Ika dari belakang, karena aku dapat kursi paling belakang sedangkan Ika ada ditengah.</p>
<p>Saat mendarat di Jakarta, langsung aku menghampirinya dan aku jelaskan lagi bahwa aku putuskan untuk ikut karena pentingnya rapat ini, dan Ika pun hanya mengangguk sembari menjawab “Ya Pak” dengan nada pelan, sambil dalam hati kebingungan (mungkin).</p>
<p>Dari Airport Jakarta langsung kami menuju ke Hotel Mulia tempat kami meeting dan menuju ke salah satu Ballroom untuk mengikuti meeting. Karena waktu yang mepet sekali, kami langsung menuju ke Ballroom tsb tanpa check in kamar terlebih dahulu. Rapat pun berjalan serius dan berakhir sore hari.</p>
<p>Saya langsung suruh Ika untuk check in ke reception, sempat Ika menanyakan apakah saya mau check in kamar juga. Saya jawab nanti saya susul setelah saya menemui atasan saya di Ball room itu.</p>
<p>Selesai berbicara dengan atasan saya, saya menuju ke reception, dari jauh aku melihat Ika dari belakang dengan rok mininya serta terlihat pahanya yang mulus yang sudah aku hafal benar…</p>
<p>Ku dekati Ika dan langsung Ika nanya, Bapak mau check in juga? Aku hanya bilang kamu check in saja dulu, aku nanti nyusul.</p>
<p>Selesai check in Ika menuju lift untuk kekamar, aku ikuti sambil membicarakan topic rapat tadi, Ika pun masuk lift dan memasukkan kartu kamarnya dan menekan tombol lantai 17. Didalam lift aku jelaskan bahwa kamar hanya pesan satu, dan aku tanya Ika apakah dia keberatan kalau aku gabung dikamar dia, plus aku tambahkan sekalian menghemat anggaran kantor cabangku, toh cuman untuk tidur saja.</p>
<p>Ika terlihat bingung namun juga tidak bilang keberatan atau tidak keberatan, sambil jalan ke kamar yang dituju. Sesampainya dikamar aku langsung aja menaruh koper kecilku, dan Ika sempat menanyakan apakah aku serius mau sekamar dengannya.</p>
<p>Aku tegaskan lagi bahwa kalau hanya untuk tidur semalam gak ada masalah. Akhirnya sambil terheran-heran, Ika meng-iya-kan, tanpa menyebut syarat-syarat.</p>
<p>Kami pun mulai melepaskan baju kantor kami, aku lepas dikamar dan Ika masuk ke kamar mandi untuk ganti baju sekaligus membersihkan diri.</p>
<p>Aku hanya bilang sehrian capek kita gak usah keluar makan, kita order room service saja, Ika pun langsung setuju.</p>
<p>Sambil menunggu makanan room service aku pun mandi, namun dalam otak ku hanya terbayang tubuh Ika yang mulus.</p>
<p>Setelah kami makan, Ika pun kembali ke kamar mandi (aku pun tidak tahu apa yang dia perbuat), aku santai sambil nonton Star Sport dikamar, duduk di soaf yang nyaman. Interior hotel yang indah membuat suasana sangat romantis, ditambha sinar lampu yang pas.</p>
<p>Ika pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan daster warna kuning muda, sambil berbaring di ranjang dan ikut menonton Star Sport, Ika menanyakan mengenai posisi tidur, karena ranjang yang kami dapat adalah King Size Bed, aku hanya bilang aku biasa di sebelah kanan, maka Ika pun langsung ke sebelah kiri.</p>
<p>Ika tidak menyukai tayangan sport di TV, dan dia bilang mau tidur. Sepuluh menit kemudian aku pun ke tempat tidur, lampu aku redupkan, dengan hati yang berdebar.</p>
<p>Lima menit, sepuluh menit waktu berlalu aku pun tidak bisa langsung tidur lelap. Ku lihat Ika pun beberapa kali pendah posisi, yang pasti Ika belum bisa tidur juga.</p>
<p>Setengah jam pun berlalu, kondisi masih sama, kami berdua masih gelisah dalam hati, sampai pada akhirnya aku usap daster Ika warna kuning muda yang sedang bertolak muka dengan aku. Dengan pelan namun pasti, Ika membalikkan badan dan kontan tangannya membalas usapanku.</p>
<p>Aku langsung mendekat dan memeluk tanpa tolakan sedikitpun dari Ika, malah Ika pun memulai gerakan erotisnya. Aku aba pahanya yang sering aku tatap dikantor kini ada di genggamanku. Tangan jahil ku pun mulai meraba hingga ke arah Miss. V nya.</p>
<p>Tak sabar aku langsung perlahan melepas dastenya yang lembut, dan sekali lagi Ika pun tidak menolaknya, bahkan wajahnya dibuat manja, sehingga aku tak tahan untuk menciuminya. Lepaslah sudah datser kuning muda itu, dan dari wajah aku turun menciumi leher, pundak, dan akhirnya menuju ke ketiaknya yang bersih tanpa bulu, Ika pun mulai mengerang-ngerang nikmat.</p>
<p>Puas mencium kedua ketiaknya, aku menuju toked-nya yang kencang pertanda birahi. Beberapa saat kemudian aku menelusuri perut hingga tiba di Miss V nya yang masih tertutup celana dalam. Kunikmati celana dalamnya nya yang halus di remang-remang kamar Hotel Mulia yang romantis. Ika mengenakan celana dalam biasa (bukan lingerie) warna krem dengan gambar kecil panda lucu. Ku sadari bahwa Ika tidak menyangka kalau malam itu dia ada acara “honeymoon” dengan aku.</p>
<p>Perlahan sambil menikmati celana dalamnya yang biasa, aku melepaskan nya melihat Miss V nya yang ditumbuhi rambut yang natural. Foreplay pun dimulai dengan berbagai posisi dan bertaburan kecupan dari masing-masing insan. Aku sadar bahwa Ika pun sudah siap setelah meraba Miss V nya yang sudah licin sekali.</p>
<p>Aku pun melepas busana secepat kilat dan langsung menancapkan secara perlahan tapi pasti Mr. P ku ke Miss V nya. Wow, beberapa kali goyangan di Miss V yang licin sempat membuat Mr. P ku muntah, tapi aku pakai teknik untuk mengurangi sensitivitas. Beberapa posisi aku coba sampai pada saatnya Ika yang sedang berada diatasku tiba2 mengerang sambil kurasakan Miss V nya makin menghimpit Mr. P ku, saat itulah Ika mengalami orgasme yang hebat. Tak kuasa aku melihat sambil merasakan Miss. V nya yang lagi action, aku pun mencapai puncaknya, namun aku langsung sadarbahwa aku belum pernah membicarakan soal kontrasepsi yang dia pakai (gak tahu pakai atau tidak), dengan berat hati aku langsung angkat sedikit tubuh Ika agak Mr. P ku keluar segera dai Miss V nya, dan muntah sperma ku di tubuhku sendiri, sedikit mengenai perut Ika.</p>
<p>Tanpa ijin Ika aku langsung tarik daster kuning mudanya untuk mengelap sperma yang berceceran, Ika pun tidak sempat komplain karena dia lemas dan penuh kepuasan….</p>
<p>Dalam hitungan menit, kami pun berdua tertidur lelap tanpa busana, hanya berselimutkan selimut putih tebal yang lembut…</p>
<p>Ketika matahari pagi mulai bersinar, korden Hotel Mulia yang tidak rapat tertutup menembuskan sinar matahari pagi yang mebangunkan kami. Tak tersadarkan aku bangun sambil memeluk perut Ika yang ramping dan mulus. Aku pun mulai mengusap kelembutan kulitnya, kuciumi bibirnya dan Ika pun terbangun. Beberapa pelukan pun terjadi yang membuat Mr. P ku memanjang lagi, tanpa basa basi yang panjang aku pun terlibat dalam permainan yang tidak kalah serunya, kali ini to the point karena semuanya sudah terbuka. Beberapa kalai kami berganti posisi bagai pegulat profesional, hingga akhirnya posisiku diatas dan terus menggenjot Miss V nya yang licin. Lebih lama dari pergulatan semalam, aku mampu menahan klimaks, Ika pun terlihat sudah mencapai orgasme, dan aku pustuskan untuk memuntahkan sperma ku, sekali lagi diluar Miss V nya, rambut kemaluannya pun terlihat berceceran sperma ku. Sempat kuatir kalau kalau ada sperma yang masuk ke Miss V nya.</p>
<p>Akhirnya aku pun menyarankan agar ika cepat-cepat membersihkan ceceran sperma yang menetes didaerah vagina, kami pun mandi bareng dikamar mandi dengan saling usap dan sabun. sangat romantis dan tak dapat dilupakan. <strong>Sekian</strong>.</p>
<p><a href="http://ceritaseks.ngocok.info">Cerita Seks</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/cerita/seks-dengan-asisten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Dengan Tetangga Rumah</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga-rumah/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 18:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan seks]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Bearwal dari kedekatan keluarga, akhirnya dua tetangga ini berselingkuh, Cerita seks ini diceritakan seorang istri yang akhirnya mendapatkan kenikmatan seks yang didapatkan, kepuasan seks yang sebelumnya gak pernah dirasakan, membuat istri selingkuh.
Aku dan suami sudah pindah kerumah kami sendiri. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan yang masih sangat baru. Belum banyak penghuni yang menempatinya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bearwal dari kedekatan keluarga, akhirnya dua tetangga ini berselingkuh, <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">Cerita seks</a> ini diceritakan seorang istri yang akhirnya mendapatkan kenikmatan seks yang didapatkan, kepuasan seks yang sebelumnya gak pernah dirasakan, membuat istri selingkuh.</p>
<p>Aku dan suami sudah pindah kerumah kami sendiri. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan yang masih sangat baru. Belum banyak penghuni yang menempatinya, malahan di gang rumahku (yang terdiri dari 12 rumah) baru 2 rumah yang ditempati, yaitu rumahku dan rumah Pras. Rumah Pras hanya berjarak 2 rumah dari rumahku. Karena tidak ada tetangga yang lain, Pras jadi cepat sekali akrab dengan suamiku.<br />
Aku dan Winda, istri Pras jadi seperti sahabat lama, kebetulan kami seumuran. Hampir tiap hari kami saling curhat tentang apa saja, termasuk soal seks. Biasa kami berbincang di teras depan rumah Winda kalau sore sambil Winda menyuapi Aria, anak mereka. Aku kurang &#8220;happy&#8221; soal urusan ranjang ini dengan suamiku. Bukannya suamiku ada kelainan, tapi dia senangnya tembak langsung tanpa pemanasan dahulu, sangat konservatif tanpa variasi dan sangat egois. Begitu sudah ngecret ya sudah, dia tidak peduli dengan aku lagi. Sehingga aku sangat jarang mencapai kepuasan dengan suamiku. Sebaliknya Winda bercerita kalau dia sangat &#8220;happy&#8221; dengan kehidupan seksnya. Pras hampir selalu bisa memberikan kepuasan kepada istrinya. Kami saling berbagi cerita dan kadang sangat mendetail malah. Sering aku secara terbuka menyatakan iri pada Winda dan hanya ditanggapi dengan tawa terkekeh2 oleh Winda.</p>
<p>Jum&#8217;at petang itu kebetulan aku sendirian di rumah. Terdengar ketukan di pintu sambil memanggil2 nama suamiku.Aku membukakan pintu. &#8220;Eh .. Mas. Masuk Mas,&#8221; sapaku ramah. Aku baru selesai mandi sehingga tanpa make up dengan rambut yang masih basah tergerai sebahu. Aku mengenakan daster batik mini warna hijau tua dengan belahan dada rendah, tanpa lengan yang memeperlihatkan pundak dan lengan yang putih dan sangat mulus. &#8220;Nnng &#8230; suamimu mana Sin?&#8221; &#8220;Wah ke luar kota Mas.&#8221; &#8220;Tumben Sin dia tugas luar kota. Kapan pulang?&#8221; &#8220;Iya Mas, kebetulan ada acara promosi, jadi dia harus ikut, sampai Minggu baru pulang. Mas Pras ada perlu ama suamiku?&#8221; &#8220;Enggak kok, cuman pengin ngajak catur aja. Lagi kesepian nih, Winda ama Aria nginep dirumah ibunya.&#8221; &#8220;Wah kalo cuman main catur ama Sintia aja Mas.&#8221; &#8220;Emang Sintia bisa catur?&#8221; &#8220;Eit jangan menghina Mas, biar Sintia cewek belum tentu kalah lho ama Mas.&#8221; kata ku sambil tersenyum. &#8220;Ya bolehlah, aku pengin menjajal Sintia,&#8221; katanya dengan nada agak nakal.Aku hanya tersenyum menjawab godaanku. Aku membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan dia duduk di kursi tamu. &#8220;Sebentar ya Mas, Sintia ambil minuman. Mas susun dulu caturnya.&#8221;<br />
Aku melenggang ke ruang tengah. Pas aku melangkah sambil membawa baki yang berisi 2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemarannya dan suamiku kalau lagi main catur, dia sedang menyusun biji2 catur dipapannya. Aku membungkuk meletakkan baki di meja, mau tak mau belahan dada dasterku terbuka dan menyingkap dua bukit toketku yang putih dan sangat padat. Aku tidak memakai bra. Kemudian aku duduk di kursi sofa di seberang meja. &#8220;Siapa jalan duluan Mas?&#8221; &#8220;Sintia kan putih, ya jalan duluan dong,&#8221; jawabnya. Beberapa saat kami mulai asik menggerakkan buah catur. Aku membuktikan bahwa aku cukup menguasai permaian ini. Beberapa kali langkah ku membuat dia harus berpikir keras. Tapi aku pun kerepotan dengan langkahnya. Beberapa kali aku harus memutar otak. Kadang2 aku membungkuk di atas meja yang rendah itu dengan kedua tanganku bertumpu di pinggir meja. Posisi ini tentu saja membuat belahan dasterku terbuka lebar dan kedua toketku yang aduhai itu menjadi santapan empuk kedua matanya. Satu dua kali dalam posisi seperti itu aku mengerling kepadanya dan memergoki dia sedang menikmati toketku. Aku membiarkan matanya menjelajahi toketku sehingga aku sama sekali tidak mencoba menutup daster dengan tanganku. &#8220;Cckk cckk cckk Sintia memang hebat, aku ngaku kalah deh.&#8221; &#8220;Ah dasar Mas aja yang ngalah dan nggak serius mainnya. Konsentrasi dong Mas,&#8221; jawab ku sambil tersenyum menggoda. &#8220;Ayo main lagi, Sintia belum puas nih.&#8221; kataku rada genit.</p>
<p>Kami main lagi, permainan berjalan lebih seru, sehingga suatu saat ketika sedang berpikir, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji catur yang sudah &#8220;mati&#8221; ke lantai. Dengan mata masih menatap papan catur aku mencoba mengambil biji catur tsb dari lantai dengan tangan kananku. Rupanya dia juga melakukan hal yang sama, sehingga tanpa sengaja tangan kami saling bersenggolan di lantai. Entah siapa yang memulainya, tapi kami saling meremas lembut jari tangan di sisi meja sambil masih duduk di kursi masing2. Aku melihat ke arah nya. dia masih dalam posisi duduk membungkuk . Jari tangan kirinya masih terus meremas jari tangan kananku. Dia menjulurkan kepalaku dan mencium dahi ku dengan sangat mesra. Aku sedikit terperanjat dengan langkahnya, tapi hanya sepersekian detik saja. Aku melenguh pelan, &#8220;oooohhh &#8230;&#8221;Dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mengkulum lembut bibir ku sambil tangan<br />
kanannya melingkar di belakang leherku. Aku menyambutnya dengan mengulum balik bibirnya. Kami saling berciuman dengan posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja. Kuluman bibirnya ke bibirku berubah menjadi lumatan. Bibirku disedot pelan, dan lidahnya mulai menyeberang ke mulutku. Aku pun menyambutnya dengan permainan lidahku.</p>
<p>Merasa tidak nyaman dalam posisi ini, dia lepaskan ciumannya. Dia bangkit berdiri, berjalan mengitari meja dan duduk di sisi kiri ku. Belum sedetik dia duduk aku sudah memeluknya dan bibirnya kembali melumat kedua bibirku. Lidahnya terus menjelajah seluruh isi mulutku sepanjang yang bisa dia lakukan. Aku pun tak mau kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum pernah berciuman begini hot, bahkan dengan suamiku sekalipun. Dia menciumi sisi kiri leher ku yang putih jenjang. Rintih kegelian yang keluar dari mulut ku dan bau sabun yang harum semakin memompa semangatnya. Ciumannyabergeser ke belakang telinga ku, sambil sesekali menggigit lembut cupingnya. Aku semakin menggelinjang penuh kegelian bercampur kenikmatan. &#8220;Aaahhhh &#8230; aaaahhhhh,&#8221; aku merintih pelan. Dia merangkul leherku dengan lengan kanannya. Tangan kanannya mulai menelusup di balik dasterku dan merayap pelan menuju puncak toket ku yang sebelah kanan. Toketku memang sangat padat. Bentuknya sempurna, ukurannya cukup besar karena tangannya tak mampu mengangkup seluruhnya. Jari2nya mulai menari di sekitar pentil ku yang sudah tegak menantang. Dengan ibu jari dan telunjuknya dia memelintir lembut pentilku yang mungil itu. Aku kembali menggelinjang kegelian. Aku menolehkan wajah ke kiri dengan mata yang masih terpejam. Dia melumat bibirku. Kami kembali berciuman dengan panasnya sambil tangannya terus bergerilya di toket kananku. Ciumannya semakin ganas dan sesekali menggigit lembut bibirku.<br />
Tangan kirinya digerakkan ke paha kiri ku yang mulus. Lambat namun pasti, usapan tangan diarahkannya semakin keatas mendekati pangkal pahaku. Ketika jarinya mulai menyentuh cd ku di sekitar no nokku, dia menghentikan gerakanku. Tangan kirinya kembali diturunkan, dia mengusap lembut pahaku mulai dari atas lutut. Gerakan ini diulang beberapa kali sambil tangan kanannya masih memelintir pentil kanan ku dan mulut kami masih saling berpagutan. Ciumannya semakin mengganas. Dia pun mulai meraba no nokku yang masih terbalut cd itu. no nokku berdenyut lembut . Dengan jari tengah tangan kirinya, dia menekan pelan tepat di tengah no nokku. Denyutan itu semakin terasa. &#8220;Aaahh &#8230; Mas&#8230; aahhh .. iya .. iya,&#8221; aku melenguh sambil sedikit meronta dan kedua tanganku menyingkap daster miniku serta menurunkan cdku sampai ke lutut. Serta merta matanya bisa menatap leluasa no nokku. Bukitnya menyembul indah, jembutku cukup lebat. Di antara kedua gundukan no nokku itu terlihat celah sempit yang kentara sekali berwarna merah kecoklatan. Kemudian jari2 tangan kirinya mulai membelai semak2 yang terasa sangat lembut itu. Aku bereaksi terhadap belaiannya dengan menciumi leher dan telinga kanannya. Aku semakin erat memeluknya. Tangan kanannya dari tadi tak berhenti meremas2 toket ku yang sangat berisi itu. Jari2nya mulai mengusap lembut no nokku yang sangat halus itu. Perlahan dia menyisipkan jari tengah kirinya di celah no nokku. Aku rasakan sedikit lembab dan agak berlendir. Dia menyusup lebih dalam lagi sampai dia menemukan it ilku yang sangat mungil . Dengan gerakan memutar lembut dia mengusap it ilku. &#8220;Ahhhh &#8230; iya &#8230; Mas .. ahhhh .. ahhhh.&#8221; Jari tengahnya ditekan sedikit lebih kuat ke it ilku, sambil digosokkan naik turun. Aku meresponsnya dengan membuka lebar kedua pahaku, namun gerakanku terhalang cd yang masih bertengger di kedua lututku. Sejenak ia menghentikan gosokan jarinya, dia menggunakan tangan kirinya untuk menurunkan cdku. Aku membantu dengan mengangkat kaki kiriku hingga cdku terlepas dan hanya menggantung di lutut kanan ku. Gerakan ku sudah tak terhalang lagi. Dengan leluasa aku membuka lebar kedua pahaku. Jarinya sekarang leluasa menjelajah seluruh no nokku yang sudah sangat licin berlendir itu. Dia menggosok2 it il ku dengan lebih kuat sambil sesekali mengusap ujung no nokku dan digesek keatas kearah it ilku. Aku menggelinjang semakin hebat. &#8220;Aaaaaahhhhh &#8230;. Mas .. Mas &#8230;.. ahhhhh .. terus &#8230; ahhhhh,&#8221; pintaku sambil merintih. Intensitas gosokannya semakin dia tingkatkan. Dia mulai mengorek bagian luar lubang no nokku. &#8220;Iya &#8230; ahhh &#8230; iya .. Mas &#8230;&#8221;</p>
<p>Aku hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalaku terdongak kebelakang, mataku tertutup rapat. Mulutku terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan erangan penuh kenikmatan. Tanganku terkulai lemas tak lagi memeluknya. Tangan kanannya pun sudah berhenti bekerja karena merangkul aku dengan erat agar aku tidak melorot ke bawah. Daster ku sudah terbuka sampai keperut, menyingkap kulit yang sangat putih mulus tak bercacat. Cdku masih menggantung di lutut kananku. Pahaku mengangkang maksimal. Jarinya masih menari-nari di seluruh bagian luar no nokku. Dia sengaja belum menyentuh bagian dalam no nokku. Aku sekarang menggeleng2 kepala ke kiri kanan dengan liar. Rambut basahku yang sudah mulai kering tergerai acak2an. &#8220;Mas &#8230; Mas &#8230;. ahhhhh &#8230;. enak &#8230;. ahhhh nggak tahaaann .. ahhhh.&#8221; Aku sudah hampir mencapai puncak kenikmatan birahiku. Dengan lembut dia mulai menusukkan jari tengahnya ke dalam no nokku yang sudah sangat basah itu. Dia menyorongkan sampai seluruh jarinya tertelan no nokku yang cukup sempit itu. Dia tarik perlahan sambil sedikit dibengkokkan keatas sehingga ujung jarinya menggesek lembut dinding atas no nokku. Gerakan ini dilakukannya berulang kali, masuk lurus keluar bengkok, masuk lurus keluar bengkok, begitu seterusnya. Tak sampai 10 kali gerakan ini, tubuhku menjadi kaku, kedua tanganku mencengkeram erat pinggiran sofa. Kepalaku semakin mendongak kebelakang. Mulutku terbuka lebar. Gerakannya dipercepat dan ditekan lebih dalam lagi. &#8220;Aaaaaahhhhhhhhhh.&#8221; Aku melenguh dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhku sedikit menggigil. Aku bisa merasakan jari tangannya makin terjepit kontraksi otot no nokku, dan bersamaan dengan itu cairan no noktku menyiram jarinya. Aku telah nyampe. Dia tidak menghentikan gerakan jarinya, hanya sedikit mengurangi kecepatannya. Tubuh ku masih menggigil dan menegang. Mulutku terbuka tapi tak ada suara yang keluar sepatahpun, hanya hembusan nafas kuat dan pendek2 yang keluar lewat mulutku. Kondisi demikian berlangsung selama beberapa saat. Kemudian tubuh ku berangsur melemas, dia pun memperlambat gerakan jarinya sampai akhirnya dengan sangat perlahan dia cabut dari no nokku.</p>
<p>Mata ku masih terpejam rapat, bibirku masih sedikit ternganga. dengan lembut dan pelan dia mendekatkan bibirnya ke mulut ku. Dia mencium mesra bibirku yang sensual itu. Akupun menyambut dengan tak kalah mesranya. Kami berciuman bak sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Agak berbeda dengan ciuman yang menggelora seperti sebelumnya. &#8220;Nikmat Sin?&#8221; dengan lembut dia berbisik di telinga ku. &#8220;Mas &#8230; ah &#8230; Sintia belum pernah merasakan kenikmatan seperti tadi ..sungguh Mas. Mas sangat pinter &#8230; Makasih Mas &#8230; Winda sungguh beruntung punya suami Mas.&#8221; &#8220;Aku yang beruntung Sin, bisa memberi kepuasan kepada wanita secantik dan semulus kamu.&#8221; &#8220;Ah Mas bisa aja &#8230; Sintia jadi malu.&#8221;<br />
Akhirnya aku sadar akan kondisiku saat itu. Dasterku awut2an, pahaku masih terbuka lebar, dan cdku tersangkut di lututku. Aku segera duduk tegak, menurunkan dasterku sehingga menutup pangkal pahaku. Akhirnya aku bangkit berdiri. &#8220;Sintia mau cuci dulu Mas.&#8221; &#8220;Aku ikut dong Sin, ntar aku cuciin,&#8221; dia menggodaku. &#8220;Ihhh Mas genit.&#8221; Sambil berkata demikian aku menggamit tangannya dan menariknya ke kamarku. Sampai di kamarku dia berkata: &#8220;Aku copot pakaianku dulu ya Sin, biar nggak basah.&#8221; Aku tidak berkata apa2 tetapi mendekatinya dan membantu melepas kancing celananya semantara dia melepaskan kaosnya. Dia kemudian melepaskan juga celananya dan hanya memakai cd saja. Aku melirik ke arah cdnya. Tampaknya kon tolnya yang besar dan panjang (dibandingkan dengan kon tol suamiku yang kecil) sudah menegang. Dia maju selangkah dan mengangkat ujung bawah dasterku sampai keatas dan aku mengangkat kedua tangannya sehingga dasternya mudah terlepas. Dia tampak mengagumi tubuhku. Toket yang dari tadi hanya diraba sekarang terpampang dengan jelas di hadapannya. Bentuknya bundar kencang, cukup besar, tapi masih proporsional dengan ukuran tubuh ku yang sexy itu. Pentilku sangat kecil bila dibanding ukuran bukit toketku. Warna pentilku coklat agak tua, sungguh kontras dengan warna kulit ku yang begitu putih. Perut ku sungguh kecil dan rata, tak tampak sedikitpun timbunan lemak disana. Pinggulku sungguh indah dan pantatku sangat sexy, padat dan sangat mulus. Pahaku sangat mulus dan padat, betisku tidak terlampau besar dan pergelangan kakiku sangat kecil. &#8220;Mas curang &#8230; Sintia udah telanjang tapi Mas belum buka cdnya.&#8221; Tanpa menunggu reaksinya, aku maju selangkah, agak membungkuk dan memelorotkan cdnya. Dia membantu dengan melangkah keluar dari cdnya. kon tolnya yang sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak. Besar dan panjang, mengangguk2 saking kerasnya. Kami berdua berdiri berhadapan sambil bertelanjang bulat saling memandangi. Tak tahan melihat tubuh molek ku, dia maju langung memeluk tubuhku erat. Kulit tubuhku langsung bersentuhan dengan kulit tubuh nya tanpa sehelai benangpun yang menghalangi. &#8220;Kamu cantik dan seksi sekali Sin.&#8221; &#8220;Ah Mas ngeledek aja.&#8221; &#8220;Bener kok Sin.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata demikian dia merangkul aku lalu masuk ke kamar mandi. Dia menyemprotkan sedikit air dengan shower ke no nokku yang masih berlendir itu. Kemudian dia memeluk ku dari belakang dan menyabuni seluruh permukaan no nokku dengan lembut. Aku suka dengan apa yang dia lakukan, aku merapatkan punggungku ke tubuhnya sehingga kon tolnya menempel rapat ke pantatku. Dengan gerakan lambat dan teratur dia menggosok selangkangan ku dengan sabun. Aku mengimbanginya dengan mengggerakkan pinggulku seirama dengan gerakannya. Akhirnya selesai juga dia membantu ku mencuci selangkanganku dan mengeringkan diri dengan handuk. Sambil saling rangkul kami kembali ke kamar dan berbaring bersisian di tempat tidur. Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan. Dia meraba seluruh permukaan tubuh mulus ku, aku pun beraksi mengelus kon tolnya yang semakin menegang itu. Aku<br />
ditelentangkan, kemudian dia melorot mendekati kakiku. Dia mulai menciumi betisku, perlahan keatas ke pahalu yang mulus. Akhirnya mulutnya mulai mendekati pangkal pahaku. &#8220;Ahhhhh Mas &#8230;. ah .. jangan .. nanti Sintia nggak tahan lagi .. ah.&#8221; Sekalipun aku berkata &#8220;jangan&#8221; namun justru aku membuka kedua pahaku semakin lebar seakan menyambut baik serangan mulutnya itu. &#8220;Nikmati saja Sin &#8230;. aku akan memberikan apa yang tidak pernah diberikan suamimu padamu.&#8221; Dia meneruskan jilatan dan ciumannya ke daerah selangkangan ku yang sudah menganga lebar. Bibir no nokku yang begitu tebal dan sensual. Perlahan dia mengkatupkan kedua bibirnya ke bibir no nokku. Sambil &#8220;berciuman&#8221; dia menjulurkan lidahnya mengorek ujung no nokku. &#8220;Ahhhh &#8230;. Mas &#8230; aaaaahhh .. please .. please.&#8221; Begitu mudahnya kata2ku berubah dari &#8220;jangan&#8221; menjadi &#8220;please&#8221;. Bibirnya digeser sedikit keatas sehingga menyentuh it ilku yang berwarna pink. Perlahan dia menjulurkan lidahnya dan menjilatinya berkali2. Aku membuka selangkanganku semakin lebar dan menekuk lututku serta mengangkat pantatku. Dia segera memegang pantatku sambil meremasnya. Lidahnya semakin leluasa menari di it il ku. &#8220;Aaaaaahhhhhh &#8230;. enak Mas &#8230;. enak &#8230;. ahhhh .. iya &#8230;. ahhhh.&#8221; Hanya itu yang keluar dari mulut ku menggambarkan apa yang sedang kurasakan saat ini. Dia semakin meningkatkan kegiatan mulutnya, dia mengkatupkan kedua bibirnya ke it il ku yang begitu mungil, dia menyedot lambat2 benda sebesar kacang hijau itu. &#8220;Maaaaasss &#8230;. nggak tahaaaan &#8230; ahhhhh .. Maassss.&#8221; Dia melepaskan tangan kanannya dari pantat ku, kemudian jari tengahnya kembali beraksi menggosok it ilku. Lidahnya dijulurkan mengorek seluruh lubang no nokku sejauh yang dia bisa. Tubuhku menegang sehingga pantat dan selangkanganku semakin terangkat, kedua tanganku mencengkeram kain sprei. &#8220;AAAaaaaahhhhh &#8230; maaaaassssssss.&#8221; Bersamaan dengan erangan ku dia merasakan ada cairan hangat dan agak asin yang keluar dari no nokku dan langsung membasahi lidahnya. Dia menjulurkan lidahnya semakin dalam dan semakin banyak cairan yang bisa dia rasakan. Aku memberontak, segera menarik dia mendekatiku. Tangan kanannya kupegang dan sentuhkan ke no nokku. Sambil terpejam, aku memeluknya dan langsung mencium bibirnya yang masih belepotan dengan lendir kenikmatanku. Dia biarkan bibir dan lidahku menari di mulutnya menyapu semua sisa lendir yang ada disana. Jari tangannya terbenam kedalam no nokku dan digerakkan masuk keluar dengan cepat. Tubuh ku kembali menggigil dan no nokku mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu adalah sisa orgasmeku.</p>
<p>Kami masih berciuman sampai tubuh ku mulai melemas. perlahan dia mengangkat tangan kanannya dari selangkanganku, memeluk ku dengan lembut. Bibirnya perlahan dilepaskan dari cengkeraman mulut ku. Tubuh ku tergolek lemah seakan tanpa tulang. Mataku sedikit terbuka menatapnya mesra. Di bibirku sedikit menyungging senyum penuh kepuasan. &#8220;Mas &#8230;. itu tadi luar biasa Mas &#8230; Sintia belum pernah digituin &#8230; Mas hebat .. makasih Mas &#8230; Sintia hutang banyak ama Mas.&#8221; &#8220;Sin aku juga sangat senang kok bisa membuat Sintia puas seperti itu&#8221; sambil dia mengkecup lembut keningku. Mata ku berbinar penuh rasa terima kasih. Kami berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. kon tolnya masih tegang berdiri. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini aku membersihkan diriku sendiri. Dia tetap berbaring sambil mengenangkan keindahan yang baru aku alami. Tak berapa lama kemudian aku kembali dan langsung berbaring di sampingnya. Mataku menatap lekat ke kon tolnya.</p>
<p>&#8220;Mas pengin diapain?&#8221; tanyaku manja. &#8220;Terserah kamu Sin, biasanya ama suamimu gimana dong?&#8221; dia coba memancingku. &#8220;Biasa ya langsung dimasukin aja Mas. Sintia jarang puas ama dia.&#8221; &#8220;Oh &#8230; terus Sintia penginnya gimana?&#8221; &#8220;Ya kayak ama Mas tadi, Sintia puas banget. &#8230; Sintia pengin cium punya Mas boleh nggak?&#8221; &#8220;Emang Sintia belum pernah?&#8221; &#8220;Belum Mas,&#8221; agak jengah aku menjawab, &#8220;Suamiku nggak pernah mau.&#8221; &#8220;Ya silahkan kalau Sintia mau.&#8221; Tanpa menunggu komando aku segera merangkak mengarahkan kepalaku mendekati selangkangannya. Aku pegang kon tolnya, kuamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok. Sangat kaku dan canggung, maklum baru pertama melakukannya. &#8220;Ayo Sin ,, aku ngak apa2 kok. Kalau Sintia suka, lakuin apa yang Sintia mau.&#8221; Dengan penuh keraguan aku mendekatkan mulutnya ke kepala kon tolnya. Pelan2 kubuka bibirku dan memasukkan kepalanya kedalam mulutku. Hanya sampai sebatas leher kemudian kusedot perlahan. Aku tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Dengan lembut dia memegang tangan kiriku. Dia menggenggam jemariku yang lentik dan ditariknya mendekat ke mulutnya. Dia memegang telunjukku kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Dia menggerakkan masuk keluar dengan lambat sambil sesekali dijilat dengan lidahnya saat jari lentikku masih dalam mulutnya. Aku segera paham bahwa dia sedang memberi &#8220;bimbingan&#8221; bagaimana seharusnya yang kulakukan. Tanpa ragu aku mempraktekkan apa yang dia lakukan dengan jariku. kon tolnya kumasukkan kedalam mulutku, kemudian kepala kuangguk2kan sehingga kon tolnya tergesek keluar masuk mulutku yang sensual itu. Sekalipun masih agak canggung tapi dia mulai bisa merasakan &#8220;pelayanan&#8221; yang kuberikan. Semakin lama aku semakin tenang dan tidak kaku lagi. Kadang kumainkan lidahku di sekeliling kepala kon tolnya dalam mulutku. Sepertinya aku sendiri mulai bisa merasakan sensasi dari apa yang kulakukan dengan mulut dan lidahku. Aku mulai berani bereksperiman. Kadang kukeluarkan kon tolnya dari mulutku, menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali. Sesekali aku hanya menghisap kepalanya sambil mengocok batangnya. &#8220;Gimana Sin rasanya?&#8221; &#8220;Mas&#8230; Sintia merasakan rangsangan yang luar biasa, kon tolnya Mas enak .. Sintia suka, besar &#8211; panjang lagi.&#8221; Dia bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Aku langsung tahu harus bagaimana. Aku duduk bersimpuh dihadapannya dan kembali menghisap kon tolnya. Kepala tetap kugerakkan maju mundur. Dan sekarang aku menemukan cara baru. Aku menjepit batang kon tolnya diantara kedua bibirku yang terkatup. Kemudian aku mengangguk2kan kepalaku. Batang dan kepala kon tolnya aku gesek dengan bibir tebalku yang terkatup. Dia membantu dengan menggerakkan pantatnya maju mundur. &#8220;Ohhh Sin &#8230;. mulutmu enak sekali &#8230; terus Sin.&#8221; &#8220;Mas suka? Winda sering ya giniin Mas ?&#8221; &#8220;Iya Sin &#8230;tapi aku lebih suka kamu &#8230; bibirmu seksi sekali .. ooohhh Sin .. Winda juga suka .. isep bijiku dan jilati semuanya Sin .. ohhh.&#8221; Aku nggak mau kalah, segera kulepaskan kon tolnya dari mulutku dan mulai menjilati dan menghisap bijinya sambil mengocok kon tolnya. Dia membelai rambut ku dan mengusap kepalaku. Aku suka sekali dan masih terus menggerayangi seluruh selangkangannya dengan lidahku.</p>
<p>Kemudian kami berganti posisi. Dia kembali tidur telentang dan aku dimintanya merangkak diatasnya dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69. Aku segera mengulum kon tolnya, dia pun mulai menjilati no nokku. Dengan posisi ini no nokkusangat terbuka dihadapannya dan dia lebih leluasa menikmati dengan bibir dan lidahnya. Dia menjilat dan hisap it il ku yang sudah menantang dan jarinya mengorek no nokku. Sesekali dia menciumi bibir no nokku yang begitu merangsang. Akupun tak mau kalah, aku melakukan segala cara yang aku tahu terhadap kon tolnya. Aku mainkan pakai lidah, kukocok sambil kuhisap, kumainkan kepala kon tolnya- mengitari dengan kedua bibirku. Sungguh nikmat sekali. Tak terlalu lama aku mulai merasakan bahwa aku sudah tidak bisa menahan lagi. Pantatku mulai bergoyang limbung kegelian, namun dia menjilati terus it ilku sambil jarinya menusuk2 no nokku. Akhirnya aku sampai juga di puncak nikmatku. Tubuhku menegang, gerakan anggukan kepalaku sambil menghisap kon tolnya semakin menggila. Tubuhku gemetaran tapi aku tetap tak rela melepas kon tolnya dari mulutku. Dia semakin giat mencium it ilku dan mengorek no nokku dengan jarinya. Tubuhku tiba2 mematung dan dia merasakan cairan hangat meleleh keluar dari no nokku. Dia langsung menutup no nokku dengan mulutnya dan membiarkan cairan kenikmatanku membasahi lidahnya. Rasanya asin tapi sama sekali tidak amis sehingga dia tak ragu menelan cairan itu sampai tandas. Kemudian perlahan dia mulai lagi menciumi dan menjilati seluruh permukaan no nokku. Otot ku sudah agak mengendur juga. Aku mulai lagi melakukan segala eksperimen dengan mulut dan lidahku ke kon tolnya. Kami mulai lagi dari awal. Perlahan namun pasti, aku mulai mendaki lagi puncak kenikmatan birahiku. Dia menangkupkan kedua tangannya ke bukit pantat ku dan mulai membelai dan meremas lembut. Aku menanggapinya dengan sedotan panjang di kon tolnya. Lidahnya kembali menelusuri segala penjuru selangkangan ku. Beberapa saat kemudian tubuh ku kembali gemetaran. Dia mencium bibir no nokku dan menyorongkan lidahnya sedalam mungkin ke dalam no nokku yang merangsang. Dia juga mulai merasa kalau pertahanannya mulai goyah dan bendungannya akan segera ambrol. Aku mempercepat gerakan kepalaku dan diapun menghisap makin kuat no nokku. Dia akhirnya sudah tak kuat menahan amarah pejunya dan &#8230;&#8221;Croooottsss crooots croots.&#8221; Peju hangatnya menyembur didalam mulut ku. Untuk sedetik aku agak kaget tapi aku cepat tanggap. Aku segera mempercepat gerakan kepalaku sambil menelan seluruh pejunya. &#8220;Croots .. croots.&#8221; Sisa pejunya kembali menyembur, dan kali ini aku menyambutnya dengan hisapan kuat di kon tolnya, seakan ingin menyedot apa yang masih tersisa didalam sana. Dia merasakan nikmat yang luar biasa. Ekspresi kenikmatan ini dia lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot no nokku sehingga aku juga sudah hampir mencapai klimaks. Belaian lidahnya di no nokku membuat puncak itu semakin cepat tercapai. Akhirnya sekali lagi tubuh ku menegang dan cairan hangat kembali meleleh dari no nokku. Lidahnya kembali menerima siraman lendir kenikmatan itu yang segera ditelannya.<br />
Beberapa saat kemudian, dengan enggan aku bangkit dan berbaring telentang disampingnya. kon tolnya, walaupun masih berdiri, tapi sudah tidak setegak tadi. Aku memeluknya dengan manja dan kami berciuman dengan mesra. &#8220;Sin &#8230; gimana? .. puas? &#8230; sorry tadi aku nggak tahan keluar di mulut kamu.&#8221; &#8220;Sintia puas sekali Mas .. sampai dua kali gitu lho &#8230;. Sintia suka peju Mas &#8230; asin2 gimana gitu. Kapan2 boleh minta lagi dong Mas.&#8221; Aku mulai berani mengungkapkan apa yang kurasakan. &#8220;Boleh aja Sin ,,, asal disisain buat Winda .. hehehe,&#8221; Aku mencubit genit lengannya. &#8220;Ihhh &#8230; Mas &#8230; paling bisa deh &#8230; emang Mas sering gaya gituan dengan Winda?&#8221; &#8220;Enggak lah &#8230; ini baru pertama dengan kamu Sin.&#8221; &#8220;Ah Mas bohong .. Winda kan sering cerita ke Sintia, katanya Mas pinter ngeseks. Makanya diam2 Sintia pengin main ama Mas.&#8221; &#8220;Udah kesampian kan keinginanmu Sin.&#8221; &#8220;Iya sih &#8230; tapi Mas jangan marah ya &#8230; Sintia sering bayangin kita main bertiga dengan Winda .. Mas mau nggak?&#8221; Dia kaget mendengar keinginan ku ini. Jujur saja aku sering berfantasi membayangkan alangkah nikmatnya bercinta dengan dia dan Winda sekaligus. &#8220;Mau sih Sin .. tapi kan nggak mungkin &#8230; Winda pasti marah besar.&#8221; &#8220;Iya ya &#8230; Winda kan orangnya agak alim.&#8221; Kami terus berbincang hal2 demikian sampai kira2 10 menit. Kemudian dengan malas kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi kami saling menyabuni dan saling membersihkan tubuh kami. Dia jadi semakin mengagumi tubuh ku. Tak ada segumpal lemakpun di tubuhku dan semuanya padat berisi.</p>
<p>Setelah mengeringkan diri kami kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra. Sambil saling berciuman dia mulai menggerayangi tubuh molek ku, tak bosan2nya dia meremas dan mengusap toketku yang sangat segar itu. Perlahan dia mulai menghujani leher dan pundak ku dengan ciuman. Tak sampai disitu saja, mulutnya mulai mengarah ke dadaku. Toketku yang tegak mulai diciumi dan digigit2 lembut. Aku sangat menyukai apa yang dia lakukan. &#8220;Ahhhh &#8230; iya Mas &#8230;. disitu Mas &#8230; ahhhhh Sintia terangsang Mas.&#8221; Lidahnya menjilati pentilku yang mungil dan keras itu. Aku semakin menggelinjang. Tanganku menyusup ke bawah ke selangkangannya. Kupegang kon tolnya yang masih agak lemas. Kumainkan kon tolnya dengan jari2ku yang lentik. Mau tak mau kon tolnya mulai hidup kembali. Aku dengan lembut mengocok kon tolnya. Sambil masih mengulum pentilku, tangan kanannya kembali bergerilya di daerah no nokku. Jarinya dirapatkan dan ditekan ke bukit no nokku sembari digerakkan memutar. Aku juga menimpali dengan menggoyangkan pantatku dengan gerakan memutar yang seirama. &#8220;Mas &#8230;. aaahhhh Mas &#8230;. enak Mas &#8230; ahhh terus &#8230; iya.&#8221; Sambil mendesah aku menarik pantatnya mendekat ke kepalaku. Akhirnya dia terpaksa melepaskan hisapannya di pentilku dan duduk berlutut di sisiku. Aku terus menekan pantatnya sampai akhirnya mulutku mencapai kon tolnya yang sudah tegak menantang. Tangan kirinya ditempatkan dibelakang kepalaku untuk menyangga kepalaku yang agak terangkat. kon tolnya kembali kukulum dan kujilati. &#8220;Oooh Sin &#8230; enak Sin &#8230; aku suka Sin &#8230;&#8221; Diapun menggerakkan pantatnya maju mundur. Aku membuka lebar mulutku dan menjulurkan lidahku sehingga kon tolnya meluncur masuk keluar mulutku tergesek lidahku. Sementara itu tangan kanannya terus menekan dan memutari no nokku. Kadang jarinya diselipkan ke celah no nokku dan mengusap it il ku. &#8220;Ahhh Mas &#8230; Sintia nggak tahan Mas &#8230; ahhhhh .. iya &#8230;aaahhhh.&#8221;</p>
<p>Dia segera merubah posisi. Kedua tangan ku diletakkan di belakang lututku dan membuka kedua lututku.Dia mengangkat pahaku sehingga no nokku menganga menghadap ke atas. Aku menahan dengan kedua tangan di belakang lututku. Dia duduk bersimpuh di hadapan no nokku. kon tolnya diarahkannya ke no nokku yang sudah menganga itu. Dia menusukan kepala kon tolnya ke no nokku dan dia tahan disana. Kemudian dengan tangan kanannya digerakkannya kon tolnya memutari mulut no nokku. &#8220;Maassss .. ahhhhh &#8230; nggak tahan &#8230; ayo &#8230; ahhhhhh.&#8221; Dia sengaja tidak mau terlalu cepat menusukkan kon tolnya ke no nokku. Dia menggesek2an kepala kon tolnya ke it il ku. Aku semakin menggelinjang menahan nikmat. Akhirnya tanggul ku bobol juga. Tak heran, dengan gosokan jari saja aku tadi bisa mencapai orgasme apalagi ini dengan kepala kon tolnya, tentu rangsangannya lebih dahsyat. &#8220;Aaaahhhhhhhhhhhhhh..ahhhhhhhhhhhhh Massssssss.&#8221; Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan bening dari no nokku. Aku kembali mengalami puncak orgasme hanya dengan gosokan di it ilku.</p>
<p>Kali ini dia memasukkan batang kon tolnya seluruhnya kedalam no nokku. Dia berbaring telungkup diatas tubuh molek ku sambil menumpukan berat badannya di kedua sikunya. Dia mencium lembut mulutku yang masih terbuka sedikit. Aku membalas ciumannya dan mengulum bibirnya. Dia membiarkan kon tolnya terbenam dalam no nokku. Dia berbisik : &#8220;Sin &#8230; nikmat ya &#8230;&#8221; &#8220;Oh Mas &#8230; Sintia sampai nggak tahan &#8230; nikmat Mas ..&#8221; Perlahan dengan gerakan yang sangat lembut dia mulai memompa batang kon tolnya ke dalam no nokku yang sudah basah kuyup. Dia tahu aku pasti bisa orgasme lagi dan kali ini dia ingin merasakan semburan lumpur panas di batang kon tolnya. &#8220;Ayo Sin &#8230;.nikmati lagi &#8230; jangan ditahan .. aku akan pelan2.&#8221; &#8220;Ahhhh .. iya Mas &#8230;. Sintia pengin lagi ..ahhhhh.&#8221; Masih dengan sangat pelan dia memompa terus kon tolnya ke no nokku yang ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang sudah menikah 2 tahun. Toketku yang menyembul tegak menggesek2 dadanya ketika dia turun naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja dia menggesekkan dadanya ke toketku. &#8220;Aaaahhhhh &#8230; ahhhhhhh &#8230; iya &#8230; ahhhhh .. Sintia terangsang lagi Mas &#8230;iya &#8230;. .&#8221; Kali ini dia memompa sedikit lebih kuat dan cepat. Aku menanggapinya dengan memutar pantatku sehingga kon tolnya rasanya seperti di peras2 dalam no nokku. Gerakkan ku semakin liar, tanganku sudah tidak lagi menahan lututku tapi memegang pantatnya dan menekannya dengan keras ke tubuhku. &#8220;Aaaaahhhhhh &#8230;. Mas &#8230;.. aaaahhhhhhh&#8221; Dia semakin kencang dan dalam memompa pantatnya. Mata ku sudah terpejam rapat, kepalaku menggeleng2 liar ke kiri ke kanan seperti yang kulakukan di sofa tadi. Gerakanku semakin ganas dan &#8220;Aaaaaaaaa.hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh &#8230;&#8230;&#8230;&#8221; Aku melenguh panjang sambil menegangkan seluruh otot di tubuhku. Dia menekan dalam2 kon tolnya ke no nokku. Jelas dia merasakan aliran hangat di sekujur batang kon tolnya. Tubuh ku masih terbujur kaku. Dia pun menghentikan seluruh gerakannya sambil terus menekan no nokku dengan kon tolnya. Beberapa saat sepertinya waktu terhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan dari kami berdua. Dia memberi kesempatan kepada ku untuk menikmati klimaks yang barusan aku dapat.</p>
<p>Akhirnya badan ku mulai mengendur. Tanganku membelai lembut kapalanya. Bibirku mencari bibirnya untuk dihadiahi ciuman yang sangat lembut dan panjang. &#8220;Mas &#8230;. Sintia sungguh nikmat &#8230;. Mas jago deh &#8230; Mas belum keluar ya?&#8221; &#8220;Jangan pikirkan aku Sin &#8230;. yang penting Sintia bisa menikmati kepuasan.&#8221; Kemudian dengan lambat dia mulai memompa lagi. no nokku menjadi sangat licin. Selama beberapa saat dia terus memompa lambat2. &#8220;Aaaahhhhhh &#8230; iya .. iya &#8230;. Mas &#8230;. Sintia mau lagi .. iya &#8230; ahhhh&#8221;. Aku kembali memutar pantatku mengiringi irama pompaannya. Aku mulai mendesah2 penuh kenikmatan. Dia mencabut kon tolnya dari no nokku. Dia lalu berbaring telentang di sebelahku. &#8220;Kamu diatas Sin.&#8221; Aku segera berjongkok diatas selangkangannya. Dia mengarahkan kepala kon tolnya ke no nokku. Aku kemudian duduk diatas tubuhnya dan bertumpu pada kedua lututku. Pantatku mulai bergerak maju mundur. &#8220;Ayo Sin &#8230; kamu sekarang yang atur .. ohhh iya nikmat Sin.&#8221; Aku semakin bersemangat memajumundurkan pantatku. Kedua toketku berguncang indah dihadapannya. Secara reflek kedua tangannya meremas toketku. Tangan kuletakkan dibelakang pantatku sehingga tubuhku agak meliuk kebelakang membuat dadaku semakin membusung. &#8220;Ohhh Sin &#8230; toketmu sexy sekali &#8230; terus Sin &#8230; ohhhh &#8230; lebih keras Sin.&#8221; &#8220;Aaaaahhhh Mas &#8230; Sintia sudah mau sampai lagi &#8230; ahhhhh ahhhhhh Mas&#8221; &#8220;Ayo Sin &#8230;. terus Sin &#8230; cepat &#8230;. ohhhhh iya .. iya Sin &#8230; no nokmu enak sekali.&#8221; &#8220;Mas .. ahhhh &#8230; Sintia nggak tahan &#8230; puasi Sintia lagi mas .. ahhhh.&#8221; Gerakan pantat ku semakin cepat dan semakin cepat. Dia merasa kon tolnya tergesek2 dinding no nokku yang sempit dan licin itu. Dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan agar dia tidak ngecret tapi pertahanannya semakin rapuh. &#8220;Sin &#8230; oooohhhh Sin &#8230;. aku nggak tahan &#8230; ohhh Sin &#8230;. enak ..enak.&#8221; &#8220;Ahhhh &#8230; ayo .. Mas &#8230;.. Sintia juga udah nggak tahan &#8230; sekarang mas ..ahhh sekarang.&#8221; Tepat pada detik itu bendungannya ambrol tak mampu menahan terjangan pejunya yang menyemprot kuat. &#8220;Oooooooohhhhhhh Sin &#8230;.. crooots crooots croots&#8221; &#8220;Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh Mas &#8230;. ahhhhhhhhhhh ..&#8221; Kami mencapai puncak kenikmatan bersama. kon tolnya terasa hangat dino nokku. Aku masih duduk diatasnya tapi sudah kaku tak bergerak. no nok kuhunjamkan dalam melahap seluruh batang kon tolnya. &#8220;Oooohhh Sin &#8230;. nikmat sekali .. makasih Sin .. kamu pinter membuat aku puas.&#8221; Dia menggapai tubuh ku dan ditarik menelungkup diatas tubuhnya. Toketku yang masih keras menghimpit dadanya. Dia menciumi seluruh wajahku yang ditetesi keringat. &#8220;Mas &#8230; ahhhhh &#8230; Sintia sungguh puas Mas &#8230; &#8221; Kemudian kami berbaring sambil berpelukan. Badan kami mulai terasa penat tapi bathin kami sangat puas.</p>
<p>Hari sudah beranjak malam. &#8220;Mas Sintia laper&#8221;. &#8220;Ya udah, kita mandi dulu, terus baru cari makan malem&#8221;. Dikamar mandi, kita saling menyabuni. kon tolnya ngaceng lagi, kukocok2 kon tolnya pelan2. &#8220;Mas kon tolnya besar banget sih&#8221;. Aku mulai berani bicara vulgar kepadanya, sudah tidak sungkan lagi. Selesai mandi, aku memakai kaos oblong merah dengan celana gombrang khaki. Kemudian aku pergi dengannya ke warung didepan komplex untuk cari makan malam. Selesai makan malam, kita kembali kerumah lagi. Aku memutar film biru yang baru dipinjam suamiku. Suamiku memang hobi nonton film begituan. Dengan 2 bantal besar diatas karpet tebal kami berdua duduk berdampingan sambil nonton film. Permainan panas di film itu membuat aku mulai bergerak menempel kebadannya dan kemudian rebah diatas pahanya. Dia mengulum bibirku dengan lembut sambil tangannya mulai bergerak dengan sentuhan halus ke toketku yang tanpa bra itu. Aku menggelinjang saat dia mulai agresif memainkan pentilku. &#8220;Ayo mas..gesek lagi ya..!&#8221; pintaku bernafsu. Aku mencium dan menjilati jari-jarinya. Kemudian dia melepaskan tangannya dari ciumanku dan kembali meremas toketku dari balik kaosku. Dipilinnya pentilku secara bergantian. Aku makin menggeliat karena napsuku sudah memuncak. Tangannya kutarik menjauh dari toketku. Kubawa ke arah perutku. Segera dia mengilik2 puserku sampai aku menggeliat kegelian, &#8220;Mas geli&#8221;. Tangannya segera menyusup ke bawah dan menemukan karet celana gombrongku. Tangannya berusaha merayap terus ke bawah menyelip kedalam cdku sampai menyentuh jembutku. Jangkauannya kini maksimal, padahal target belum tercapai. Aku menaikkan badanku sedikit dan kini jari-jarinya bisa mencapai belahan no nokku. no nokku sudah basah, sehingga jari tengahnya dengan mudah menyusup ke dalam dan menemukan it ilku yang sudah mengeras. Dia lalu memainkan jari tengahnya. Pinggulku mengikuti irama sentuhan jari tengahnya. Aku menggelinjang. &#8220;Mas, lepasin pakean Sintia, mas, semuanya&#8221;, pintaku. Segera dia mengangkat kaosku keatas, aku mengangkat tanganku keatas untuk mempermudah dia membuka kaosku. Kemudian dia menarik celana gombrangku bersama cdku, aku mengangkat pantatku untuk mempermudah dia melepasnya. Setelah aku berbugil ria, segera diapun melepas semua yang menempel dibadannya.</p>
<p>Kon tol besarnya sudah tegak dengan kerasnya. Dia berbaring dengan 2 bantal susun dipunggungnya. Aku menunduk mengulum kepala kon tolnya. Hanya sebentar karena dia menyuruhku menduduki kon tolnya dengan posisi membelakangi dia. Aku mulai bergerak pelan memaju-mundur pantatku untuk menggesekkan no nokku ke kon tolnya. Tangannya dari belakang mulai beraksi memijit-mijit toketku. Aku menjadi sangat liar, menggeliat sambil tak henti-hentinya mendesah kenikmatan. Gerakan dan sentakanku makin cepat dan keras sampai suatu saat kuundurkan pantatku agak kebelakang dan kon tolnya lepas dari jepitan bibir no nokku. kon tolnya yang agak terangkat sudah berhadapan dengan bibir no nokku yang basah itu dan&#8230;.bleeessss..kepala dan separuh kon tolnya yang tegang keras itu amblas kedalam no nokku. &#8220;Maas&#8221;, seruku. &#8220;Kenapa Sin, sakit&#8221;, tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepala, bukannya sakit tapi nikmat banget. Sesek rasanya no nokku kemasukan kon tolnya yang besar banget itu. no nokku berdenyut mencengkeram kon tolnya, giliran dia yang mendesis, &#8220;Sin, nikmat banget no nokmu, bisa ngemut kon tolku&#8221;. Dia membalikkan badanku dan sehingga aku terlentang diatas karpet. Dia menundukkan mukanya dan mengulum bibirku sambil menggeser badannya keatas.</p>
<p>Dengan pelan ditusukkannya kon tolnya keno nokku. Diteruskannya dorongannya dan kepala kon tolnya mulai memaksa menerobos masuk keliang no nokku. &#8220;Ouuhh..&#8221; kembali aku melenguh. Dikocoknya kon tolnya pelan sehingga kian dalam memasuki no nokku. Pelan tapi pasti dan akhirnya kurasakan seluruh no nokku penuh terisi kon tolnya. no nokku yang sudah basah itu masih terasa sempit buatnya, &#8220;Sin, sudah basah gini masih sempit aja no nokmu, nikmat banget deh, mana terasa banget empotannya. Terus diempot ya Sin&#8221;. Dihunjamkannya lagi kon tolnya, walau terasa sangat sesak tapi nikmat, &#8220;Ooohhh&#8230;&#8221; aku mulai menggeliat, kaki kuangkat, melingkar kepahanya sementara kepalaku terangkat, mendongak kebelakang dengan mataku membelalak. Tangannya bereaksi cepat, toketku diremas pelan sembari pentilnya dipijit, membuat aku makin menggila, berdesah panjang kenikmatan, &#8220;uhhh, peluk Sintia mas&#8221;. Dirapatkannya badannya kebadanku dan aku merangkul ketat punggungnya. Goyangan pantatnya turun naik makin cepat sehingga bersuara &#8220;plook..ploook&#8221; karena begitu banyak cairan yang mengalir dari no nokku.</p>
<p>Dia kemudian mengganti posisi. Aku disuruh nungging pada sandaran sofa dengan posisi pantat sedikit terangkat, kaki mengangkang. Digesekkannya kepala kon tolnya ke bibir no noknya beberapa saat, baru dihunjamkannya pelan. Doggy Style ! &#8220;Maas&#8221;, erangku ketika kepala kon tolnya mulai menekan dan menerobos masuk ke liang no nokku. Baru setengah kon tolnya masuk, &#8220;Aaauuhhh&#8230;.&#8221; mataku terbelalak saking nikmatnya. Kemudian dia mulai mengocok kon tolnya keluar masuk no nokku. Aku kembali mengelinjang, menahan enjotan pantatnya. Terasa kon tolnya makin keras dan kepalanya makin membesar karena gesekan di dinding no nokku. &#8220;Ooohhh..oooohhhh&#8221; gumamku, karena dia mempercepat enjotannya. Tiba-tiba dia menahan gerakan pantatnya, ditariknya keluar sehingga hanya sebagian kon tolnya yang masih terbenam lalu disentakkannya cepat dengan gerakan pendek, kemudian ditekannya rapat kepantatku hingga semua kon tolnya tertanam dalam no nokku, lalu dibuatnya gerakan memutar. Otomatis kepala kon tolnya berputar bak bor mengesek ketat dinding no nokku. &#8220;Uuaahhh&#8230;.terus mas&#8230;enaaakkk!&#8221; desahku. Tidak puas hanya menikmati putaran &#8220;bor&#8221; nya, aku ikut mengenjot keras pantatku ke belakang dan&#8230; &#8220;uuhhh..uuuhhh&#8221; kami berdua sama-sama mengerang nikmat. Selang lebih dari 20 menit kami berpacu dengan posisi demikian, aku makin keblingsatan dengan erangan-erangan tak keruan. Dia tahu kalau aku sudah akan nyampe.</p>
<p>Aku ditelantangkan diatas sofa dengan kaki kiri menjuntai lantai dan kaki kanan bergantung pada sandaran sofa. Paha ku terbuka lebar dan bibir no nok ku sedikit membuka setelah disodok kon tolnya sejak tadi. Kini dia mulai membungkuk diatas badanku dan dengan tangan kiri menopang badannya, tangan kanannya menuntun kon tolnya kearah bibir no nokku. &#8220;Ayo..masukin mas..!&#8221; pintaku. Kepala kon tolnya mulai menghunjam. &#8220;Aaahhhh..!&#8221; erangku saat seluruh kontolnya disodok masuk dan mulai dikocok turun naik langsung dengan frekuensi tinggi dan cepat. &#8220;Ah..ah..ah..ah.&#8221; aku tiada hentinya melenguh, badanku menggeliat dengan kepala sebentar naik sebentar turun menahan geli dan nikmat yang amat sangat. Dia terus mengocok dengan kecepatan tinggi dan menggila. Kenikmatanku sudah memuncak. &#8220;Auuuh..m..m..&#8221; tanganku melingkar ketat dipunggungnya dengan paha dan kakiku ikut membelitnya. &#8220;Tahan dikit Sin..!&#8221; bisiknya dikupingku sambil mempercepat sodokannya. &#8220;Aaaahhhhhhh..!&#8221; aku menjerit panjang, kukuku serasa menembus kulit punggungnya, mengiringi puncak kenikmatanku. Berbarengan dengan lenguhan panjang, dia menyodok keras kon tolnya ke no nokku diimbangi dengan goyangan kencang pantatku yang berusaha mengapung keatas, . Otot-otot bibir no nokku serasa berdenyut-denyut seperti meremas-remas kon tolnya. Crreeeettt&#8230;pejunya ngecret didalem no nokku, hangat, membuat aku merem melek sejenak. Kami berdua sama-sama nyampe. &#8220;Oh Sin, puas sekali ngen tot denganmu..!&#8221; desahnya. Kami masih berpelukan sebentar dengan kon tolnya masih terbenam di no nokku, berciuman.</p>
<p>Demikian cerita perselingkuhan antara tetangga rumah(<a href="http://ceritaseks.ngocok.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga-rumah/">Selingkuh Denagan Tetangga</a>), dan berlanjut tanpa sepengetahuan kedua pasangan masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/selingkuh-dengan-tetangga-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulusnya tubuh pembantuku</title>
		<link>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/mulusnya-tubuh-pembantuku/</link>
		<comments>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/mulusnya-tubuh-pembantuku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 18:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu montok]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan majikan]]></category>
		<category><![CDATA[seks dengan pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[seks pembantu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseks.ngocok.info/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Seks.saya sudah berkeluarga dan saya juga seorang pengusaha,dalam kehidupan kami serba cukup,saya tinggal di daerah jakarta barat,tepatnya kami tinggal daan mogot di komplek c (nama komplek tidak saya jelaskan)dalam keluarga kami ada dua pembantu yang satu mengurus anak2,saya mempunyai 4 anak2 yg cantik,
&#8220;pembantu saya bernama u dan biasanya kami panggil nama mbak urip dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerita Seks</strong>.saya sudah berkeluarga dan saya juga seorang pengusaha,dalam kehidupan kami serba cukup,saya tinggal di daerah jakarta barat,tepatnya kami tinggal daan mogot di komplek c (nama komplek tidak saya jelaskan)dalam keluarga kami ada dua pembantu yang satu mengurus anak2,saya mempunyai 4 anak2 yg cantik,</p>
<p>&#8220;pembantu saya bernama u dan biasanya kami panggil nama mbak urip dan yang satu lagi bernama mbak siti,dan mbak urip dulu sudah pernah berkeluarga,sekarang mbak urip sudah cerai dengan suaminya dengan setatusnya janda dan dengan body yang luar biasa seksi,kalau dilihat dari depan buah dadanya serasa mau loncat keluar saking besarnya sampai mangkok bh aja tidak cukup,dan kalau nampak dari<br />
belakang terlihat pantat nungging bulat besar kalau ia sedang jalan pinggul nya bro bisa bikin si ntong berdiri&#8221;,</p>
<p>Setelah lama tidak melakukan <a href="http://ceritaseks.ngocok.info">seks</a> dengan istriku, aku pun ingin melakukan, dan kali ini sangat romantis, diawali dengan remas lalu kami melakukan kiss yang cukup lama sambil menonton bokep,lalu gantian saya menjilat vagina istri,lidah saya terus berputar disekitar itil kemaluan,ternyata usaha saya menjilat di sekitar itil istriku membuat dia mengangkat dan menyongsong pantatnya lebih kemuka saya,akhir banjir lendir okhhh&#8230;.pa&#8230;duh&#8230;.akhhh&#8230;. dan istri saya dengan suara rintihan,suara desahan itulah benar2 membikin mengundang seseorang untuk mengintip.</p>
<p>&#8220;lalu istri saya meminta saya untuk memasuki batang kejantanan saya ke vaginanya yang ternyata sudah sangat basah dengan dipenuhi lendir2 di permukaan lubang vagina istri saya, dan batang kemaluanku segera kuancang ke gerbang vagina,pelan2 kutekan sampai masuk,terdengar bunyi blesssss&#8230;segera pantatku kuayunkan maju mundur dengan bergerak seiring suara rintihan dari tayangan filem bokep kocokan yg sebentar pelan dan sebentar kencang dengan iringan ayunan pantat istriku,dan tidak<br />
berselang beberapa lama lalu istri saya berkata,pa koq punya papa enak ya&#8230;lubang vagina mama geli banget..okhhhh&#8230;ssstttt&#8230;.pa&#8230;mama gak tahan,kemmbali saya juga sengaja mengeluarkan desahan membuat istriku dan si pengintip tambah keberingsetan, Lama kami melakukan seks akhirnya usai, dan saya mulai curiga dan mencari tahu siapa pengintip itu. sampai akhirnya tiba2 saya mendengar suara rintihan dari kamar mandi,lalu kuhampiri dan ternyata pintu kamar tidak terkunci lalu mata langsung melihat tangan kanan mbak urip sedang mengosok2 itil kemaluannya dengan kaki kiri di tumpang ke bak mandi ,kelihatan mulut vaginanya mengaga dan satu tangan lagi memegang dadanya,dan ku taksir dadanya pasti ukuran 36 wah&#8230;besar sekali,dan saya gak tahan lalu saya langsung masuk kekamar mandi,kupeluk mbak urip dari belakang dia kaget hampir teriak,</p>
<p>saya langsung mecium bibirnya,mbak urip sempat berontak dia berkata tuan&#8230;.jangan tuan&#8230;dalam hatiku berkata perduli setan,terus saya tarik tangannya untuk pegang batang kemaluan saya yang sedari tadi tidak memakai sehelai benangpun ditubuh saya,</p>
<p>&#8220;tetap saja di berontak jangan tuan..nanti ketahuan nyonya bisa berabe,urip masih pengen kerja.urip gak mau sampe ketahuan nyonya lalu diusir,kasian saya tuan.lalu saya berkata gak apa2 gak ketahuan sama nyonya kalo gak dikasih tahu, tadikan tuan liat kamu ngintip ngaku gak,kalo gak biar saya kasih tahu sama nyonya,ayo pilih mau di kasih tahu atau turut aja,biar kamu juga berasa enak kaya nyonya,akhirnya dia diam pasrah tapi tangan nya tetap genggang batang saya.</p>
<p>&#8220;saya sudah gak tahan melihat mulusnya body pembantuku,dan saya mulai mencium bibirnya dan tengkuknya sehingga bikin mbak urip kegelian terus turun kebuah dadanya yang berukuran super besar,lidahku menari2 diatas dua bukit sambil jilat dan isap,tidak lupa tanganku turun kebawah sambil meraba didepan lubang vaginanya,ternyata mbak urip didepan kemaluan ditumbuhi semak2 yang<br />
lebat,tanganku tetap gak lepas sambil menggosok lalu satu jariku menyentuh lubangnya ternyata sudah banjir dengan lendir2 pertanda sudah nafsu. lalu mbak urip mengangkangi saya di pegang batang kemaluanku lalu dituntun ke mulut vaginanya dan di tekan,terdengar bunyinya blesss&#8230;dan kembali mbak mendesah oh,,,,,setelah masuk dia lalu mengayak menaik turunkan pantatnya,aku tidak tinggal diam satu tanganku memegang pinggulnya satu lagi meremas buah dada yang besar dan kelihatan berayun2 buah dadanya,mbak urip kembali berkata tuannn&#8230;remesin&#8230;yang keceng tuaaannn&#8230;pantat bergoyang lebih cepat,dan merasakan pangkal pahaku penuh banjir air lendir mbak urip,</p>
<p>karena mbak urip terlalu nafsu kembali mengerang&#8230;tuaaannn&#8230;..nyampe&#8230;..aghh&#8230;aagghhh &#8230;..oohhhh&#8230;.. mbak<br />
keluar.. tuuaaannnn&#8230;&#8230;&#8230;duhhh..duhhh&#8230;.enak banget&#8230;.orgasme sudahlah mbak urip&#8230;dan aku mendesah&#8230;mmbbakkkkk&#8230;..tuan&#8230;dah..keluar&#8230;say a langsung rubuh kepunggung mbak urip,kupeluk dia dan badangnya penuh dengan keringatnya mmmhhh&#8230; bau badan mbak2&#8230;yang abis ditunggangi,aku lalu<br />
memejamkan mataku beristirahat sejenak dan merasakan kenikmatan tiada tara</p>
<p>&#8220;mbak juga memejamkan matanya sejenak,setelah itu mbak urip berkata urip dah lama ngak main sama lelaki/suami,sekarang urip sangat bahagia ada tuan yg bisa memuaskan mbak,mbak kepengen deh tuan tiap hari maen sama mbak,mbak seneng banget lalu aku berkata ya kalo ada kesempatan pasti tuan kasih<br />
lagi,dan pas aku mau beranjak bangun menuju kamar mandi untuk mencuci,tiba ditahan oleh mbak,dan dia berkata sini tuan biar mbak aja yang bersihin gak usah kekamar mandi,lalu mbak menurunkan mukanya ke pangkal pahaku menuju ke batang kemaluanku lalu di jilat sampai bersih dan kembali mbak urip berkata<br />
batang tuan sudah bersih tapi rasanya asin dan rasa mentega.</p>
<p>aku kembali kekamarku, mbak urip juga kembali kekamarnya pas aku mau masuk kamar aku mendengar mbak siti sedang berjalan menuju kedapur untuk mencuci pakaian dan memasak karena waktu menunjukan jam empat pagi lebih,setelah beberapa ronde aku berhubungan istriku dan pembantuku mbak urip,aku baru<br />
bisa tidur pulas,</p>
<p>esok pagi aku bangun kesiangan,itu juga dibanguni istri untuk berangkat kekantor,sarapan sudah tersedia oleh istriku dimeja aku sarapan dengan rahap setelah sarapan aku langsung mau berangkat kantor,sampe didepan pintu tiba2 mbak siti senyum2 aku jadi terheran2 ada apa koq tiba2 mbak siti biasanya diam bisa tersenyum.</p>
<p>Cerita ini kami jadikan rahasia kami berdua, saya dan pembantu mulus saya itu terus melakukan seks disaat istri sedang tidak ada dirumah ataupun arisan. tentu tanpa sepengetahuan pembantu lain. Sekian cerita saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseks.ngocok.info/umum/mulusnya-tubuh-pembantuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
